Ilustrator oleh Luthfi Mahendra P.
Ratusan massa yang terdiri dari mahasiswa lintas kampus, organisasi buruh, komunitas masyarakat sipil, dan berbagai rakyat menggelar aksi demonstrasi dengan judul Aliansi Rakyat Memanggil di kawasan Jalan Affandi (Gejayan), Yogyakarta, Jumat (13/6). Aksi tersebut jadi ruang aspirasi sekaligus juga kritik terhadap berbagai kebijakan pemerintah yang dinilai belum sepenuhnya menjawab kebutuhan masyarakat. Sejak siang hari, massa mulai memadati ruas Jalan Affandi dengan membawa poster, spanduk. Secara bergantian, peserta menyampaikan orasi yang menyoroti persoalan pendidikan, kondisi ekonomi, pengelolaan anggaran negara, hingga sejumlah program pemerintah yang menuai kritik di tengah masyarakat.
Aksi berlangsung dengan tertib di bawah pengawalan aparat keamanan. Selain menjadi sarana penyampaian tuntutan dan kritikan, demonstrasi ini juga dimanfaatkan sebagai ruang diskusi publik yang menghadirkan berbagai pandangan dari mahasiswa, aktivis, hingga organisasi buruh. Dalam pernyataan sikap yang dibacakan selama aksi, massa menegaskan pentingnya mengawal kebijakan pemerintah dan memastikan negara hadir untuk menjamin kesejahteraan masyarakat. Berbagai tuntutan disampaikan sebagai bentuk respons terhadap situasi sosial, ekonomi, dan politik yang dirasakan masyarakat saat ini.
Ketua Perhimpunan Solidaritas Buruh (PSB) Yogyakarta, Giyanto, yang turut hadir dalam aksi tersebut menilai bahwa persoalan utama yang perlu mendapat perhatian pemerintah adalah pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Menurutnya, anggaran negara seharusnya digunakan untuk sektor-sektor yang benar-benar memberikan dampak langsung bagi masyarakat luas. “Prioritas hari ini adalah pengelolaan APBN yang betul-betul digunakan untuk hal yang strategis. Yang paling utama adalah aspek pendidikan dan pembangunan ekonomi kerakyatan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pembangunan ekonomi tidak boleh hanya berorientasi pada proyek besar yang menempatkan masyarakat sebagai objek pembangunan. Sebaliknya, negara harus mampu mendorong masyarakat menjadi subjek utama yang berdaya dan memiliki kesempatan untuk berkembang.
Menurut Giyanto, masyarakat Indonesia pada dasarnya memiliki kemampuan dan potensi yang sangat besar. Namun, potensi tersebut sering kali tidak mendapatkan ruang yang cukup untuk berkembang melalui kebijakan yang berpihak kepada rakyat.“Rakyat itu cerdas, kaum tani cerdas, kaum buruh pun cerdas semuanya. Tetapi mereka memang tidak dicerdaskan. Memang dibodohkan agar ikut menurut apa yang akan mereka inginkan,” katanya.
Dalam pandangannya, investasi pada sektor pendidikan akan memberikan dampak jangka panjang yang lebih besar dibandingkan program-program yang bersifat populis dan hanya berorientasi pada pencitraan. Ia mencontohkan bagaimana negara-negara maju mampu berkembang karena menempatkan pendidikan dan ilmu pengetahuan sebagai prioritas pembangunan.
Selain menyoroti persoalan pendidikan dan ekonomi, Giyanto juga memberikan tanggapan terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang belakangan menjadi sorotan publik. Ia menilai berbagai kasus keracunan yang terjadi dalam pelaksanaan program tersebut menunjukkan perlunya evaluasi menyeluruh dari pemerintah. “Iya kemunduran sekali. Kalau kita menghargai kemanusiaan, satu orang punya keracunan, kita merasa bersalah dan sedih kalau kita punya rasa kemanusiaan,” ujarnya.
Menurutnya, keselamatan masyarakat, terutama anak-anak sebagai penerima manfaat program, harus menjadi perhatian utama dalam setiap kebijakan yang dijalankan pemerintah. Ia menegaskan bahwa setiap permasalahan yang muncul tidak boleh dianggap sebagai hal yang biasa karena hal ini menyangkut keselamatan warga negara. Sepanjang aksi berlangsung, massa terus menyampaikan berbagai tuntutan melalui orasi dan pembacaan pernyataan sikap. Beberapa peserta juga membentangkan poster yang berisi kritik terhadap kondisi ekonomi, pendidikan, dan arah kebijakan pemerintah. Sorak-sorai peserta aksi sesekali menggema di sepanjang Jalan Affandi sebagai bentuk dukungan terhadap tuntutan yang disampaikan.
Aksi Aliansi Rakyat Memanggil di Gejayan menjadi cerminan bahwa ruang demokrasi masih dimanfaatkan masyarakat untuk menyampaikan aspirasi dan kritik terhadap pemerintah. Melalui tuntutan yang disuarakan, peserta berharap pemerintah dapat lebih memprioritaskan pendidikan, memperkuat ekonomi kerakyatan, serta menjalankan berbagai program publik dengan perencanaan yang matang dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian, pembangunan tidak hanya berfokus pada pertumbuhan, tetapi juga pada peningkatan kualitas hidup rakyat secara menyeluruh.
Narasi Oleh Fikri Raffi A.D., Rehan Kurnia P.