Ilustrasi oleh Luthfi Mahendra P.
Aksi unjuk rasa mahasiwa uii yang diikuti oleh puluhan mahasiswa menuntut dan mendesak agar program program pemerintah yang kurang efisien untuk di perbaiki, Aksi di gelar di Kawasan titik 0 km , Yogyakarta, Senin (15/6). Aksi orasi mahasiswa uii juga dilakukan di hari yang sama dan tujuan yang kurang lebih sama dengan Lokasi berbeda yang digelar Di Auditorium Prof. K.H. Abdul Mudzakkir.
Dalam aksi tersebut mahasiswa uii melakukan tuntutan terhadap sistem pemerintah yang di nilai belum cukup baik ataupun belum berjalan dengan sebagaimana semestinyaa, menurut mahasiwa program yang sudah berjalan saat ini banyak merugikan Masyarakat, seperti nilai BBM yang meningkat drastis, Nilai rupiah yang melemah. Tuntutan ini di orasikan di Kedua Lokasi tersebut.
Kedua Aksi tersebut sama sama mendesak agar program program yang merugikan Masyarakat segera di hentikan dan harus di perbaiki secara menyeluruh, Agar negara menjadi lebih baik untuk kedepannya. Berbagai isu yang menjadi tuntutan mahasiswa, narasumber menilai beberapa kebijakan pemerintah perlu segera dievaluasi, seperti Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih, serta keterbukaan informasi terkait revisi UU TNI dan Polri. Selain itu, pemerintah juga diminta memastikan ketersediaan BBM subsidi agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi di tengah fluktuasi harga energi global
Menanggapi Program Makan Bergizi Gratis (MBG), narasumber dari DPM FTSP UII menilai program tersebut tidak harus dihentikan, namun perlu dilakukan evaluasi secara menyeluruh agar pelaksanaannya sesuai dengan tujuan awal yang telah ditetapkan pemerintah. Menurutnya, evaluasi diperlukan untuk memastikan manfaat program benar-benar dapat dirasakan oleh masyarakat secara optimal. “MBG ini memang sepenuhnya harus dievaluasi. Evaluasi dalam artian kalau memang tujuan dari program MBG ini bagus, maka dievaluasi agar dampaknya itu benar-benar bagus seperti yang ditujukan,” ujar syauqi koordinator bidang eksternal LEM FTSP UII saat diwawancarai.
Aksi di km 0 juga memberi ulasan dan tanggapan yang tidak jauh berbeda “lebih tepatnya itu bukan menghapus MBG dari tuntutan itu, tetapi lebih mengkoordinir dan lebih mengatur dari sistematika struktural dari MBG tersebut. Yang artinya, bahwa keperaturan MBG itu dari sisi struktural itu masih kurang baik” Ujar sultan mahasiswa uii dari Fakultas Hukum
Dapat dilihat bahwa kedua pendapat tersebut memiliki tujuan yang sama, lantas mengapa aksi di adakan secara terpisah? Menurut ketua komisi 2 DPM FTSP UII Rafi Alwifari mengatakan “Untuk pergerakan yang dilakukan KM UII yang benar keluarga mahasiswa itu ada di Kahar, karena itu sepakat seluruh DPM di UII. Terus juga yang kedua kenapa berbeda, untuk pergerakan yang di Titik 0 itu juga sudah diumumkan oleh DPM Universitas bahwa itu bukan tanggung jawab dari seluruh DPM. Itu full pergerakan dari Fakultas Hukum dan FBE, jadi bukan untuk mewakili keluarga mahasiswa, tapi lebih tepatnya keluarga mahasiswa fakultas.”
Menanggapi munculnya dua aksi mahasiswa UII pada hari yang sama, narasumber menjelaskan bahwa keduanya merupakan gerakan yang berbeda secara organisatoris. Aksi di Auditorium K.H. Abdul Kahar Mudzakkir merupakan sikap resmi yang telah disepakati seluruh Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) UII, sedangkan aksi di Titik Nol Kilometer merupakan inisiatif mahasiswa Fakultas Hukum dan Fakultas Bisnis dan Ekonomika.
Di akhir wawancara, narasumber berpesan kepada seluruh mahasiswa agar tetap menjaga nama baik kampus dalam setiap kegiatan maupun penyampaian aspirasi. Ia menekankan bahwa reputasi yang telah dibangun dengan baik harus dijaga bersama.”Tolong tetap jaga nama baik FTSP UII. Karena menjaga itu lebih susah daripada membangun” Ujar rafi
Sebagai penutup, meskipun aksi mahasiswa UII pada 15 Juni 2026 dilaksanakan di dua lokasi berbeda, keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu menyuarakan kritik terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai perlu dievaluasi demi kepentingan masyarakat. Perbedaan lokasi aksi terjadi karena adanya perbedaan mekanisme organisasi dan ruang gerak masing-masing kelompok mahasiswa. Baik aksi di Titik Nol Kilometer maupun orasi di Auditorium Prof. K.H. Abdul Kahar Mudzakkir menunjukkan bahwa mahasiswa tetap berperan sebagai agen kontrol sosial yang menyampaikan aspirasi masyarakat secara kritis dan bertanggung jawab. Melalui aksi yang berlandaskan kajian, mahasiswa diharapkan dapat terus menjadi jembatan antara masyarakat dan pemerintah tanpa mengabaikan nama baik institusi yang mereka wakili.
Narasi Oleh Fikri Raffi A.D., Dafi Dzulfadhli H.