Bagikan Artikel ini:

Handry Satriago adalah seorang Chief of Executive Officer dari perusahaan General Electric Indonesia

Yang saya hormati, civitas akademik UII. Merupakan sebuah kehormatan buat saya untuk bisa berada di panggung ini dan berbagi dengan teman-teman di sini. Satu hal yang saya yakini dari kecil yaitu tugas seorang pemimpin adalah menciptakan pemimpin yang baru. The job of a leader is to create another leader. Oleh karena itu, pada kesempatan ini, saya mau berbagi kepada teman-teman terutama mahasiwa-mahasiwa baru mengenai tiga hal. Yang pertama adalah tentang dunia yang kita hadapi saat ini. Yang kedua tentang Indonesia dan situasinya di dunia yang semakin bergejolak. Dan yang ketiga adalah tentang kita, apa yang harus kita lakukan, sebagai pemimpin di Indonesia dan sebagai pemimpin diri kita sendiri. Mahasiswa baru, anda adalah pemimpin indonesia masa depan, di tangan anda terletak bagaimana posisi Indonesia yang dipertaruhkan di dunia yang tidak henti mengglobal. Dunia yang kita hadapi sekarang dikenal dengan istilah VUCA. Beberapa dari teman-teman mungkin sudah sangat kerap dengan istilah itu, V adalah Volatile yang artinya bergejolak. U-nya adalah uncertain atau tidak pasti. C-nya adalah complex karena dunia semakin mengglobal dan A-nya adalah ambiguous atau ambigu.

Saat ini kita banyak sekali membaca berita yang menggambarkan betapa dunia ini banyak sekali masalah. Mulai dari terorisme, bencana alam, kerusakan lingkungan dan sebagainya. Bapak-bapak dosen dan ibu-ibu dosen mungkin masih ingat bahwa berita kita waktu jaman delapan puluhan, kayaknya tidak se-ngeri sekarang dan dunia juga semakin tidak pasti. Dua tahun yang lalu, saya diberi kesempatan untuk bicara di forum oil and gas dunia. Pada saat itu harga minyak baru mulai turun, lalu saya bilang. Don’t worry, the oil price will increase again above one hundred. Apa yang terjadi, dua hari sesudah itu, harganya turun di bawah dua ribu Dollar US.

Dunia juga semakin kompleks, karena suatu hal yang terjadi di suatu negara pasti akan ber-impact kepada negara lain. Di dunia global ini, bencana-bencana yang serius pernah ditulis oleh Thomas Friedman dengan sebuah istilah The Golden Arches Theory. Kalau tidak salah saya sekitar akhir tahun delapan puluhan, dia menerbitkan buku dan dia menulis teori itu dalam bukunya. Teori-teori yang sudah dia sudah pahami. Dia bilang adalah di setiap negara, yang ada McDonald-nya, tidak akan mungkin terjadi perang. Tapi dia bilang bahwa McD itu adalah simbol dari globalisasi. Ketika McD itu ada dalam sebuah negara, maka rakyatnya akan sibuk bagaimana untuk membangun ekonominya di tengah dunia yang global yang saling berkait ini dan orang akan lupa untuk berperang. Nah, sejauh ini teori ini belum tentu dilakukan, yang pertama ketika Rusia menyerbu Georgia yang keduanya mempunyai McDonald dan yang kedua adalah ketika Palestina dan Israel yang kedua-duanya juga punya McDonald. Nah, begitulah dunia yang kompleks ini, kita saling berkaitan dan banyak sekali standar ganda yang dipakai orang seingga tidak bisa kita gunakan sebagai standar yang kita inginkan.
Dalam dunia bisnis, ketidakpastian dan standar ganda ini adalah kelompok yang paling menakutkan karena kita jadi tidak bisa membuat suatu deep planning. Orang-orang yang berumur di atas empat puluh tahun ini, kalau mau melakukan bisnis, kalau mau balik lagi ke akhir tahun 90-an, atau 80-an. Itu manajemen mencapai puncaknya dengan apa yang disebut strategic planning, karena memang gampang mem-planning-kan sesuatu dengan strategic. Lakukan apa yang bisa kita maksimumkan saat ini untuk kita planning-kan ke depan. Tapi, kalau sekarang, baru kita planning-in sekarang, nanti tiga bulan lagi sudah berubah lagi dan itu membuat anda susah sekali. Oleh karena itu, kita harus punya satu stadium baru bagi seorang leader, bagaimana dia bisa mencapai targetnya. Nah ini menjadi menarik, dua hal yang tidak mungkin tercapai dalam hidup, suka atau tidak suka, di sini teman-teman mahasiswa. This is your world now. Kita tidak bisa menunggu lagi dunia berubah seperti yang kita inginkan baru melakukan sesuatu. Harus dibalik sekarang, we have to be ready, kita harus siap, to face, untuk menghadapi dunia yang seperti ini. Pertanyaannya adalah, apa yang dibutuhkan agar kita mampu siap.

Ketika anda lahir, handphone sudah ada. Ketika saya seumuran anda, belum ada handphone. Saya masih ingat, handphone pertama kali yang saya pakai bukan karena saya punya uang atau gagah-gagahan, tetapi karena saya ditempatkan di pedalaman Kalimantan. Jadi mau tidak mau harus dipakaikan handphone, kira-kira sembilan puluhan. Handphone-nya Motorola DynaTAC, charging time-nya sepuluh jam sedangkan calling time-nya tiga puluh menit. Itupun berat dan harus ditaruh di samping anda. Tetapi sekarang, handphone sudah ada di tangan anda. Bahkan, jumlah handphone di Indonesia bisa lebih banyak dari jumlah penduduk di Indonesia. Karena setiap orang sekarang bahkan ada yang memiliki dua handphone.
Ketika saya seumuran anda, internet itu masih menggunakan kode dan nyambungnya setengah mati, kemudian, baru nyambung, putusnya gampang banget. Saya dulu punya artis idola, baru mau download gambarnya malah sudah hilang. Tetapi sekarang tidak, sekarang malah sudah ada GPS di handphone anda. Bahkan sekarang sudah punya sosial media, ada Facebook, Twittter, LinkedIn, Line, Instagram.

Kenapa ini mengakselerasi perubahan dunia, karena akses informasi begitu menjadi cepat, baik informasi yang benar ataupun yang tidak (hoax). Sebagai mahasiswa, anda dituntut mempunyai logika yang jernih dan mencari informasi sebaik mungkin sebelum anda me-repost apapun informasi yang ingin anda berikan. Anda harus mempunyai kebiasaan untuk berfikir jernih dan mencari informasi lebih dalam, lalu kemudian kalu perlu disebar, ya anda sebarkan.

Facebook itu punya 2,8 miliar pengguna di seluruh dunia saat ini, penduduk dunia saat ini sekitar tujuh miliar. Banyak sekali orang sekarang yang menggunakan Facebook. Dengan adanya Facebook, anda akan merasa terkoneksi. Nah, Facebook membuat orang semakin terkoneksi dan entah kenapa masyarakat di Indonesia dan Malaysia suka sekali meng-upload status yang menurut saya itu personal. Tapi sebenernya tidak apa-apa karena itu terserah anda. Ada status gini, bangun tidur, pinggang gua pegel. Who’s care? Mungkin tak ada juga yang peduli, tapi itulah yang dilakukan Facebook. Ini yang kemudian menghasilkan informasi yang menyebar sedemikian banyak dan ini membuat gejolak juga semakin besar.

2

Yang anda butuhkan adalah kemampuan menggunakan logika anda sejernih mungkin, menggunakan kemampuan anda sebagai seorang mahasiswa, mencari informasi sebanyak mungkin. Saya kasih contoh gini, Indonesia dikancah dunia berada pada indeks yang tidak terlalu bagus. Indeks tentang manusia, ranking kita masih di bawah, mungkin 30 besar paling bawah. Kemudian transparansi internasional, dulu kita juru kunci tetapi sekarang sudah naik walau masih tetap di bawah. Lalu Kompetitif Task Indeks, yaitu mengukur daya saing suatu negara dibandingkan dengan tingkat kemampuan, kenapa menjadi penting? karena suatu negara akan diukur pendapatan perkapita. Pendapatan saya, pendapatan teman-teman dan pendapatan negara. Apabila kita ingin liat apakah kita lebih makmur dibandingkan negara eropa, kita bisa lihat. Apabila kita ingin lihat apakah kita lebih makmur dari Thailand, kita bisa lihat.

Coba anda bayangkan sumbu X adalah tingkat kemakmuran, sumbu Y nya adalah tingkat daya saing. Hubungannya selama 23 tahun berturut-turut yang telah diteliti dan hubungannya adalah postif. Artinya, semakin tinggi daya saing suatu negara maka akan semakin tinggi tingkat kemakmur suatu negara. Lalu di mana posisi Indonesia, tahun ini kalau tidak salah kita diposisi empat puluhan, 46 atau 48 dari kurang lebih 170 negara. Problem-nya, apabila posisi kita terus-menerus selama sepuluh tahun maka negara kita akan konstan di sini sedangkan kita adalah negara yang sudah maju. Sumber daya alam kita sudah berlimpah, dibandingkan dengan negara tetangga seperti Vietnam, di atas kita, Thailand, di atas kita, Singapura masuk top five atau lima besar dan Malaysia sudah top twenty.

Kalau kita lihat negara Switzerland atau Swiss itu memproduksi cokelat, jam, dan juga pisau. Kalau kita lihat di peta, negara ini begitu kecil dan penduduknya juga sedikit. Saking kecilnya, dua kali perang dunia masih kena jajah. Mereka tak mampu menumbuhkan pohon coklat, tapi bagaimana mungkin negara yang tidak mungkin menumbuhkan pohon coklat bisa menjadi salah satu negara penghasil coklat terbesar di dunia. Nah, bagaimana dengan kita yang mempunyai sumber daya alam yang banyak tetapi tidak mempunyai daya saing yang kuat di dunia, ini yang terjadi.

Lalu tadi juga ada yang menyebut jam, kita ambil contoh. Carilah toko jam terbesar dan masuklah ke sana dan berlagaklah punya duit yang banyak, lha iya, karena kalau malu-malu nanti ngga dikasi kesempatan. Kalau anda sudah masuk lalu dengan tegas anda bilang, I want to buy a watch. Saya mau beli jam, ngga mungkin orangnya bawa nampan isinya jam. Yang pertama ditawarkan adalah jam yang fiturnya banyak, warna-warni, puteran-nya lah yang banyak, dan sebagainya. Kalau mau dikonversi ke mata uang kita, harganya kurang lebih lima juta atau lima puluh juta rupiah. Lalu anda bilang, No, it’s not my class. Kalau anda bilang itu maka pelayan itu akan menawarkan anda jam yang tidak lagi seperti yang pertama. Yang dijual selanjutnya bukan lagi fiturnya tetapi mereknya yang harganya bisa mencapai 35 juta rupiah hingga 500 juta rupiah. Lalu kembali anda bilang. No, it’s not my class. Maka setelah itu anda bilang begitu, anda akan dibawa ke sebuah ruangan yang semua orang tidak bisa masuk yaitu ke sebuah ruangan presentasi. Anda akan duduk di sofa yang enak sekali, dikasi makanan dan minuman yang enak luar biasa. Lalu akan ada dua orang yang membawa peti yang di dalamnya ada jam yang sangat mewah sekali dan datanglah Jenderal Manajer Sales yang merupakan orang yang jabatannya paling tinggi dan dia mulai menjual jamnya.

Manfaat yang diambil dari jam tangan itu adalah bagaimana kita mampu melakukan manajemen waktu yang baik dan benar. Tidak perlu memiliki jam tangan dengan harga hingga milyaran rupiah jika hal yang kita hasilkan tidak jauh lebih baik dari nilai jam tangan tersebut. Seperti cerita tentang teman bernama Mr. Mingx orang Cina yang menyukai jam tangan palsu. Jika ditanya, “Mengapa anda memakai jam tangan dengan model palsu?” dengan santainya mengatakan “Hey, my watch probably fake, but the time is real.”
Nah hal ini juga terjadi pada toko kopi kita yang paling enak di dunia yang di ujung pulau sumatera sana, banyak kedai kopi sana yang jual kopi the best in the world. Menurut saya dengan kopi-kopi yang gerainya banyak, ya di sini nih. Ya kan? Starbucks apa segala macam. Coffe mix. Mereka gak jual kopi, tapi teman-teman kita yang di Aceh jual kopi.

Nah, adalagi permasalahan yang terjadi pada toko kopi kita yang paling enak di dunia. Di ujung pulau Sumatera yang menjual kopi ‘the best in the world’ menurut saya. Sangat disayangkan ketika melihat gerai-gerainya banyak kalah saing dengan gerai-gerai luar seperti Starbucks dan segala macamnya itu. Padahal yang mereka jual pun tidak tentu juga sebuah kopi, tapi teman kita yang di Aceh itu yang benar-benar menjual kopi.

Disana segelasnya dijual tiga ribu lima ratus, mereka jual segelasnya empat puluh ribu. Yang laku, lima puluh ribu. Kaitannya apa? Semakin banyak perusahaan lokal di negara yang ada, pemain global, semakin tinggi tingkat daya saing tersebut. Korea selatan, dua puluh tahun yang lalu tidak masuk dalam dua puluh besar. Tahun ini mereka lagi melakukan ekspansi besar-besaran dan mejadi negara besar. Kenapa? Karena terkenal banyak model seperti Samsung, apalagi yang anda tau? LG, K-pop, Korean drama, Gangnam style, operasi plastik dan sebagainya. Dari sini kita dapat melihat, ketika sebuah perusahaan lokal mampu menjadi perusahaan global, disitulah titik penting sumber negaranya.

Itulah yang dibutuhkan oleh Indonesia, bukan hanya terus bergantung pada sumber daya alamnya saja. Banyak negara-negara yang tidak memiliki sumber daya alam yang cukup, namun mampu memiliki keahlian yang tinggi dikarenakan daya saingnya yang kuat. Adapun negara yang memiliki sumber daya alam yang berlimbah namun karena pengolahannya tidak high class maka mereka tetap tidak mampu bersaing, bahkan di dunia global.
1
Jika anda memperhatikan nilai ekspor di Indonesia selama tiga puluh tahun terakhir maka anda akan mengerti keresahan yang kita miliki. Karena selama tiga puluh tahun terakhir eksport kita tidak beranjak dari komunitas kelapa sawit, batu bara, karet, hasil tambang, begitu saja tidak ada perubahan yang cukup signifikan. Negara-negara lain yang sumber daya alamnya tinggi bahkan sudah bergerak jauh dan tidak bergantung ada sumber daya alam. Tapi masih mampu menghasilkan tingkat value yang bernilai tinggi.
Anda tahu perusahaan yang namanya lego? Dari Denmark, itu perusahaan mainan yang bikin mainan. Harga mainannya yang sekotak itu bisa empat ratus ribu, lima ratus ribu bahkan hingga satu juta rupiah. Mereka tidak jual mainan, tapi jual value. Kita bikin mainan, susah jualnya karena kalah bersaing dengan prodak dari Cina. Ya, jadi hal yang diperlukan Indonesia merupakan sebuah dobrakan baru. Anda sebagai pemimpin Indonesia di masa depan di harapkan lebih baik dari yang belakang.

Ketika saya diangkat jadi CEO tujuh tahun, banyak orang bertanya, “Pak kenapa sesudah sekian lama, perusahaan enerji ini ada di Indonesia, baru sekarang ada produk Indonesia jurusan Indonesia, division Indonesia.” Saya bangga bener jadi orang Indonesia, kedua orang tua saya sempat skor, beliau merantau ke kampung saya di pekan baru, di berbagai kota. SD saya di kampung, bahkan belum bisa dikatakan SD. Yang ada di kampung pasti tahu, SMA saya di lab school , kuliah S1 saya di bogor IPB, S2 saya di IPMI dan Monash University tapi kuliahnya di kalibata, S3 saya UI.

21 tahun saya berkarir di perusahaan GE ini dan delapan puluh persen saya habiskan di Indonesia. Jadi saya terbiasa dengan pendidikan di Indonesia. Tapi ketika bertanya di belakang saya terasa tertampar. Saya tidak merasa tertampar ketika teman-teman saya lebih baik dari saya. Teman-teman saya memang jauh lebih baik, namun yang buat saya tertampar adalah kenyataan bahwa banyak rakyat Indonesia yang tidak dipimpin oleh Indonesia. Apa yang salah dari kepemimpinan orang Indonesia?

Suatu hari bos saya datang dan saya pun bertanya, nama Jeffryn, “Jeff, kenapa tidak dari dulu anda memilih orang indonesia untuk menjadi CEO di Indonesia? Apa yang kurang?” Diluar dugaan saya, beliau sangat antusias dengan pertanyaan ini. Lalu dia mengatakan, “Hendry, kalian ini adalah orang-orang hebat. Setiap saya kasih tahu, anda bilang baik, setiap kita kasih perintah untuk menjalankan ini anda lakukan dengan baik, apapun yang kami minta dari anda akan selalu jawab ‘yes, you’re very good at saying yes,”
“But that’s the problem, you’re not good enough at saying no.” Anda tidak jago bilang tidak, begitu yang beliau katakana kepada saya. Dalam artian saya kan begini ya, bukannya kalau sama bos kita harus bilangnya ‘yes’? Kalau bilang ‘tidak’ kan dipecat, tapi diapun melanjutkan dan itu membuka pikiran saya. “Hendry, bila orang yang cuman bilang yes, bilang iya, tapi tidak memberikan feedback, tidak memberikan input, tidak memberikan view, maka hanya sekelas pekerja, jika menjadi pekerja maka akan selamanya menjadi pekerja terus.”

Orang yang harus dikasih arahan dulu, orang yang harus di kasih instruksi dulu baru jalan, sedangkan leader, pemimpin itu punya ide. Punya kepercayaan diri, bahwa bidang saya expert pada bidang yang saya lakukan sekarang. Ketika saya jadi CEO saya paksakan betul pentingnya berpikir kreatif dan memiliki ide. Karena tidak ada yang menentukan arahan-arahan di ruang rapat ketika andalah yang memimpin rapat dan yang ngomong hanya anda sendiri.

Ketika kita masuk dunia kerja, Indonesia butuh anak-anak muda yang berani berfikir kreatif. Kalau cara berpikir anda sama dengan cara berpikir generasi sebelum anda maka kita akan menghasilkan produk small karena anda akan menghasilkan generasi yang sama seperti anda. Satu-satunya cara memotong siklus ini, membuat Indonesia cepat lajunya adalah ketika anda mampu membuat perubahan terhadap diri anda. Karena jika anda berubah maka generasi di bawah anda akan mendapat tempat yang lebih baik.
If you change yourself, misalnya anda, anda membuka lembaran tim anda, anda berani mendengarkan masukan, anda berani berbeda pendapat, anda menghargai pendapat orang lain, maka dibawah anda akan menjadi lebih baik. Karena tujuan terakhir seorang leader adalah menciptakan leader lain. Berubahlah. Jangan ikuti lagi hal-hal yang tidak pas lagi untuk anda lakukan saat ini yang pernah dilakukan oleh generasi sebelumnya. Yang pas banget, tapi yang sudah tidak pas lagi anda anda harus ubah dan anda akan ubah generasi selanjutnya. Dan itu yang terjadi ketika kita bicara, leader create leader.

Kemudian saya coba liat, apa yang membuat kita sukar sekali untuk mengahasilkan leader. Rektor UII, banyak sekali teman teman anda, senior senior anda yang berprestasi. Beberapa dari mereka sudah melanglang buana, beberapa dari mereka ke pusat. saya pernah ke kampus ini, berdiskusi dengan tim mobil listrik, you have to do something better, kenapa, patokan nya beda lagi ketika dengan takaran mereka. Oleh karena itu, dibutuhkan kemampuan menghasilkan ide, bagaimana cara menghasilkan ide? Adalah jika anda mau jadi depan. The essence of management adalah asking the right boss… otak budaya kita tidak mengizinkan kita untuk bertanya.. ya mari kita bikin sendiri saja, sebisa mungkin untuk mencari budaya yang terbaik, agar orang tetep bisa dekat. Saya yakin anda disini punya lingkungan yang sangat baik untuk mengeluarkan itu.

Dua pertanyaan saja, Pertanyaan pertama adalah why? Kenapa, kita jago tanya why?? Bukan who. Pertanyaan kedua, Why not? Kenapa gitu? Itu juga penting. Itu pertanyaan dilematif. Semua penemuan besar lahir dari pertanyaan why not. Lampu itu lahir karena ada pertanyaan kalau main bola siang-siang kenapa ngga main bola malam-malam, pakai obor, gampang mati. Mulailah Thomas Alfa Edison membuat lampu, dan penemuan lain-lain, biasakan anda punya cara berfikir dengan cepat. Pada bagian terakhir, saya ingin membacakan sebuah surat. Surat ini saya tulis tahun 2012, anda bisa dapatkan surat ini di google, di sosial media, pada tahun 2012 majalah tempo meminta 95 orang untuk menulis surat untuk pemimpin indonesia masa depan, itulah kenapa saya bawa surat ini ada disini karena surat ini ditujukan buat kalian. Ada 95 orang yang menulis surat yang akan dibukukan dalam buku yang judulnya “Surat Dari Dan Untuk Pemimpin Indonesia” 95 orang itu antar lain Jokowi, Susi Susanti, Crish John, Gus Mus, Sri Mulyani, 95 orang, saya temasuk salah satu yang diminta mengisi. Dan untuk menutup kuliah perdana ini, saya ingin membacakan surat ini, mudah mudahan ada gunanya untuk anda semua, harapan saya Cuma satu hadirn lupakan anda berbeda, tetapkan anda jadi leaders. Yang kedua, Tugas seorang peminpin adalah menghasilkan pemimpin pemimpin lain, and then kita akan memimpin Indonesia kedepan.

Jakarta 9 Juni 2012
Kepada para pemimpin Indonesia masa depan
Di manapun Anda berada
Di dunia yang semakin global
Saat saya menulis surat ini kepada Anda, dunia yang saya huni ini mampu
membuat 112 buah mobil dalam 1 menit, menerbangkan orang non-stop
dari Singapura ke New York dalam 18 jam, dan menghasilkan produk
“Made in The World” seperti celana jeans yg saya pakai sekarang. Karena,
walaupun saya beli di Bandung dan berlabelkan “Made in Indonesia”,
celana ini melibatkan lebih dari 15 negara dalam value chain
pembuatannya.
Malam ini, ketika surat ini saya ketik dengan komputer yang mampu
mengumpulkan 411 juta informasi dalam 0.23 detik untuk pencarian kata
“leadership”, saya membayangkan keterbatasan mencari pengatahuan yg
dihadapi ayah saya, saat mimpinya untuk sekolah sirna karena perang
yang berkecamuk. Saya memikirkan daya apa yang dimilikinya, sehingga
dia berani mendobrak keterbatasannya dengan merantau dan berjibaku
untuk survive di berbagai kota di Sumatera hingga akhirnya sampai di
Jakarta, Tidakkah dia takut dengan keterbatasannya?
Usianya baru 15 tahun saat itu, dan hidup tidak berjalan seperti yang dia
inginkan.
Saya juga terkenang dengan peristiwa mengerikan yang saya hadapi
sendiri pada tahun 1987, ketika saya tiba-tiba divonis menderita kanker
lymphoma non-hodkin- kanker kelenjar getah bening, yang tumbuh di
medulla spinalis saya dan merusaknya sedemikian rupa sampai saya
kehilangan kemampuan untuk berjalan. Bulan-bulan yang melelahkan
karena harus berobat ke sana ke mari, dan akhirnya berujung kepada
keharusan menjalankan hidup dengan menggunakan kursi roda. Saya
ingat betul betapa takutnya saya untuk menjalani hidup saat itu.
Keterbatasan menghadang di banyak hal.
Usia saya baru 17 tahun waktu itu, dan hidup berjalan jauh dari yang saya
harapkan.
Apa yang bisa dilakukan ketika keterbatasan seakan menjelma menjadi
tembok besar dan ketakutan adalah anak panah berapi yang terus
dilontarkan kepada kita sehingga kita tidak berani maju dan terus
mundur?
Saya, dan mungkin juga ayah saya waktu itu, memulainya dengan
menerima kenyataan. Menerima bahwa jalan tidak lagi mulus, bahwa
lapangan pertempuran saya jelek, dan amunisi saya tidak lengkap.
“Reality bites” kata orang. Betul itu. Tapi menerima “gigitan” itu berguna
untuk membuat kita mampu menyusun strategi baru. Menghindarinya
atau lari darinya justru membuat kita terlena mengasihani diri kita terusmenerus
dan menenggelamkan kemampuan kita untuk dapat melawan
balik.
Kemudian saya mengumpulkan kembali puing-puing mimpi saya. Tidak!
Mimpi tidak akan pernah mati. Manusia bisa dibungkam, dilumpuhkan,
bahkan dibunuh, tapi mimpi tetap akan hidup. Ketika keterbatasan dan
ketakutan melanda, mimpi kita mungkin pecah, runtuh, dan berserakan,
tapi tidak akan hilang. Dengan usaha keras, kita bisa menyusunnya
kembali, dan ketika mimpi telah kembali utuh, ia akan hidup, menyala, dan
memberikan cahaya terhadap pilihan jalan yang akan ditempuh untuk
mewujudkannya.
Dua puluh enam tahun menjalani kehidupan dengan kursi roda membuat
saya semakin yakin bahwa Yang Maha Kuasa memang telah menciptakan
kita untuk menjadi makhluk yang paling tinggi kemampuan survival nya di
muka bumi ini. Kita diberikan rasa takut, yang merupakan mekanisme
primitif yang dimiliki organisme untuk survive, yaitu keinginan untuk lari
dari ancaman, atau… melawannya!. Ketika pilihannya adalah melawan,
maka perangkat perang telah disiapkanNya untuk kita. Perangkat itu
terwujud dalam kemampuan bouncing back—daya pantul, yang jika
digunakan mampu membuat kita memantul tinggi ketika kita
dihempaskan ke tanah. Kitalah yang bisa membuat daya pantul itu
bekerja. Jika kita tak ingin melawan, perangkat perang tersebut bahkan
tidak akan hadir.
Berpuluh kali, atau beratus kali atau mungkin beribu kali saya diserang
rasa takut ketika menjalani kehidupan dengan kursi roda ini. Ketika
membuat pilihan kembali ke sekolah, ketika menyeret kaki untuk menaiki
tangga bioskop agar bisa menemani wanita pujaan menonton, ketika
memutuskan untuk kuliah, ketika menghadapi 4 lantai untuk bisa
praktikum kuliah, ketika harus menjalani kemoterapi, ketika memulai
bekerja, ketika naik pesawat, ketika akhirnya bisa ke luar negeri, ketika
melamar calon istri, ketika mulai bekerja di GE yang penuh dengan orang
General Electric International Operations Company, Inc.
asing, ketika menerima tawaran untuk mempimpin GE di Indonesia….Saya
takut. Tembok besar berdiri tegak, angkuh, dan ribuan panah berapi
menghujami saya.
Namun seiring dengan rasa takut yang timbul tersebut, mimpi saya untuk
dapat menjalankan dan menikmati hidup menerangi jalan yang ingin saya
tempuh. Dan ketika perangkat perang—semangat untuk memantul, saya
gunakan, saya seakan menjelma menjadi jenderal yang siap perang, yang
didukung oleh ribuan pasukan—keluarga, teman, bahkan orang yang tak
dikenal, yang tiba-tiba hadir karena mereka percaya terhadap keyakinan
saya. Saya maju berperang, dengan keyakinan bahwa peperanganlah
yang harus saya jalani, saya nikmati. Hasil peperangan sendiri tidaklah
terlalu penting, karena kalaupun kalah, toh saya akan berperang lagi.
Kalau mati, saya akan mengakhiri perang dengan senyum, karena saya
tahu saya telah berjuang dengan sebaik-baiknya. Sang Pencipta lah yang
pada akhirnya memilihkan hasil dari perjuangan kita.
Menjadi pemimpin bermula dari memimpin diri sendiri. Mewujudkan
mimpi yang ingin dicapai. Tidak perlu membayar orang untuk menjadi
pengikut. Jika mereka melihat anda dengan penuh keyakinan berani
mempimpin diri anda sendiri, mereka akan mengikuti dan membantu anda
dengan tulus, serta percaya pada kepemimpinan anda.
Saat saya menulis surat ini kepada Anda, dunia tempat saya hidup
sekarang ini menghasilkan pendapatan kotor setahun $70 triliun. Sekitar
40% dari pendapatan dunia tersebut dihasilkan oleh 500 korporasi
terbesar dunia, dan tidak ada satu pun yang berasal dari Indonesia (133
dari Amerika Serikat, 79 dari China, 8 dari India). Terdapat sekurangnya
136 negara yang berkompetisi di dunia ini untuk mendapatkan
keuntungan terbanyak dari proses ekonomi global, dan daya saing
Indonesia terukur pada ranking 46. Singkat kata, kita masih belum
menjadi pemeran utama di panggung dunia yang tak berhenti
mengglobal.
Pekerjaan rumah anda sebagai pemimpin Indonesia tidaklah mudah.
Tidak berarti, tembok besar dan ribuan panah api bisa menghentikan
langkah anda untuk berperang.

Terimakasih..

Bagikan Artikel ini: