Bagikan Artikel ini:

“Laki-laki kok mulutnya kayak cewek, pake rok aja lu!”

“Laki-laki kok suka nangis? Banci ya?”

“Cewek kok bangunnya siang, dasar pemalas.”

“Cewek kok merokok, pasti cewek nakal.”

Tidak satu dua kali saya ─mungkin juga pembaca─ membaca komentar seperti di atas di sosial media. Bahkan, beberapa kali juga saya mendengarnya langsung, dari mulut beberapa teman mahasiswa. Komentar di atas merupakan contoh dari seksisme, sebuah bentuk kebencian yang diumbar berdasarkan jenis kelamin. Sayangnya, yang kerap melakukannya datang dari orang-orang berpendidikan, contohnya mahasiswa. Seksisme terkadang bisa juga terjadi tanpa disadari oleh si pelaku, baik disengaja maupun tidak disengaja, seperti yang pernah dilaporkan oleh The Smithsonian American Art Museum. Pada tahun 2011, lembaga tersebut pernah melakukan survei tentang karya seni di Amerika yang menunjukkan bahwa terdapat 5.193 patung di ruang publik, di mana sejumlah 394 dari patung yang ada menunjukkan gender perempuan.

Lalu, apa sebenarnya seksisme? Dalam jurnal milik Nadiatus Salama yang berjudul Seksisme dalam Sains, seksisme (sexism) merupakan suatu bentuk prasangka atau diskriminasi kepada kelompok lain hanya karena perbedaan gender atau jenis kelamin. Ya, seksisme bukan hanya soal komentar di sosial media ataupun perkataan secara langsung. Bila kita mendiskriminasi gender tertentu dalam pikiran, kita tetap seorang seksis.

Baca juga: Sarjana di Atas Sarjana

Tanpa kita sadari, seksisme ada dalam kehidupan kita sehari-hari dalam bentuk yang berbeda-beda. Persepsi, penyampaian secara verbal, atau perilaku kita bisa jadi merupakan bentuk seksisme. Yang lebih mengerikan lagi, berdasarkan penelitian dari UNESCO, seksisme ternyata ditemukan di buku pelajaran. Buku-buku pelajaran sekolah ─disadari atau tidak─ melemahkan peran perempuan dengan menggiring persepsi bahwa perempuan hanya perlu menikah dan merawat anak. Sebaliknya, laki-laki seharusnya memiliki cita-cita tinggi, khususnya dokter. Persepsi-persepsi lain yang kerap diberikan pada anak-anak adalah laki-laki yang sering menangis dan cerewet pantas disebut banci, perempuan yang mengenakan pakaian terbuka dan merokok adalah bukan perempuan baik-baik, pengemudi perempuan pasti membahayakan, dan banyak hal sederhana lainnya yang mengantar anak-anak menjadi sosok seksis. Persepsi ini kemudian akan berkembang menjadi komentar bernada kebencian ketika anak-anak tumbuh dewasa. Bahkan, untuk bersikap melecehkan, membenci, atau mendiskriminasi pun tidak ragu dilakukan karena kurangnya pengetahuan tentang seksisme itu sendiri. Buktinya, studi dari Advertising Week and Foresight Factory menyimpulkan sebanyak 23% perempuan dan 44% laki-laki tidak percaya bahwa seksime itu ada.

Tidak hanya berpengaruh buruk terhadap kehidupan sosial, seksisme juga menandakan adanya gangguan psikologis. Studi terbaru dari Asosiasi Psikologi Amerika (APA) menyimpulkan, laki-laki yang setuju terhadap norma seksisme cenderung memiliki kesehatan mental yang buruk seperti stress, depresi, isu kekerasan, dan citra tubuh yang negatif.

Oleh karenanya, perlu ada pemberian pemahaman terkait seksisme sejak dini melalui corong pendidikan. Sudah seharusnya keluarga dan pemerintah percaya pengetahuan tentang bentuk-bentuk kebencian sama pentingnya dengan matematika dan ilmu pengetahuan alam. Harapannya, tak ada lagi mahasiswa atau orang-orang berpendidikan lainnya yang bangga meneriakkan kalimat penuh kebencian hanya karena dia laki-laki atau perempuan. Mari mulai menjadi agen perubahan sejak dalam persepsi.

Bagikan Artikel ini: