Bagikan Artikel ini:

Perkuliahan merupakan sarana pendidikan tingkat atas guna mencetak intelektual muda yang kreatif, innovatif, dan pembaharu. Model pendidikan dengan ciri khas masing-masing universitas dalam mengemas sistem menjadi daya tarik tersendiri.

Budaya bersaing secara sehat baik dalam hard skill maupun pengembangan soft skill menjadi hiasan keseharian untuk mewujudkan tujuan tertentu. Perjalanan ini secara fakta dilakukan oleh para mahasiswa pencari ilmu guna mematangkan pemikirannya. Lebih kurang selama empat tahun bahkan lebih para pencari ilmu tersebut berkutat dengan kegiatan sehari-hari yaitu bermesraan bersama teori, bercengkrama dengan analisis, dan berta’aruf pada disiplin ilmunya di dunia nyata.

Kebersamaan itulah yang membuat para aktor pemimpin bangsa berproses dan secara husnuzon pasti mereka menginginkan amanah oleh ilmunya dan berguna bagi bangsanya. Setidaknya para punggawa muda itu tahu bahwa ilmu berasal dari Sang Ilahi diturunkan melalui sekelompok masyarakat dan di implementasikan kembali oleh kepentingan masyarakat.

Hal inilah yang perlu dipahami agar mindset kuliah hanya mencari tuangan tinta rektor di sehelai kertas dan acc dari dosen pembimbing untuk bisa dibawanya memakai baju serba hitam dan topi segi lima tidak menjadi kejaran semata. Bukan hanya sekedar penambahan gelar di belakang nama asli akan tetapi sudah seharusnya mengerti tentang amanah yag akan dijalani.

Beragam cara dilakukan setelah calon intelektualis muda dibaiat menjadi sarjana atau sebenar-benarnya intelektualis. Sebagian dari mereka ada yang mempunyai angan ingin bekerja di suatu perusahaan nan megah, menjadi bagian dari negara, atau berwirausaha. Hal demikian sangatlah wajar dikarenakan setiap orang memiliki mimpi masing-masing.

Titik berat yang perlu diingat adalah selalu amanah terhadap ilmu yang didapat dan tahu apakah itu berdampak buruk atau baik. Tidak hanya sekedar mengais rezeki akan tetapi tanggung jawab keilmuan tertanam di dalam diri.

Sudah seharusnya kampus dan lembaga mahasiswa menerapkan kurikulum pendidikan untuk menajamkan nilai integritas dan suara hati. Jangan hanya berfikir praktis tanpa merumuskan tujuan sistesmatis, mungkin itulah penyebab lahirnya intelektual apatis. Konsep- konsep seorang berpendidikan yang berani, mumpuni, dan mengabdi untuk kebenaran yang hakiki perlu ditingkatkan, guna membangun generasi bermental baja dan tidak korupsi.

Produk “PKB” (Pinter, Kober, Bener) dalam istilah Jawa mempunyai makna tajam di mana seorang intelektualis harus pintar dalam segi apapun, amanah untuk mendedikasikan ilmunya, dan benar dalam bertindak. Konsepsi selanjutnya kita sebagai generasi penguat NKRI sudah semestinya sebagai agen “PPP” (percontohan, pendidikan, dan pengawasan) di dalam elemen apapun. Berdaulat sebagai role model di tengah-tengah masyarakat atau di lingkungan pekerjaan untuk tujuan kebenaran.

Maka dari itu, perlu semuanya mawas diri, apa yang sudah kita berikan kepada sekitar kita? Dan apa apa langkah selanjutnya untuk menjadi aparatur jihad negara untuk menjadikan NKRI bagai harimau dan singa yang tajam taringnya? Mari kita lakukan bersama sesuai dengan konteks keahlian dan kemahiran masing-masing.

 

*Maulana Arif Rahman Hakim merupakan alumni Teknik Lingkungan angkatan 2012

Bagikan Artikel ini: