Bagikan Artikel ini:

penyampaian materi untuk pendidikan karakter

(SOLIDpress.co, Kampus Terpadu) Pesona Ta’aruf (Pesta) merupakan agenda tahunan Universitas Islam Indonesia (UII)  dalam rangka menyambut mahasiswa baru. Tahun ini Pesta dilaksanakan selama dua hari.  Selain sebagai ajang penyambutan mahasiswa baru,  acara  ini juga dijadikan momen pengenalan bagi mahasiswa baru terkait visi UII yaitu terbinanya  mahasiswa sebagai insan Ulil Albab.

Menurut Aldhi Setiawan, ketua Dewan Permusyawaratan Mahasiswa (DPM)  periode 2015-2016,  setidaknya ada 4 hal yang harus ditanamkan kepada mahasiswa agar mencapai karakter insan  Ulil Albab, yaitu mu’abbid (tekun beribadah), mujtahid (mengaplikasikan ilmu), mujahid  (pejuang), dan mujaddid (pembaharu).

Selain itu, dari sisi psikologi Pesta juga merupakan salah satu alat pembentukan identitas diri.  Menurut Arief Fahmi, Dekan Fakultas Psikologi Sosial dan Budaya (FPSB), sekarang ini mahasiswa  baru sedang dalam masa proses transisi, ”Kalau dalam proses tersebut diisi hal yang positif, insya  Allah akan menjadi pondasi yang kuat untuk proses berikutnya,” tuturnya. “Tapi kalau dia merasakan pengalaman buruk, hal-hal negatif, dia merasa tidak suka dengan  aktifitas  awal, maka dia akan  mempunyai konsep  yang negatif terhadap mahasiswa UII,” tambahnya

BACA JUGA: Manajemen Aksi di Pesta 2016

Wakil Rektor III Universitas Islam Indonesia, Abdul Jamil menjelaskan ada tiga hal yang perlu  diberikan kepada mahasiswa baru saat pengenalan kampus. Yang pertama nilai khirrah seorang  mahasiswa. Dia mengatakan “Ini kan masa transisi, artinya bahwa ada perubahan dari SMP, SMA  yang serba dituntun dan sebagainya, nah ini kan mandiri, khirrah, untuk belajar supaya dia lebih  mandiri, bagaimana dia bisa berbuat mandiri.”

Kemudian yang kedua ialah bisa memberikan pesan-pesan moral. Pesan moral yang  dimaksud  ialah muatan-muatan nilai agama.  Menurutnya, UII sebagai kampus Islam haruslah mencerminkan nilai-nilai Islam pula. “Bagaimana adek-adek sudah mulai dikenalkan  cara berpakaian, cara bergaul, perilaku keseharian bagaimana kalau ada adzan, ”Tutur pria yang lahir di Gresik tersebut. Yang terakhir, nilai-nilai idealisme seorang mahasiswa  harus dikenalkan sejak dini untuk memberikan penguatan gambaran kemahasiswaan.

BACA JUGA: Insan Ulil Albab: Tak Terbentuk Dalam 2 Hari

Eko Prasetyo, ketua Social Movement Institute (SMI) mengingatkan akan pentingnya pendidikan  karakter yang berkelanjutan. Menurutnya, pendidikan karakter tak dapat dilakukan hanya dalam  waktu singkat.  “Saya rasa, soal ospek harus ada kegiatan-kegiatan tambahan,  harus ada pendampingan, organisasi mahasiswa harus terlibat banyak,  mahasiswa kemudian diperkaya dengan kegiatan lanjutan dari ospek itu,” ungkap pria yang juga mengunggah tulisannya soal ospek ini. Menurutnya, peran lanjutan ospek ada di organisasi mahasiswa, bukan di kuliahnya.

Ketika Eko ditanya tentang kultur dan lingkungan seperti apa saja yang dapat mendukung  pendidikan karakter di kampus, dia menjawab, “Kegiatan-kegiatan akademik yang diperbanyak,  kemudian diskusi yang diperkaya, itu akan mempengaruhi  pendidikan karakter di kampus.  Saya rasa UII bisa memerankan itu dengan memperbanyak  diskusi, kajian, kehidupan organisasi.  Nah itu yang akan mempengaruhi dinamika karakter di  kampus.”

Dalam konteks UII, menurut  Abdul Jamil, yang kerap disapa ayah oleh para mahasiswa ini,  secara keseluruhan kultur dan lingkungan belum sepenuhnya ideal untuk pengembangan karakter  tersebut.  “Kalau dalam konteks bidang kemahasiswaan sudah ada. Nanti ‘kan ini ada pola  pendampingan, beda dengan tahun yang lalu, tahun lalu gak ada pendampingan. Untuk tahun ini  saya buat pendampingan mungkin dua tahun.” Pendampingan selama dua tahun tersebut meliputi  keagamaan, karakter, dan bagaimana menjadi seorang mahasiswa. Yang menjadi kendala ialah  masih ada beberapa lembaga yang belum mendukung pengembangan karakter tersebut.

Dari legislatif terpilih periode 2016-2017 sendiri telah merencakan beberapa strategi agar dapat  menjaga nilai-nilai karakter yang diberikan saat Pesta. Indra Putra Teguh selaku presidisium I  DPM mengatakan, ”Mungkin, kita akan mengeluarkan kebijakan-kebijakan seperti contohnya  saat verifikasi nanti kita harus cerminkan,  seorang cendekiawan muslim itu seperti apa. Terus juga dalam setiap kegiatan-kegiatan yang dilakukan lembaga itu  kita harus memberikan  peraturan kepada mereka.”  Menurutnya, segala kegiatan mahasiswa harus  mengusung visi  dari UII secara keseluruhan.

Di sisi lain, bila meninjau dari realita mahasiswa beberapa tahun belakangan ini, menurut Maulana  Arief Hakim, wakil ketua DPM periode 2015-2016, mahasiswa sekarang ini kurang peka. “Namun  saya kembali lagi dengan kepekaan mahasiswa itu, datang diskusi sudah tidak suka, bahkan  diskusi sesuai dengan disiplin ilmunya saja dia tidak suka untuk datang. Hanya suka masuk  ruangan kampus hanya kuliah, mendapatkan nilai A, enough,” tutur mahasiswa Teknik Lingkungan angkatan 2012 itu.

Saat Eko Prasetyo ditanya mengenai hal-hal apa saja yang menghambat pendidikan karakter, dia  menjawab, “Ya lingkungan, kultur, biaya sekarang semakin mahal ya, orang tua selalu ingin anaknya cepat selesai. Kampus juga membatasi waktu kuliah, itu mempengaruhi sekali. Karena  biaya kuliah mahal, waktu kuliah makin sempit, ya anak kemudian memilih pragmatis.”

Berkaitan dengan lingkungan dan kultur di UII, Menurut Aldhi Setiawan, sebenarnya sudah  mendukung, namun untuk proses pembentukan Ulil Albab memang membutuhkan waktu. “Nah  nuansa itu saya kira belum semuanya bisa kita wujudkan, karena memang itu karakter yang  sangat tinggi. Dia (karakter-red) adalah puncak daripada insan. Nah, maka dari itu cara kita  menuju ke sana itu menurut saya sudah kita lakukan dan budaya itu pelan-pelan memang itu kita  terus tumbuhkan insan Ulil Albab,” ungkap mahasiswa Ilmu Hukum tersebut.

Di lain sisi, Abdul Jamil menambahkan akan pentingnya menggenjot lembaga kemahasiswaan baik  internal maupun eksternal untuk menumbuhkan karakter. “Makanya saya heran, mau ada  lembaga ekstra masuk gak boleh, ini gak boleh. Justru itu tempat penggemblengan untuk karakter mahasiswa,” tuturnya.

Menurut Dimas Panji, selaku ketua Lembaga Eksekutif Mahasiswa (LEM) UII 2015-2016, perlu  adanya  pengenalan isu internal dan eksternal yang ada di UII saat Pesta, karena ranah gerak  lembaga bukan hanya internal UII. Sedangkan untuk merawat semangat, menurut mahasiswa  Ekonomi Islam tersebut, perlu adanya kolaborasi kolektif lembaga di tingkat universitas bersama  fakultas. “Sama-sama kita gerakkan, bukan hanya fakultas saja ya, termasuk lembaga eksekutif  mahasiswa universitas, itu tanggungjawab utama. Tapi setidaknya bisa kolaborasi secara efektif,”  imbuhnya.

Terakhir, Abdul Jamil mengharapkan mahasiswa baru agar lebih kritis dalam segala sesuatu,  termasuk bidang akademik. “Kalau ada dosen yang gak bener, sikat! Protes. Saya belum pernah  mendapatkan protes dari mahasiswa tentang perilaku dosen, tolong saya sekarang ini diberi,” imbuhnya. “Jadi, mari mahasiswa itu kritis. Kritis sosial, kritis internal, kalau memang perlu ada yang  dikritik,” tutupnya.

Berita ini ditulis oleh Muhammad Izmul Ruliazmi, anggota magang LPM SOLID.

Bagikan Artikel ini: