Bagikan Artikel ini:

Pagi ini Naya bersemangat sekali. Di Minggu pagi ini, sekolah Naya akan mengadakan pemanenan buah di kebun sekolah. Salah satu hal yang membuat Naya sangat menyukai sekolahnya adalah kebunnya. Di sekolah Naya, terdapat sebuah kebun buah yang boleh dipanen oleh siswa di waktu-waktu tertentu dengan syarat siswa juga ikut merawatnya. Sebelumnya, Naya sudah menandai salah satu pohon jeruk yang kelak akan dipanennya.
Ayah tersenyum mengamati Naya yang sedang asyik mengikat rambutnya.

“Ayo, Ayah antar ya.” Ayah meletakkan surat kabar yang sudah dibacanya.
Naya menoleh, lalu tersenyum sambil menggeleng.

“Enggak ah, Yah. Naya mau jalan. Biar Naya bawa jeruknya sendiri,” jawab Naya.
Ayah mengangguk-angguk bangga.

“Naya berangkat dulu, Yah. Bu, Naya berangkat!” seru Naya pada Ibu yang sedang menyapu lantai rumah.

Ayah geleng-geleng kepala melihat Naya yang langsung berlari pergi. “Hati-hati, Naya!” teriak Ayah yang hanya dibalas oleh lambaian tangan Naya.

Sesampainya di sekolah, Naya bergegas menuju ke kebun yang berada di bagian belakang sekolah. Di sana sudah banyak siswa ditemani oleh beberapa guru.

“Naya baru datang? Ayo, panen buahnya!” sapa Bu Nuri, wali kelas Naya.

Naya tidak sempat menjawab karena perhatiannya tertuju pada siswa-siswa yang asyik memetik buah-buahan. Ia menyusuri kebun, mencari pohonnya. Alangkah terkejutnya Naya saat dilihatnya pohon jeruk miliknya tak berbuah. Naya sangat kecewa. Dilihatnya teman-temannya yang berhasil mengantongi pepaya dan mangga. Pohon jeruk milik beberapa teman Naya yang lain pun berbuah. Naya tidak mengerti.

“Ada apa, Naya?” tanya Bu Nuri, setelah dilihatnya Naya hanya berdiri mematung di dekat pohon jeruk.

“Pohon jeruk saya buahnya tidak ada, Bu,” jelas Naya dengan nada kecewa.

“Kemarin-kemarin kamu periksa ada buahnya?”

Naya mengangguk. “Kemarin pun saya periksa masih ada.”

Bu Nuri diam sejenak. Akhirnya Bu Nuri berpindah ke tengah kebun sambil menggandeng Naya.

“Ayo anak-anak, yang sudah selesai memanen berkumpul ke tengah ya.”

Anak-anak yang sudah selesai memanen menenteng tas plastik berisikan buah lalu berkumpul ke tengah. Suara-suara riang di antara mereka terdengar. Naya menjadi ingin menangis.
Beberapa menit kemudian, seluruh siswa sudah selesai memanen. Tengah kebun ramai oleh suara mereka yang saling menunjuk buah yang berhasil dipanennya.

“Anak-anak, hari ini teman kalian tidak seberuntung kalian. Buah di pohon Naya entah kenapa sudah tidak ada. Semoga saja bukan kalian yang mengambilnya. Sebagai teman-teman yang baik, ayo berbagi buah yang berhasil kalian panen.” Bu Nuri tersenyum pada Naya.

Wajah Naya kembali berseri. Beberapa teman Naya langsung memberikan satu buah hasil panennya. Akhirnya, justru Naya yang memperoleh buah paling banyak di antara teman-temannya.

“Terima kasih teman-teman.” Naya tersenyum senang, lalu membungkukkan badannya menghadap teman-temannya.

Saat Naya tiba di rumah, hari sudah menjelang siang. Wajah Naya merah padam dan berkeringat. Ditentengnya tas plastik besar berisi buah-buahan pemberian teman-temannya. Ia mengucap salam, lalu pintu rumah terbuka dengan wajah Ibu muncul dengan seulas senyum.

“Sini Ibu bantu. Banyak sekali buahnya?” Ibu heran. Naya menceritakan kejadian di sekolah tadi dengan bersemangat. Ibu mendengarkan penuh perhatian.

“Mana ayah?” tanya Naya.

“Di kebun belakang. Coba lihat sedang apa,” jawab Ibu.

Naya bergegas ke kebun belakang rumah. Dilihatnya Ayah sedang memasukkan tanah ke dalam plastik hitam besar.

“Ayah!” sapa Naya sambil berjongkok di samping Ayah.

“Halo, Nak. Mau bantu Ayah?”

“Bantu apa?”

“Membuat tabulampot.”

“Apa itu, Yah?”

“Tanaman buah dalam pot. Jadi walaupun halaman rumah kita kecil, kita tetap bisa punya tanaman buah. Ditanamnya di dalam pot ini.”

“Memang muat, Yah?”

“Muat dong. Kan ada caranya sendiri. Jadi nanti kalau Naya mau panen buah, mudah. Kita rawat tanamannya dari bibit sampai berbuah, ya?”

Naya mengangguk antusias. Kecintaannya terhadap buah ternyata bisa mendatangkan hobi yang bermanfaat.
***

(Sofiati Mukrimah)

Bagikan Artikel ini: