Bagikan Artikel ini:

Judul                     : The Alpha Girl’s Guide

Penulis                 : Henry Manampiring

Penerbit              : Gagasmedia

Tahun                   : 2016

 

                Benarkah ada hirarki kualitas manusia? Ada si unggul dan si biasa saja?

                Istilah alpha female (atau alpha girl) dan alpha male awalnya merupakan istilah yang dipakai oleh peneliti untuk mengklasifikasi fauna. Peneliti menemukan bahwa di dalam kehidupan fauna terdapat strata sosial di dalamnya. Alpha male dalam dunia fauna digambarkan sebagai hewan yang menonjol dan menjadi pemimpin dalam kawanannya, serta memiliki fisik yang kuat dan keberanian yang besar. Sedangkan untuk betina yang digambarkan sebagai alpha female memiliki pengaruh yang besar di antara betina-betina lainnya dalam kawanan. Konsep inilah yang kemudian diadopsi dalam kehidupan manusia.

                Henry Manampiring, atau yang sering dipanggil dengan sebutan ‘Om Piring’ menjelaskan secara lengkap tentang apa itu alpha female. Dilengkapi dengan ilustrasi-ilustrasi yang menggemaskan, membaca buku ini menjadi tidak membosankan sama sekali. Pada bab-bab selanjutnya, Henry menjelaskan alpha female dalam banyak konteks kehidupan. Hal ini mempermudah pembaca untuk menemukan poin paling penting yang diinginkan. Misalnya, pembaca ingin mengetahui bagaimana sikap alpha female sebagai anak sekolahan, maka hal ini sudah terakomodir dengan adanya bab tersendiri yang membahas hal tersebut.

                Henry menjelaskan, latar belakang terbitnya buku ini adalah pertanyaan yang masuk ke akun ask.fm-nya. Kala itu, ia mendapatkan pertanyaan,”Cewek itu harus berpendidikan tinggi nggak sih? Ujung-ujungnya di dapur juga. Kasih alasan kuat dong, kenapa cewek harus berpendidikan tinggi?!”

                Pertanyaan tersebut, sebenarnya, merupakan implikasi dari kentalnya budaya patriarki di Indonesia. Patriarki merupakan sistem sosial yang menempatkan laki-laki dalam posisi sentral dalam kehidupan bermasyarakat. Saking mendarah dagingnya sistem ini, perempuan dianggap tidak perlu berpendidikan tinggi, karena pada akhirnya hanya akan berperan sebagai ibu rumah tangga. Pemikiran ini, mirisnya, tidak hanya keluar dari orang-orang dengan pendidikan yang rendah. Saya pernah mendengar langsung dari seseorang yang berpendidikan tinggi, perempuan,”Jadi perempuan itu jangan idealis soal pendidikan, nanti laki-laki nggak berani deketin.” Karena itulah, pendidikan tinggi saja masih belum cukup. Henry menjelaskan, masih banyak perempuan yang memiliki mental ‘princess’ dengan berharap dinikahi oleh laki-laki yang dicintai, dinafkahi, dan bahagia selamanya. Mindset untuk mengubah mental itulah yang bahkan pendidikan tinggi pun belum tentu mampu.

Baca Juga:Hangout: Hangout: Karya yang Keluar Dari Zona Nyaman Raditya Dika

                Membaca buku ini, rasanya, seperti mendapatkan konseling. Isinya lugas dan mudah dimengerti, serta penuh tamparan bagi pembaca. Sifat-sifat yang dimiliki dan yang tidak dimiliki oleh alpha female dijelaskan secara gamblang di buku ini, sehingga diharapkan bisa menjadi media introspeksi diri bagi pembaca. Buku ini mengajarkan kita bahwa, bila kita tidak terlahir sebagai ‘bibit unggul’, maka kita masih bisa menjadi unggul dengan sifat-sifat yang kita miliki. Selain diisi penjelasan dan latihan, buku ini juga dilengkapi wawancara dengan dua alpha female versi Henry, Alanda Kariza dan Najwa Shihab.

                Satu-satunya hal yang bisa dikeluhkan dari buku ini adalah kurang universal. Segmentasi buku ini adalah remaja perempuan bila dilihat dari bab-bab di dalamnya, padahal seharusnya perempuan dengan semua usia bisa menjadi pembaca buku ini.

Bagikan Artikel ini: