Bagikan Artikel ini:

Akhir tahun 2016 menjadi sejarah penting karena bertepatan dengan bulan Rabiul Awal dimana sesosok manusia pilihan sang Maha Kuasa lahir untuk kemudian menyempurnakan Islam. Sesuai dengan firman Tuhan Allah S.W.T dalam surat Al-Ahzab ayat 40 yang berarti, “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki diantara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penuup para nabi-nabi dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu”. Sangat tepat ketika manusia pilihan tersebut di titip kan oleh Yang Maha Kuasa melalui buah cinta dari Abdullah dan Aminah. Manusia tersebut lahir membawa misi utama memperbaiki akhlaq manusia. Sesuai dengan sabdanya “Innamal buistu liutammima makarimal akhlaq”.

Akhlaq menjadi peran penting dikarenakan pada saat itu antar manusia saling menindas dan kepribadian yang ditampilkan jauh dari nilai kebenaran. Begitu beruntungnya manusia yang hidup pada zaman itu hingga saat ini, dikarenakan manusia suci itu telah menyempurnakan agama Rabb-Nya. Sedikit kita menarik riwayat Nabi Muhammad S.A.W. sebagai bahan evaluasi diri demi meggalakkan semangat Amal Ma’ruf Nahi Munkar di Indonesia dimana mayoritas penduduknya mencintai dan menjalankan amalan Rasulullah.

Dalam konteks cinta terhadap tanah air atau menjaga tanah air, dikutip dari Al-Hafidz Ibn Hajar dalam Fath al-Bari juz 3 halaman 261, ketika mensyarahi hadist Imam Bukhari dari sahabat Anas Ra, “Adalah Rasulullah S.A.W. jika pulang dari bepergian dan melihat dataran tinggi kota madinah mempercepat jalan untanya dan bila menunggang hewan yang lain beliau memacunya”. Al-Hafidz Ibn Hajar berkata, “Dalam hadist ini menunjukkan keutamaan Madinah, dan di syariatkan cinta tanah air dan rindu kepadanya”. Indonesia memiliki sejarah luar biasa dalam hal cinta tanah air. Pada waktu sesosok alim ulama Hadratusyaikh Hasyim Asy’ari menjadikan Hubul Wathon Minal Iman fatwa ampuh untuk membakar semangat para pejuang Islam dalam mempertahankan keutuhan bangsa.

Bangsa ini sangatlah cantik, dimana pancasila menjadi tumpuan masyarakat akan semangat bersama, dengan berketuhanan menjadi syarat pertama. Maka seharusnya keanekaragaman inilah yang menjadi titik awal bagaimana masyarakat bangsa ini menjadi toleran, hidup berdampingan, dan tidak bermusuhan. Antar umat beragama diwajibkan saling mencintai, menghargai, dan menghormati demi kesatuan negeri. Terlihat kontradiksi ketika mengaku umat Nabi Muhammad S.A.W akan tetapi menebar kebencian, tidak bisa hidup berdampingan dan hanya diam ketika ada penindasan. Apakah itu akhlaq yang dicontohkan Nabi? Dan apakah itu bukti jika mencintai Nabi?.

Islam telah menyucikan diri dari belenggu jahiliyyah dan menghapus fanatisme serta perbedaan ras. Perlu diingat bahwasanya Islam untuk seluruh umat manusia bahkan di Al-Qura’n terdapat dua perintah berbeda antara “Yaa Ayyuhannas” yang bermakna untuk seluruh manusia dan “Yaa Ayyuhalladzi Na Amanu” yang berarti hanya untuk orang beriman. Itulah bukti Sang Maha Adil Allah S.W.T memberikan perhatian bagi manusia dan seharusnya sebagai insan yang “ahsani taqwim terus menerus berguna dan saling menjaga antar umat beragama. Hendaknya untuk seluruh masyarakat negeri berbicara agama tentunya mempunyai sisi maupun cara beribadah yang berbeda, akan tetapi ketika berbicara suatu bangsa harus bersatu dan padukan dalam nuansa pancasila.

Dalam sisi lain di tahun 2016 merupakan area pembangunan infrastruktur dan industri untuk kebutuhan dan kemaslahatan negara. Indonesia harus melakukan adaptasi terhadap persaingan global, sehingga segala sektor perlu pembenahan dan peningkatan. Semua rakyat akan sepakat ketika semua agenda pembangunan semata-mata untuk kepentingan masyarakat luas.

Tragedi masyarakat Pegunungan Kendeng, Jawa Tengah menolak pabrik semen; privatisasi air di daerah Jawa Barat oleh perusahaan air minum; pembangunan bandara di Kulon Progo dan Majalengka; pembangunan PLTU di Batang; dan masih banyak lagi telah meninggalkan noda kehinaan sebuah pemangku kepentingan yang seakan memaksakan hak yang identik dengan perampasan. Banyak dari masyarakat lokal terkena tindakan represif dari suatu pihak sehingga  mereka seolah terkesan bukan manusia.

Reforma agraria yang menjadi bahan promosi agenda Nawacita Presiden Joko Widodo seakan lunglai dan layu karena gedung megah dan kepentingan sepihak. Sabda Nabi dalam Hadist Riwayat Muslim diriwayatkan dari Sa’id bin Zaid, “Barangsiapa mengambil satu jengkal tanah yang bukan haknya, ia akan dikalungi tanah seberat tujuh lapis bumi di hari kiamat”. Hadist tersebut sangat tegas dan ada ancaman di dalamnya. Sila ke-5 pancasila tentang keadilan sosial mengandung arti adil yang sama rata tanpa perbedaan kasta. Hal inilah yang menjadi renungan kita bersama, apakah pembangunan oleh negara dan kesejahteraan masyarakat sudah sesuai dengan semangat itu?.

Peran seluruh masyarakat umum dan terkhusus umat Islam yang mengaku beriman serta cinta dengan Nabinya, seharusnya menjadi ladang jihad fissabilillah untuk menegakkan persatuan kesatuan dan penegakan keadilan bagi kaum mustad’afin (kaum yang lemah). Mungkin saat ini kasus penistaan kitab suci beredar hangat di permukaan publik seakan menjadi sarapan sehari-hari media dalam pemberitaan. Ribuan muslim berbondong membela Al-Qur’an dengan semangat luar biasa dan sangat damai untuk menuntut penegakan hukum.

Mari saudara – saudara semua, bahwa semangat membela agama Tuhan Yang Maha Esa Allah S.W.T., membela kitab penyempurna “Al-Qur’an” , dan membela Rasul tercinta kita teruskan dalam hal persatuan dan kesatuan masyarakat Indonesia serta melindungi rakyat kecil dari tingkah semena-mena kaum penista.

Bukankah Nabi mengingatkan pada kita melalui tiga cara ketika melihat kemungkaran, yakni pertama dengan lisan nya (mengingatkan, menasehati, mempertegas), kedua dengan tangannya (bergerak, mengawal, membela) dan terakhir dengan hatinya (berdoa dan mendoakan)?. Sepatutnya kita refleksikan bersama apakah kelak kita akan dianggap oleh Rasulullah sebagai umat yang baik ketika kita, sesama manusia, masih berperang dan melihat kemungkaran dengan acuh dan tak mau tau?.

 

Bagikan Artikel ini: