Bagikan Artikel ini:

SOLIDpress.co, Kampus Terpadu UII – Rabu (27/03) Lembaga Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Islam Indonesia (LEM FTSP UII) mengadakan diskusi sekaligus do’a bersama untuk masyarakat Pegunungan Kendeng yang mengambil tema “Kemanakah FTSP UII Bersikap?”. Diskusi tersebut dipantik oleh tiga narasumber yaitu Wahyu Hidayat (Demisioner Komisi IV DPM UII 2015-2016), Kholid Anwar (PU Himmah 2015-2016) dan Diaz Bagoes (DPM FTSP UII) serta dimoderatori oleh Haninda Lutfiana. Acara yang dihelat di ruang 1.2 gedung FTSP UII ini dibuka untuk umum dan gratis.

Diskusi tersebut diawali dengan pemutaran Video #DipasungSemen yang berdurasi hampir sepuluh menit produksi Watchdoc. Film tersebut mendokumentasikan tentang sembilan petani kendeng yang melakukan aksi memasung kaki dengan semen sebagai bentuk perlawanan terhadap pembangunan pabrik semen di Pegunungan Kendeng. Setelah pemutaran film, diskusi dibuka dengan pertanyaan moderator, “Mengapa kita harus bersolidaritas bersama terhadap masyarakat yang berada di Pegunungan Kendeng?”

Pertanyaan tersebut ditanggapi oleh Kholid bahwa ada nilai kesejahteraan yang diperjuangkan oleh Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) di sana. “Mereka (JMPPK) dengan sikap-sikap sedulur sikep mengikuti semua prosedur sampai datang ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN), ikut di persidangan hingga sampai ke Mahkamah Agung (MA),” lanjutnya. Dia juga menambahkan, terdapat  Cekungan Air Tanah Watuputih di sekitar daerah Pegunungan Kendeng. Pria yang datang menggunakan dengan baju hitam tersebut juga menyampaikan kekesalan terhadap putusan MA yang tidak ditaati oleh pabrik semen. “Putusan MA-pun sampai dilangkahi,” tutupnya pada acara diskusi tersebut.

Selain itu, Wahyu yang merupakan mahasiswa Teknik Sipil berbicara perihal masalah Rembang yang semakin hari semakin meluas dan menanggapi isu penolakan pembangunan pabrik semen dalam dunia keteknik-sipilan. “Dengan adanya pabrik semen kita (mahasiswa sipil), pasti senang. Kalau semen banyak, harga semen bisa murah, kalau harga murah maka Rencana Anggaran Biaya (RAB) bisa ditekan, kalau RAB bisa ditekan, keuntungan kita bisa dapat lebih banyak. Tapi bukan itu yang kita inginkan,” katanya.

Pada malam itu, Wahyu juga menyinggung persoalan Nawa Cita yang dianggapnya telah dilanggar. Nawa Cita sendiri merupakan sembilan program utama Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Saat itu, dia langsung membacakan Nawa Cita pertama di depan mahasiswa yang hadir.

“Menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga negara, melalui politik luar negeri bebas aktif, keamanan nasional yang terpercaya, menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap warga negara,” katanya.  Dia juga menyesalkan Gubernur Jawa Tengah yang tidak mau menemui warganya hingga warga Kendeng harus datang jauh-jauh ke Jakarta untuk menemui presiden. “Warga tidak akan datang jauh-jauh menemui presiden kalau gubernurnya bisa ditemui,” tutupnya ketika itu.

Diaz Bagoes yang merupakan Anggota DPM FTSP UII lebih banyak menyinggung perihal peran dan fungsi mahasiswa selama ini. Ada tiga fungsi utama dari mahasiswa yaitu Agent of Change (agen perubahan), Social Control (kontrol sosial) dan Iron Stock (generasi penerus). Selain itu, dia juga menyampaikan bahwa permasalahan ini dapat dibedah dari bidang keilmuan kita masing-masing.”Di FTSP ini kan ada berbagai macam jurusan, seperti Teknik Sipil, Arsitektur dan Teknik Lingkungan,” pungkasnya pada malam itu.

Di akhir sesi, Diaz yang juga mengajak mahasiswa yang hadir pada acara diskusi tersebut untuk dapat ikut dalam aksi yang diadakan oleh KM UII. “FTSP UII akan bergabung dengan aksi bersama KM UII pada hari Rabu (29/03) yang akan dilaksanakan di KM Nol Malioboro. Itu merupakan bentuk pengawalan kita untuk orang-orang Kendeng,” tuturnya.

Pada diskusi ini juga tampak kotak sumbangan yang disebarkan sewaktu acara berlangsung sebagai bentuk solidaritas untuk warga Pegunungan Kendeng. Acara juga diakhiri dengan do’a bersama yang disampaikan oleh Fachri dari Lembaga Dakwah Fakultas Al-Mustanir.

Bagikan Artikel ini: