Bagikan Artikel ini:

Kisah Norwegian Wood ini bermula ketika tokoh utama, Toru Watanabe, teringat kepada kisah masa lalunya. Musik instrumental yang mengalun halus ketika hendak melandas di Jerman, mengingatkan Watanabe (Nama Panggilan dalam buku ini) akan kisah cintanya semasa di bangku perkuliahan. Hal yang pertama dia ingat adalah Naoko, gadis yang digambarkan oleh Haruki Murakami sebagai gadis berparas cantik.

Naoko merupakan kekasih dari mendiang sahabatnya sendiri, Kizuki. Gadis lain yang dekat dengan Watanabe adalah Midori, gadis yang easy going, nyentrik , dan ceplas-ceplos (termasuk dalam imajinasi seks-nya) bagaikan dua kutub magnet, berbeda dengan Naoko. Tidak salah kenapa pada sinopsis buku ini dikatakan Watanabe seolah diberi dua pilihan antara Naoko dan Midori, antara masa depan dan masa lalu.

Adapun tokoh lain seperti Nagasawa-san yang merupakan anak seorang kaya yang hanya peduli dengan dirinya sendiri dan perkembangannya sendiri, bahkan kekasihnya,  Hatsumi-san, seorang gadis yang berparas cantik dan juga pintar pun tidak ia pedulikan. Sosok Nagasawa-san bisa dibilang unik di tengah nasib nelangsa yang diterima tokoh-tokoh di atas, Nagasawa-san hadir dengan ke-aku-anya.

Tokoh lain yang menjadi bumbu komedi dalam buku ini adalah Komando Pasukan Gerak Cepat (Kopasgat), teman sekamar Watanabe yang sangat mencintai kebersihan dan selalu dijadikan bahan cerita oleh Watanabe kepada Naoko, Midori dan Reiko-san. Reiko-san adalah kawan sekamar Naoko ketika mereka berdua berada di Asrama Ami.

Dalam buku ini kita diajak menyelami kesedihan dan penderitaan tokoh-tokoh utamanya. Bagaikan diterbangkan tinggi lalu dihempaskan kembali ke dasar. Cerita dimulai dari Naoko, dalam usianya yang masih 20-an dia sudah melihat kedua orang tersayang, kakak dan kekasihnya Kizuki, mati bunuh diri tanpa sebab. Kakak Naoko merupakan anak yang baik begitu pun Kizuki tapi kehilangan mereka membuat mental Naoko terguncang hebat, sehingga Naoko mengalami gangguan kejiwaan. Hingga akhirnya Naoko mengakhiri hidupnya dengan cara yang sama.

Norwegian Wood
Haruki Murakami
2009 (Cetakan ke-5)
KPG

Begitu-pun Midori dan Reiko-san. Midori sudah kehilangan ibunya dikarena tumor otak, dan dalam perjalanan cerita ayahnya pun menyusul ibu Midori ke surga dengan penyakit yang sama. Midori pun sempat merawat ayahnya bergantian dengan kakaknya, sehingga hari-hari midori selalu disibukan dengan pekerjaan, kuliah, merawat ayah dan menjaga toko buku keluarganya. Kisah Reiko-san pun tak kalah nelangsa.

Sedari kecil, Reiko-san sudah berlatih dan bermimpi menjadi Pianis terkenal, tapi apa daya penyakit syaraf pada jarinya membuat impiannya pupus. Hal ini membuatnya sempat masuk ke dalam rumah sakit jiwa. Tak berlangsung lama, akhirnya Reiko-san memiliki kehidupan normal, menikah dan punya anak. Tapi, semua itu hilang ketika, seorang gadis kecil yang  telah menelanjanginya akan tetapi ia tidak bisa menolak dan kembalilah Reiko-san mempertanyakan kewarasan dirinya hingga masuk ke Asrama Ami. Asrama Ami sendiri bisa dibilang asrama untuk orang-orang miring, di mana mereka dapat hidup dalam dunia mereka sendiri.

Di tengah banyaknya kenelangsaan buku ini menyuguhkan detail-detail panorama indah alam Jepang, seolah pembaca dapat hanyut ke dalam cerita tersebut. Haruki Murakami juga tidak segan untuk menggambarkan adegan-adegan seks yang vulgar dan natural. Beberapa adegan bercinta pun digambarkan secara detail.

Tokoh Watanabe seolah menjadi idola dalam kisah ini, kemampuannya berkomunikasi dan gaya bicaranya seolah menjadi magnet tersendiri bagi para tokoh. Bahkan, ketika diminta menemani ayah Midori yang sekarat Watanabe pun dapat menghibur ayah Midori. Disini-lah bagian menariknya, ketika diminta tolong menjaga ayah Midori yang sedang sekarat, Watanabe berbicara tentang Euripides salah satu jenis drama Yunani.

Watanabe berbicara soal Deux Ex Machina ketika Tuhan muncul dan mengatur chaos yang terjadi, seperti mengatur lalu lintas. Deux Ex Machina mengingat kita akan novel Jejak Langkah Pramoedya Ananta Toer. Adanya Kospagat dengan tingkah yang lucu seolah menjadi oase tersendiri.

Dalam buku ini Haruki Murakami juga menyisipkan novel-novel dan musik barat dalam kisah dalam tokoh Watanabe, The Great Gatsby menjadi novel favorit Watanabe. Sedikit hal yang saya belum mengerti dalam buku ini adalah akhir cerita. Ending cerita Norwegian Wood ini terkesan mengantung dan masih memunculkan beberapa pertanyaan.

 

Bagikan Artikel ini: