Bagikan Artikel ini:
Judul: 168 Jam dalam Sandera, Memoar Jurnalis Indonesia yang Disandera di Irak
Penulis: Meutya Hafid
Penerbit: Hikmah
Tahun: 2007

Tahun 2005 silam, Indonesia dihebohkan dengan kabar disanderanya  dua jurnalis asal Indonesia, Meutya dan Budiyanto dari Metro TV. Kejadian tersebut terjadi pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono.

Awalnya, Meutya dan Budi ditugaskan oleh Metro TV ke Irak untuk meliput pemilu di sana. Namun, karena perhitungan suara di Irak dilakukan secara tertutup, mereka tidak bisa melakukan peliputan lagi selain menanti waktu hasil pemilu diumumkan. Sembari menunggu, mereka dituaskan untuk meliput peringatan Asyura, yaitu peristiwa meninggalnya cucu Nabi Muhammad SAW, Husein bin Ali, yang diperingati oleh kaum Syiah di Kota Karbala. Karena dirayakan oleh kaum Syiah, Meutya dan Budi juga mengalami kesulitan untuk mencapai kota tersebut karena harus memiliki koneksi kaum Syiah.

Selain permasalahan koneksi, Meutya dan Budi juga kebingungan memilih jalur untuk mencapai Kota Karbala. Kota Karbala dapat ditempuh dalam waktu dua jam dari Kota Baghdad. Jalur darat dinilai Meutya dan Budi lebih aman, karena pesawat terbang seringkali ditembak hingga jatuh. Namun keputusan mereka memilih jalur darat ternyata salah. Dari sanalah awal mula kehidupan mencekam mereka dimulai.

Berawal dari disandera saat sedang mengisi bensin, Meutya dan Budi kemudian dibawa ke sebuah gua sebagai tempat penyanderaan mereka. Meski diperlakukan dengan baik, namun penyanderaan tersebut tetaplah sebuah peristiwa besar, bukan hanya bagi Meutya dan Budi, tapi juga bagi bangsa Indonesia. Saat itu, bahkan Presiden SBY harus membuat pernyataan resmi untuk membebaskan Meutya dan Budi.

Meutya memakai sudut pandang orang pertama di buku ini. Hal ini membuat pembaca semakin mudah memahami situasi yang dirasakan oleh Meutya dan Budi. Bagaimanapun, Meutya-lah yang paling paham bagaimana cara mendeskripsikan situasi, perasaan, dan responnya kala itu. Pemilihan katanya pun baik dan tidak terkesan bertele-tele, cocok dengan profesi Meutya. Pilihannya untuk menuliskan buku ini sendiri terasa sangat tepat.

Meutya Hafid Budiyanto

Foto oleh: Baiq Raudatul Jannah

Akan tetapi, meskipun enak dibaca, sudut pandang pertama memiliki kekurangan, yakni penulis tidak mampu mendeskripsikan kejadian di luar yang dialaminya. Namun, Meutya ‘memaksakan’ hal itu dengan tetap menceritakan kejadian di luar yang ia alami sendiri, contohnya adalah yang terjadi di kantor Metro TV saat dia dan Budi disandera. Hal itu terasa aneh saat dibaca meskipun Meutya tetap mampu mendeskripsikan situasi di kantor Metro TV dengan baik.

Secara keseluruhan, buku ini layak dibaca, khususnya bagi pembaca yang tertarik dengan topik jurnalisme ataupun pembaca umum karena bahasa dan istilah yang dipakai juga tidak sulit dipahami. Selamat membaca!

Bagikan Artikel ini: