Bagikan Artikel ini:
Sebuah mobil melewati "Mobile Bridge" (Credit. Hiroshima University)

Sebuah mobil melewati “Mobile Bridge” (Credit. Hiroshima University)

Belum lama ini peneliti dari Hiroshima University membuat sebuah terobosan baru dalam dunia evakuasi kebencanaan. Dr. Ichiro Ario, Asisten Profesor dari Institute Engineering Hiroshima University, mengatakan bahwa mereka mengembangkan konsep mobile bridge yang bisa dilipat dan dipasang sesuai kebutuhan secara cepat. Teknologi ini menyediakan efisiensi dalam konstruksi dan transportasi yang mudah.

Latar belakang munculnya Mobile Bridge (MB) ini adalah kebutuhan akan respon terhadap kebencanaan yang tinggi. Respon yang cepat, menurut Dr. Ario, akan meningkatkan proses pemulihan korban dan kerusakaan akibat bencana. Seperti misalnya akses tim medis ke daerah bencana akan cepat, sehingga akan meminimalisir resiko-resiko yang ada. Pun akses untuk memperbaiki infrastruktur-infrastruktur yang kena dampak. Yang kedua adalah setiap alat atau teknologi penyelamatan harus memilki tingkat kompleksitas yang rendah dan ketahanan yang tinggi. Maka dari itu, MB bahkan dirancang agar setiap orang bisa mengoperasikannya dengan gampang dan cepat.

Soal ketahanan sendiri MB menggunakan teknologi-yang telah dipatenkan-dengan mekanisme gunting untuk memasang sistem jembatan darurat dengan desain yang modular (dapat dibongkar pasang). Struktur seperti gunting itu akan terhubung dengan struktur utama untuk membentuk seperti huruf “X”. Pada nantinya, struktur tersebut akan memanjang sejauh daerah yang akan dijangkau. Konsep tersebut terinspirasi dari salah satu penelitian lainnya tentang kesenian kertas Jepang bernama Origami.

Dalam versi terbaru dari MB, yaitu MB4, Dr. Ario mengembangkannya sebagai jembatan dengan mekanisme robotik. Hal itu bisa dilihat dari bagaimana mobilitas dan fungsinya semakin meningkat, sementara beratnya terus diturunkan. MB4 bisa dipasang secara cepat dan tanpa menunggu lama bisa langsung difungsikan untuk dilalui kendaraan-kendaraan. Dalam hasil simposium dari Japan Society of Civil Enggineers (JSCE) 23 Juni 2015 yang lalu, bahkan dari awal pemasangan, dan jembatannya dilebarkan sampai daerah yang ingin dituju, itu semua membutuhkan waktu sekitar satu jam.

Dr. Ario mengatakan bahwa dengan ditesnya konsep jembatan ini, dunia teknologi jemabtan akan memasuki sebuah tahapan baru. “Sangat mungkin untuk menggunakan ‘jembatan pintar’ berbentuk seperti gunting dengan teori struktur seperti ini.” Maka dari itu, lanjutnya, ia sendiri akan mengembangkan lagi MB agar, “Lebih kuat, lebih lama, lebih ringan dan lebih cepat sementara tetap terus mempromosikan pengembangan teknologi bangunan infrastruktur secara umum.” (Sumber: ScienceDaily)

(Mufli Muthaher)

Bagikan Artikel ini: