Bagikan Artikel ini:

“Ingat ya, Nak, harus berbuat baik setiap hari.” Begitu pesan Ibu setiap kali Nina berangkat ke sekolah.

Nina heran, ibunya tidak pernah memberikan pesan lain. Bahkan hingga saat ini, di mana ibunya terbaring lemah di ranjang tidur yang sudah tidak empuk lagi.

“Sudah dibawa keripiknya?” tanya Ibu, ketika Nina hampir selesai memakai sepatu.

“Sudah, Bu. Ada di dalam tas,” jawab Nina. “Assalamu’alaikum!”

“Wa’alaikumsalam” Ibu Nina menjawab lemah. Dilihatnya pintu rumah menutup. Ia menghela napas. Dirasakannya sepi yang selalu ada setiap Nina pergi.

*

Nina berjalan tergesa ketika dirasakannya matahari sudah mulai menyengat. Sekolahnya masih agak jauh, ia harus lebih bergegas.

Namun tepat saat lampu merah di hadapan Nina berubah hijau, seorang ibu yang mengendarai motor tak sengaja menjatuhkan tasnya. Malang, ibu itu tidak punya pilihan lain selain menjalankan motornya dulu. Nina bisa menangkap kepanikan ibu itu meski dari belakang. Tanpa pikir panjang, Nina berlari mengambil tas di tengah jalan tanpa memedulikan suara klakson yang berdenging dari beberapa kendaraan.

Nina segera minggir dan berusaha mengatur napasnya. Dilihatnya sekitar dua ratus meter di depan, pemilik tas menghentikan motornya. Nina melangkah cepat ke arahnya setelah menunggu lampu lalu lintas berubah merah agar ia bisa menyeberang.

“Aduh, terima kasih sekali, Dek!” Ibu itu tersenyum sumringah. Ia kemudian mengambil sesuatu dari tasnya, lalu bermaksud memberikan Nina sejumlah uang.

Namun pikiran Nina sudah tidak fokus lagi. “Maaf, Bu, saya buru-buru!” seru Nina yang kemudian berlari.

Sesampainya di sekolahnya, gerbang telah ditutup. Seketika wajah Nina pucat pasi. Bukan hanya kehilangan kesempatan untuk belajar, kerupuk jualannya pun tidak akan laku terjual. Tiba-tiba wajah Ibu yang kian lemah terbayang di pelupuk matanya. Sambil mengatur napasnya, Nina mulai menangis. Ia sungguh kecewa. Pesan ibunya untuk berbuat baik justru memberinya halangan untuk mendapatkan uang.

“Neng, kenapa nangis di situ?” tanya seorang satpam.

“Saya boleh masuk ya, Pak? Saya mau belajar dan jualan, Pak,” terang Nina, masih sambil menangis.

Pak Satpam tampak merasa bersalah. “Duh, nanti saya dimarahin, Neng. Nunggu di bawah pohon situ aja. Nanti kalau selesai sekolahnya kan bisa jualan.”

Nina tidak bisa menemukan solusi lain. Meskipun ia tetap tidak bisa belajar, paling tidak kerupuk di dalam tasnya masih bisa dijual. Nina pun memutuskan menunggu. Satu jam kemudian, Nina mulai kelelahan. Ia mulai menangis lagi. Apakah lebih baik pulang?

“Dek, kenapa nangis?”

Nina menoleh ke asal suara. Ternyata ibu yang ditolongnya tadi. Ibu itu baru memarkirkan motornya, lalu berjalan menghampiri Nina.

“Pintu gerbangnya udah ditutup,” jawab Nina sesengukan.

“Terus kenapa nunggu di sini?,” Ibu itu duduk di samping Nina dengan wajah heran.

“Nunggu sekolah selesai biar bisa jualan kerupuk.”

Ibu itu diam sesaat. “Ibu antar yuk? Anggap aja sebagai ucapan terima kasih tadi sudah membantu. Ibu nggak bisa belanja tuh kalau tadi nggak ditolong. Kerupuknya ibu aja yang beli semuanya.”

Wajah Nina seketika berubah cerah. “Bener, Bu?”

Ibu itu mengangguk sambil tersenyum. “Ayo pulang.”

*

Ibu Nina tersenyum setelah mendengar cerita Bu Lastri, ibu yang ditolong Nina. Dengan bangga dielusnya rambut Nina.

“Saya membuka rumah makan. Tas saya berisi uang untuk belanja kebutuhan rumah makan hari ini, jadi tidak bisa dibilang sedikit jumlahnya. Alhamdulillah kembali berkat Nina.” Bu Lastri tersenyum senang. “Kalau begitu, bagaimana kalau saya tiap pagi ambil 100 bungkus kerupuk milik ibu? Kebetulan saya belum menemukan penjual kerupuk yang cocok.”

Ibu Nina menatap Nina sesaat, lalu menjawab,”Tentu saja boleh sekali.”

“Kalau begitu mulai besok saya akan kemari mengambil kerupuknya.” Bu Lastri berdiri, bermaksud untuk berpamitan. “Oh iya, anak saya perawat di klinik, besok saya minta dia ke sini juga untuk periksa ibu.”

Kali ini mata Ibu Nina berkaca-kaca. “Terima kasih, Bu Lastri. Maaf merepotkan.”

Bu Lastri hanya tersenyum. Ia mengelus kepala Nina sebelum mengucap salam lalu keluar.

“Terima kasih sudah berbuat baik, Nak.” Ibu Nina memeluk Nina. Nina lega. Ternyata sangat mudah kebaikannya dibalas.

(Sofiati Mukrimah)

 

 

 

Bagikan Artikel ini: