Bagikan Artikel ini:
DSCN4352

Selfie di tengah terik sinar matahari (Foto : Alfin Fadhillah)

SOLIDpress.co, Kampus Terpadu UII – Agenda tahunan Universitas Islam Indonesia (UII) untuk menyambut mahasiswa-mahasiswa baru telah semarak dilaksanakan untuk periode 2015/2016. Agenda tahunan ini lekat dikenal dengan Pesona Ta’aruf (PESTA). Acara yang digarap ratusan panitia ini membentuk kelompok bidang kerja. Salah satu kelompok kerja tersebut adalah divisi Wali Jamaah (Waljam). Keberlangsungan acara tak lepas dari sosok waljam yang dekat dengan mahasiswa-mahasiswi baru untuk mengenalkan seluk-beluk universitas.

Menurut koordinator divisi Waljam, M. Husain Nashar, waljamlah yang dijadikan garda terdepan untuk membimbing saat proses acara perkenalan. “Mahasiswa-mahasiswi baru butuh panitia yang benar-benar memberikan pemahaman akan kelembagaan, ke-UII-an, sejarah kelembagaan, sejarah keUII-an, dan persiapan dinamika sekarang,” terangnya. Esensi waljam sendiri menurut Ryan Satrya Prayoga yang menjabat sebagai ketua SC PESTA 2015 adalah pemberi informasi tentang universitas dan menyampaikan harapan dari internal Keluarga Mahasiswa Universitas Islam Indonesia (KM UII) untuk terjun ke kemahasiswaan internal KM UII sendiri, dengan harapan mahasiswa dan mahasiswi baru bisa bekerjasama dengan KM UII.

Calon waljam pun diseleksi dengan cara interview setelah mengisi formulir pendaftaran. Adapun interview tersebut menekankan pada keseriusan dan komitmen para calon waljam. “Jadi, waktu wawancara ditanyakan komitmen untuk jadi waljam dan punya keseriusan masuk ke kepanitiaan. Kemudian latar belakang kelembagaan LEM dan latar belakang berdirinya UII,” jelas Arief Rachmad, salah satu waljam dari Jurusan Teknik Lingkungan angkatan 2014.

Namun interview secara mendalam tidak dilakukan secara general atau menyeluruh kepada calon waljam yang mendaftar, khususnya ketika mendekati akhir open recruitment. “Wawancaranya biasa, seputar kenapa memilih departemen ini, alasannya apa, dan nggak terlalu detail saat giliran saya,” tutur Dio Prananda, waljam dari Jurusan Teknik Lingkungan angkatan 2013.

Dari sekian banyak calon waljam, terdapat beberapa yang diterima menjadi waljam namun kurang prosedural atau tidak mengikuti beberapa tahapan seleksi yang diadakan pihak penyelenggara.”Nah kebetulan kemarin saya tidak ikut interviewnya. Cuma di formulir online itu ada interview tertulis saya hanya mengisi itu saja,” ujar Celine Junisyah, salah satu waljam yang absen mengikuti sesi wawancara.

Adapun agenda berikutnya yang harus calon waljam lakukan setelah dinyatakan diterima sebagai waljam adalah mengikuti training yang diadakan pihak penyelenggara sendiri. Menurut Dio, materi yang diberikan pada saat training berkenaan tentang ke UII-an, kelembagaaan, keislaman, dan manajemen aksi. Materi ini disampaikan oleh mahasiswa UII baik yang masih aktif maupun yang sudah menjadi alumni. Proses training sendiri dimulai pukul 09.00 sampai pukul 04.00 sore dan dilaksanakan satu hari.

Seperti pada saat interview, training sendiri tidak mendapatkan kuota 100 % karena berbagai alasan dari waljam. Celine Junisyah, waljam yang disapa Cece menuturkan bahwa dirinya tidak mengikuti interview langsung dan training dikarenakan sakit. Akan tetapi, berdasarkan pendataan yang dilakukan koordinator waljam semuanya telah ditraining secara keseluruhan. “Data yang saya dapat sebelum pemilihan itu dari koordinator waljam sudah ikut training semua.” Ryan menuturkan. Hal-hal seperti ini telah diantisipatsi oleh pihak penyelenggara seperti diharuskan mengikuti training waljam yang diadakan di tiap-tiap fakultas.

Menurut Husain ketika waljam tidak mampu menjelaskan saat mendapat pertanyaan seputar ke-UIIan akan berdampak pada kurangnya pemahaman mahasiswa baru dan keobjektifan berfikir . Tentunya keikutsertaan waljam dalam training yang diagendakan akan mempengaruhi tingkat pemahaman mereka juga. Celine, waljam dari Fakultas ekonomi pun merasa belum cukup pemahamannya tentang konsep menuju mahasiswa yang Ulil Abab. Hal ini disebabkan keabsenannya dalam training-training yang diadakan. Pihak penyelenggara sendiri terkesan kurang tegas karena menurut Celine, waljam yang absen dalam training tidak mendapat perhatian lebih atau setidaknya konsekuensi maupun evaluasi terhadap pemahamannya.

“Dalam waljam ada 2 orang, satu yang aktif dan satu yang tidak, juga masalah ini yang kita tutupi. Contohnya, memang ada yang tidak bisa ngomong dan dinamika pemahamannya kurang dengan yang lain. Nah disitu kita tutupi dengan waljam yang aktif,” kata Husain ketika ditanya akan keaktifan waljam.

Ryan sebagai ketua SC berharap untuk waljam nantinya supaya lebih aktif memberikan apa yang mereka dapatkan sejak kuliah di UII. ”Apa yang disampaikan sekarang ini masih ada kekurangan. Memang dalam hal taaruf dan manajemen aksi, mengumpulkan teman-teman maba-miba, sudah lebih baik. Untuk informasi-informasi tentang UII sendiri masih belum banyak disampaikan.” Ryan mengevaluasi. “Tahun depan kalo memang benar ada panitia yang mendaftarkan diri, sebaiknya benar-benar dipertegas komitmennya, sehingga tidak ada miss antara koor dan bawahan lagi,” pungkas Husain.

(Suko Prayitno)

Bagikan Artikel ini: