Bagikan Artikel ini:

Bimo tergesa-gesa mengetuk pintu rumahnya setelah turun dari mobil sekolah.

“Mama, Assalamu’alaikum! Bimo pulang, Ma!” seru Bimo sambil bergegas melepas sepatu dan kaus kakinya.

Tak lama kemudian, terdengar suara kaki yang tergopoh-gopoh mendatangi pintu sambil menjawab salam.

“Bimo, ada apa? Kenapa teriak-teriak?” tanya Mama setelah berhasil membuka pintu.

Bimo melesat masuk ke dalam rumah tanpa menjawab pertanyaan mamanya. Ia meletakkan tasnya di ruang keluarga, lalu segera masuk ke dapur.

“Bimo mau makan?” tanya Mama yang mengikuti Bimo.

Bimo mengangguk-angguk. Ia mengambil piring dan sendok. Diambilnya nasi dari penanak nasi dengan porsi yang menurutnya cukup. Tak lupa Bimo mengambil lauk dari balik tudung saji. Hari ini, makan siangnya adalah makanan favoritnya: cumi cabai hijau.

Mama menatap Bimo dengan heran. Sudah beberapa hari ini Bimo selalu makan siang di rumah. Akan tetapi, bukan itu yang membuat mamanya heran. Sekolah Bimo mewajibkan orang tua untuk membeli anaknya makan siang agar tidak perlu jajan di luar. Setiap hari, Bimo selalu membawa bekal untuk dimakannya bersama teman-temannya. Tapi sudah sekitar seminggu ini Bimo makan siang di rumah meskipun bekalnya habis.

“Bekal Bimo dimakan betulan, kan?” tanya Mama sambil duduk di sebelah anak satu-satunya yang baru berusia 7 tahun itu.

“Dimakan kok, Ma,” jawab Bimo setelah menelan suapan pertama.

“Kenapa makan lagi?”

“Karena sampe rumah Bimo lapar lagi.”

Mama mengerutkan kening. Tentunya sebagai ibu dia senang mendapati anaknya suka makan di rumah, namun sebenarnya dia juga khawatir bekal Bimo dihabiskan teman-temannya sampai Bimo masih merasa lapar.

Meski begitu, Mama memilih tidak bertanya lebih lanjut. Dielusnya kepala Bimo dengan penuh sayang.

“Dihabiskan ya makanannya, Sayang.”

Bimo mengangguk sambil tersenyum patuh. Mama memerhatikan Bimo sekali lagi. Tidak ada tanda-tanda takut atau ketidakjujuran darinya. Namun Mama tetap ingin memastikannya.

Mama masuk ke dalam kamar, meraih ponselnya, lalu memilih sebuah nomor untuk ditelepon.

“Wa’alaikumsalam. Ini saya, Bu, mamanya Bimo … ah, enggak kok. Saya cuma ingin tanya, Bimo di kelas selalu makan bekalnya, kan, ya?”

Mama tampak terdiam mendengarkan penjelasan seseorang yang tengah berbicara dengannya. Kemudian Mama mengucapkan terima kasih, lalu menutup telepon. Diaturnya napasnya. Sudah jelas Bimo berbohong padanya. Namun Mama tidak ingin terdengar marah pada Bimo. Bimo hanya perlu diberikan penjelasan bahwa berbohong bukanlah yang baik.

Baca juga: Panen Buah

Mama keluar dari kamar kemudian menuju dapur. Dilihatnya Bimo telah menyelesaikan makannya. Anak itu tengah meletakkan piring kotor ke tempat cuci piring. Ia siap mencuci, namun diinterupsi.

“Bimo, nanti Mama aja yang nyuci, ya. Kesini sebentar.”

Bimo menoleh, lalu mengikuti mamanya dengan tenang ke ruang keluarga. Mama menepuk sisi kirinya, meminta Bimo duduk di sana.

“Bimo, Bimo tau kan berbohong itu enggak baik?” tanya Mama.

Bimo mengangguk ragu.

“Bimo bohong ya sama Mama?”

“Soal apa, Ma?”

“Bimo enggak makan bekal di sekolah, makanya Bimo selalu lapar. Ibu wali kelas Bimo bilang Bimo selalu beralasan puasa, padahal Bimo belum mulai puasa. Siapa yang makan bekal Bimo?”

Bimo tidak langsung menjawab. Dia menunduk, memandangi kakinya sendiri.

“Bimo, jawab Mama,” bujuk Mama.

“Mama marah?” tanya Bimo dengan mata berkaca-kaca.

“Enggak, Mama enggak akan marah. Ayo jujur ya.”

Bimo masih tampak ragu. “Eng … beberapa hari yang lalu, waktu Bimo turun dari mobil jemputan, Bimo enggak langsung ke kelas, tapi ke kamar mandi dulu. Bekal Bimo enggak dimasukkin ke tas. Waktu lewat kantin, ada anak laki-laki yang ngerampas bekal Bimo.” Bimo mulai bercerita.

Ketika Mama tidak merespon, Bimo melanjutkan,”Tadinya Bimo marah dan mau lapor Mama, tapi ternyata dia anak salah satu pemilik warung di kantin sekolah Bimo. Dia bilang, walaupun anak pemilik warung, dia enggak pernah boleh makan di sana. Dia selalu disuruh ngamen buat makannya sendiri. Akhirnya Bimo kasih makan siang Bimo setiap hari ke dia karena kasian.”

Mendengar penjelasan anaknya, Mama tersenyum. “Bimo, perbuatan Bimo itu baik, tapi jadi berkurang pahalanya karena Bimo berbohong. Kalau Bimo jujur, Mama bisa telepon pihak sekolah biar mereka bantu anak pemilik warung. Yang penting, Bimo harus jadi anak jujur.”

“Maaf, Ma.” Bimo memeluk mamanya sambil menangis lega karena mamanya tidak marah.

“Nanti Mama telepon pihak sekolah, ya. Bimo harus makan di sekolah, kasian dong masa sendirian enggak makan?”

Bimo mengangguk dalam pelukannya.

Bagikan Artikel ini: