Bagikan Artikel ini:

Mak aku nggolek nang kene?” tanya Budi kepada emaknya, “Iyo, Le,” jawab emaknya. Seperti sore-sore yang lalu, Budi tidak dapat menikmati senjanya bermain di lapangan bola bersama kawan-kawan. Budi punya kebiasaan lain, membantu ibunya mengumpulkan sampah di kampus ternama, bersama adiknya Gandi yang berjarak 4 tahun darinya. Kegiatan mengumpulkan sampah sudah mereka lakukan 1 tahun yang lalu, sejak Budi dan Gandi kehilangan ayah mereka, satu-satunya tulang punggung keluarga.

Hidup di tengah kampus ternama tidak menjamin keluarga budi dapat hidup layak. Di kampus yang berideologi islam ternyata tidak berdampak bagi keluarga Budi yang hidup di bawah garis kemiskinan. Keluarga Budi yang tinggal di rumah yang berdinding triplek dan berukuran 5 X 6 meter persegi. Dari semua tempat di kampus, mereka lebih sering menghabiskan waktu di gedung yang namanya merupakan nama menteri penerangan pada waktu kabinet Soekarno berkuasa, gedung fakultas teknik. Bukan hanya persoalaan sampah-sampah plastik yang membanjiri kantin fakultas tersebut. Budi dan Gandi juga sering bermain dan berjoget karena hampir setiap sore mahasiswa-mahasiswa fakultas teknik sering berdendang di depan kantin.

Kantin bukanlah tempat sembarang di fakultas teknik, yang letaknya tepat di depan kantor lembaga kemahasiswaan, di mana tempat aktivis-aktivis muda yang mengaku membela kaum-kaum seperti keluarga Budi berkumpul. Tapi tetap saja keberadaan keluarga Budi di sana malah dianggap sebagai pengganggu. Tak jarang Budi dapat tatapan sinis saat hendak mengambil sampah plastik yang berserakan.

Mak, iki aku oleh gedhi-gedhi botole,” teriak Gandi dengan gembira kepada emaknya. “Alhamdulillah.” Budi menimpali.

Alhamdulillah yois nduk podo muleh langit wis mendung ki,” ujar Emak sambil merapikan barang-barang rongsok dari Budi dan Gandi.

Sore itu langit tidak secerah biasanya, awan mendung menyelimuti, Budi dan Gandi pun tidak dapat melihat senja berganti petang seperti biasanya.

Sesampainya di rumah Budi teringat, bahwa esok adalah hari kemerdekaan. Dia belum mempersiapkan segalanya mulai dari baju, topi hingga sepatu. Budi teringat sepatunya masih kotor, karena tak sempat mencuci sepatu. Kesibukannya yang setiap hari harus bersekolah dan membantu Emak mencari rongsok, belum ditambah setiap minggu harus membantu emak di tempat laundry. Tak begitu lama merenung Budi langsung bangkit, membersihkan sepatunya, tahu hujan akan turun Budi menaruh sepatu tak jauh dari rumahnya agar tidak terguyur hujan. Selesai mencuci Budi menuju tempat makan, di mana emak dan Gandi sudah menunggu.

­­Seperti biasa lauk yang disediakan pun seadanya nasi, kecap, dan tempe. Lauk seperti itu pun sudah menjadi barang yang mewah bagi keluarga mereka. Pernah suatu ketika keluarga Budi hanya makan nasi dan kecap saja.

Le ojo lali sesuk upacara.” Emak memulai perbincangan,

Inggeh mak, Budi nembe ngumbah sepatu, lebar maem meh ngarap PR terus bobok,” jawab Budi. “Mak, SPP ku wis tagih meneh” dengan suara yang agak lirih.

Paling telat kapan, Le?” tanya Emak kepada Budi dengan suara agak berat.

Tanggal 20 Agustus, Mak,” jawab Budi dengan wajah sedikit menyesal. Emak tidak menjawab.

Mak-mak, mbengi iki Gandi sinau baca tulis ya, Mak,” ungkap Gandi dengan semangat.

“Iyo, lebar maem, sekalian emak beres-beres,” jawab Emak dengan mengambil nafas berat. Emak beberapa hari ini harus kerja lembur disalah satu tempat laundry dikampus, untuk membayar tagihan SPP Budi yang hampir jatuh tempo.

Malam ini tak ubahnya malam seperti malam biasa bagi Budi mengerjakan PR dan menyiapkan buku pelajaran untuk esok. Budi pamit tidur kepada ibu yang masih sibuk mengajari Gandi membaca huruf alfabet. Sebelum tidur Budi menilik letak sepatu dan masih berada dalam posisinya. Budi tidur terlelap.

Wis ya le sinaune diteruske sesuk,” ujar ibu kepada Gandi.

Ha, Mak, kulo tasih pengen sinau,” ucap Gandi dengan rasa kecewa. Emak langsung bangkit dan berbenah. Gandi langsung menuju kamar mandi yang terletak di luar rumah, tak jauh dari pintu keluar Gandi melihat sepatu kakaknya. Sepatu Budi tergeletak di depan pintu rumah dan masih sediki basah. Gandi langsung menaruh sepatu tepat di luar rumah, di mana Ibu sering menjemur pakaian. Tak lama kemudian Gandi langsung menuju kamar tidur dan terlelap dalam pelukan ibu.

Malam itu hujan deras.

Budi bangun dengan semangat tak seperti biasanya, karena hari ini Hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia yang ke- 70, meskipun udara masih dingin karena hujan semalam. Waktu menunjukan pukul 06.00 dan Budi sudah bersiap untuk berangkat sekolah, ketika hendak mengambil sepatu Budi heran kemana sepatunya. Budi mendatangi Ibu yang sedang mencuci.

Bu, sepatune nang ndi kok ora ono?“ tanya Budi terburu-buru.

Wingi mbengi diseleh ndi?” tanya Ibu pada Budi.

Kae mak nang ngarep lawang, wingi lebar tak kumbah, meh tak angin-anginke,” jawab Budi dengan nada semakin panik.

Gandi terbangun dari tidurnya dan sadar bahwa kak Budi mencari sepatunya, Gandi keluar mengambil sepatu kakak budi dengan semangat, setelah kejadian ayah meninggal hubungan Gandi dengan Budi sedikit renggang. Budi masih menganggap Gandi sebagai biang keladi meninggalnya ayahnya.

Ojo seru-seru Bud, kae Gandi tangi kan,”ujar Ibu kepada Budi.

Gandi tangi dewe mak, kelingan mas Budi arep sekolah, sepatune tak pepe Gandi mau mbengi,” ungkap Gandi. Dengan wajah yang sudah kembali ceria lagi, Budi memperhatikan Gandi mengambil sepatu di dekat tempat mereka menjemur pakaian.

Gandi kaget saat melihat sepatu Budi yang bukannya mengkilap dan kering akan tetapi malah semakin basah. Dengan kepala menunduk Gandi mengambil sepatu dan memberikannya kepada Budi. Wajah Budi langsung merah padam.

Piye iki kok sepatu tambah teles, sekolah nganggo opo aku?!” bentak Budi Kepada Gandi. Gandi tidak menjawab. Air matanya berlinang seketika, Ibu langsung memeluk Gandi.

Tanpa memperhatikan Ibu, Budi terus membentak Gandi. Sampai habis marah Budi, ia langsung pergi tanpa mengucapkan salam kepada ibundanya seperti biasa. “Ah!” gerutu Budi. Nasib sial ini tidak pernah dibayangkan oleh Budi. Hari kemerdekaan yang ingin dia nikmati dengan upacara bendera gagal. Budi terus pergi tanpa pamit akan pergi kemana. Ke sekolah jelas malu, tanpa sepatu, dia hanya akan dihina lagi oleh kawan-kawannya. Belum habis dia dihina soal tidak memakai seragam sekolah yang bersih sudah akan dihina karena ke sekolah tidak memakai sepatu.

Hari sangat cerah bahkan awan pun tidak terlihat, tapi berbeda dengan suasana hati Gandi bahkan awan mendung-pun tidak mau pergi meninggalkan hatinya. Ibu tidak terlalu memperhatikan Gandi pagi itu, karena kesibukannya di pagi hari sebagai buruh cuci di salah satu laundry dekat kampus ternama tersebut. Seharian Gandi hanya merenung di kamar sambil menatap foto almarhum ayahnya.

Tak terasa satu hari pun telah berlalu, matahari telah memunggungi bumi. Rutinas mencari botol dan sampah plastik tidak dilakukan, Ibu masih harus lembur ditempat laundry. Sore itu langit mendung seolah pertanda akan segera hujan. Gandi masih sendirian di rumah, tangan kanannya memegang foto almarhum bapak, sedangkan tangan kirinya meremas perut, yang sedari pagi belum makan. Budi masih belum menampakkan tanda-tanda akan pulang.

Budi masih berjalan, berjalan mengikuti kenangan bersama almarhum ayahnya waktu bermain di kala senja, di tengah kota. Gerimis rintik-rintik hujan turun, Budi mulai kebingungan, dilihatnya terpal berdiri di tengah alun-alun kota. Budi langsung lari menuju sana. Hujan semakin deras, rasa lapar yang coba ditahan Budi kini semakin menjadi-jadi. Tak dirasanya juga air matanya mulai mengalir membasahi pipi. Hujan deras, semakin menambah deras air mata yang keluar.

Hujan dan alun-alun kota ini mengingatkan Budi akan almarhum ayahnya. Tepat 1 minggu sebelum ayahnya wafat, Budi diajak untuk ikut dalam pengajian yang diadakan di alun-alun. Kyai yang mengisi bukanlah kyai biasa. Dengan memadukan musik gamelan dan lagu Arab menjadikan pengajian ini menarik bagi Budi, selain kyai ini adalah kyai favorit ayahnya.

“Hanya dengan sepotong tempe, sesorang akan lebih merasa nikmat daripada temannya yang makan sepotong daging, ini yang disebut ilmu syukur, Hidup hanya persoalaan sabar dan syukur, tergantung kita diberi syukur atau sabar dulu.” Begitu ucapan kyai yang selalu Budi ingat. Hujan sudah sedikit reda. Budi teringat pesan terakhir ayahnya.

Di waktu perjalanannya pulang selepas dari pengajian bersama ayahnya, ayahnya berpesan kepada Budi “Le, elingno pengajian mau, koe anak mbarep kudu iso njaga emak karo Gandi.” Budi sadar bahwa itu bukan untuk dijawab tapi untuk dijalankan. Budi selesai bermuhasabah.

Hujan sudah berhenti, waktu menunjukkan pukul 20.00. Budi bangkit dan berlari menuju rumahnya. Tak dihiraukannya genangan-genangan air yang dia injak dan membasahi pakaian kotornya. Emak sudah pulang, membawa 3 potong ayam krispy kerja hasil lemburnya hari ini. Emak menuju pawon untuk menyiapkan makan malam buat mereka bertiga. Emak tersenyum melihat Gandi masih sibuk dengan kertas yang berserakan di ruangan kamar yang hanya diterangi senthir. Tampak juga pensil warna berserakan.

Le, mas Budi wis muleh?” tanya ibu kepada Gandi, sambil menyedot ingus di hidung Gandi menjawab,“Dereng, Mak.”

Emak khawatir, persoalaan tadi pagi ternyata belum selesai. Bau ayam krispy pun tidak menghilangkan kekhawatiran Emak. Emak pun langsung menyiapkan makanan di meja makan dan menyuruh Gandi segera makan.

Maem sik le, sedino koe gurung makan kan,” ujar emak kepada Gandi.

Sedilit maleh bu, nenggo mas Budi,” jawab Gandi kepada ibunya. Perasaan Emak semakin khawatir.

Budi terus berlari, dan sampailah di depan rumah dengan pakaian yang basah karena cipratan genangan air tadi.

“Assalamualaikum!” teriak Budi sambil membuka pintu rumah.

“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh,” jawab Emak dan Gandi bersama-sama. Senyum lebar menghiasi bibir mereka bertiga. Tanpa basa-basi Budi pun langsung menuju meja makan. Gandi sigap berdiri sambil menyerahkan hasil karyanya seharian, gambar keluarga mereka yang masih utuh. Budi terharu. Malam itu menjadi momen yangberarti bagi Budi, bukan sekedar makan enak saja, tapi dia belajar akan hidup. Hidup hanya persoalan syukur dan sabar.

 (Helmy Badar Nahdi)

Bagikan Artikel ini: