Bagikan Artikel ini:

Ditengah ketar-ketirnya masyarkat dalam menanggapi masalah pandemik Novel coronavirus [nCov-19] ini. Kemenkes menyebutkan hingga 2 April 2020, disinyalir dari situs resminya, jumlah masyarakat yang terinfeksi dan terpapar oleh pandemik ini berjumlah 1.790 orang positif, 112 orang sembuh, 170 orang meninggal dengan positif nCov-19. Kematian yang disebabkan dari virus ini sudah mencapai rasio 10% lebih tinggi dari angka normal negara dunia yang terpapar nCov-19. Disinyalir Indonesia sebagai negara yang akan terkena dampak massive destructive. Dari melemahnya perekonomian, naiknya nilai tukar rupiah ke-dollar, terhambatnya laju pendidikan, hilangnya lapangan pekerjaan para buruh, kenaikan harga pangan, rendahnya pendapatan pedagang kaki lima, kelangkaan alat pelindung kesehatan hingga kelaparan.

Illustruasi kondisi masyarakat saat ini oleh Nathalie Lees

Dilihat dari kacamata sejarah

Virus corona pertama kali diidentifikasi sebagai penyebab flu biasa pada tahun 1960. Hingga pada tahun 2002, virus itu belum dianggap fatal. Tetapi, pasca adanya Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS-Cov) di China, para pakar mulai berfokus pada penyebab dan menemukan hasil apabila wabah ini diakibatkan oleh bentuk baru corona. Pada tahun 2012, terjadi pula wabah yang mirip yakni Middle East Respiratory Syndrome (MERS-Cov) di Timur Tengah. Dari kedua peristiwa itulah diketahui bahwa corona bukan virus yang stabil serta mampu berdaptasi menjadi lebih ganas, bahkan dapat mengakibatkan kematian. Sejak itulah, penelitian terhadap corona semakin berkembang.

Virus corona sendiri terbagi menjadi empat jenis genus, yakni:

Alpha coronavirus

Beta coronavirus

Gamma coronavirus

Delta coronavirus

Virus corona yang menyerang manusia hanya berasal dari genus alpha dan genus beta, genus yang paling berbahaya. Sedangkan virus corona yang menyerang hewan adalah genus delta serta genus gamma.

Benarkah satwaliar berperan membawa Novel coronavirus [nCov-19]?

Banyak yang menalutrasikan bahwa penyebab terbesar paparan [ nCov-19 ] adalah satwa liar atau wildlife. Dimulai dari kelelawar, anjing, babi, tikus, kucing hingga Tringgiling.

Dikutip dari MANGOBAY.co.id, Peneliti Mikrobiologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia [LIPI], Sugiono Saputra, menjelaskan, satwa liar memang ada yang dikonsumsi sebagai sumber makanan atau obat. Tetapi, risiko biologis pengolahan hewan tersebut juga ada, yaitu transfer virus [transmisi patogen].

Tringgiling yang diduga sebagai perantara virus corona. Foto: Rhett Butler/Mongabay

Sugiono menegaskan, trenggiling merupakan sumber virus baru corona karena kesamaan material genetik virus corona pada manusia yang terinfeksi, berdasarkan penelitian di Guangzhou, Tiongkok.

“Indikasi virus corona berasal dari kelelawar, melalui perantara salah satunya trenggiling. Artinya, kehidupan kita dekat sekali dengan satwa liar. Maka kewaspadaan itu harus ada,” ujarnya.

“Namun, kesamaan material genetik virus corona pada trenggiling bukan berarti menjadikannya hewan penyebab virus baru corona di Wuhan. Namun, trenggiling sebagai peratara virus yang berasal dari kelelawar,” ujarnya.

Dengan demikian, jual beli daging eksotis, penangkapan kelelawar, serta perburuan trenggiling perlu ditinjau kembali secara bertahap. Apalagi, kegiatan tersebut turun temurun. Terpenting adalah, memberikan edukasi yang baik kepada masyarakat terhadap penyebaraan virus tersebut dari hewan liar.

“Kemudian, harus ada pengawasan berkelanjutan dari aspek ekologi, untuk kelestariannya di alam. Bahkan, perlu juga pengawasan mikrobiologi, terutama potensi penyebaran virus [potensial patogen] dari hewan,” lanjut Sugiono.

Keterikatan Satwa liar, Manusia, dan Corona

Keserakahan adalah kalimat yang dapat memulturasikan jika mengambarkan sifat manusia saat ini. Dari mengkonsumsi satwa liar, perdagangan satwa (wildlife trade), hingga ingin memlihara satwa liar dirumah.

Orangutan selaku fauna endemik Indonesia, yang tersebar di gugus pulau Kalimantan dan Sumatera. Yang keberadaannya kini kian terancam. Jika dapat dilihat keterkaitan ikatan dari corona, manusia, dan satwa liar sangatlah dekat. Mahluk hidup berharmoni membuat suatu suakakesatuan. Jika salah satunya terancam keberadaan dan hidupnya. Maka mahluk hidup lain dapat dipastikan akan terancam juga.

Orangutan dan pengasuhnya berjabat tangan di pusat rehabilitasi orangutan di COP Broneo

Sehingga dapat dibenarkan bahwa segala sesuatu pasti ada konsukensinya. Mengkonsumsi satwa liar merupakan indikasi inti dari penyebaran virus nCov-19 ketubuh manusia melalui perantara satwa. Jika ditangani lebih lanjut, dengan berhenti mengkonsumsi satwa, memperdagangkan, menutup pasar satwa, membiarkan satwa liar tetap liar, dan memberikan sanksi yang berat bagi yang melanggarnya adalah langka paling baik untuk menjaga keharmonisan ekosistem mahluk hidup yang ada di Indonesia.

Bebas Liar atau Terkurung selamanya

Pingpong dan tatapan kosongnya sedang memakan buah sirsak, salah satu orangutan yang sedang direhab di Pusat Rehabilitasi Orangutan Borneo (COP Borneo)

Now, you know how orangutan feel. When they stuck in a cage.

‘’Sekarang, kamu tau apa yang orangutan rasakan. Ketika mereka terperangkap dikandang.’’ kata Daniek ketika diwawancarai mengenai keterkaitan Satwa dan Corona, selaku direktur dari Center For Orangutan Protection (COP). (31/03/2020).

Sebagai langkah preventif pencegahan dan penyebaran virus nCov-19 pemerintah pusat menetapkan masyarakat agar melakukan social distancing (menjaga jarak), pembatasan sosial skala besar, dan pelarangan mudik. Sesuai dengan ulitmatum Presiden Joko Widodo pada 1 April 2020, mengenai langkah penangulanggan bencana kemanusiaan ini.

Hal ini membuat terganggunya aktivitas dan ruang gerak masyarakat. Jika ingin lebih aman, baiknya berdiam diri dirumah tambah Presiden Joko Widodo. Kebijakan ini terlihat berat terutama bagi kaum millenial yang tidak bekerja dan sedang menempuh pendidikan di institusi sekolah atau kuliah.

Interaksi sosial dan ruang gerak dibatasi ini sama halnya dengan kondisi orangutan yang berada pada fase dipelihara oleh manusia. Dikurung, tidak-bebas, liar dan tidak ditempat seharusnya.

‘’Sekarang tau kan rasanya dikandangin. Belum dua minggu diminta isolasi diri sudah stress, protes dan mati gaya. Orangutan ini sudah “lock down” bertahun tahun karena ulah manusia.” tegas Daniek.

‘’Apa mau selamanya kita seperti ini? Dikarantina dan berdiam diri berminggu-mingu lamanya tidak bisa melakukan ativitas seperti sediakala. Seperti halnya satwa yang banyak kalian plihara.’’ ujarnya.

Kalian yang menentukan.

Bagikan Artikel ini: