Bagikan Artikel ini:

Judul : Wiji Thukul Teka-Teki Orang Hilang

Penulis : Seri buku tempo prahara-prahara orde baru

Penerbit : KPG

Tahun Terbit : 2013

Biji Tumbuh : Catatan Pelik dibalik Diplomatik Rezim Orde Baru

Peringatan

Jika rakyat pergi

Ketika penguasa pidato

Kita harus hati-hati

Barangkali mereka putus asa

 

Kalau rakyat sembunyi

Dan berbisik-bisik

Ketika membicarakan masalahnya sendiri

Penguasa harus waspada dan belajar mendengar

 

Bila rakyat tidak berani mengeluh

Itu artinya sudah gawat

Dan bila omongan penguasa

Tidak boleh dibantah

Kebenaran pasti terancam

 

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang

Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan

Dituduh subversif dan mengganggu keamanan

Maka hanya ada satu kata : lawan!

 

              Seberapa banyak pahlawan dibalik orde baru? Seberapa banyak orang-orang hilang tanpa jejak ditenggelamkan oleh rezim orde baru? Seberapa banyak teka-teki orang hilang pada masa orde baru lenyap tak ada kabar, perjuangannya dilupakan  dan nasibnya dikesampingkan.

Hingga masa kini.

Widji Widodo atau yang lebih sering disapa ‘Wiji Thukul’ merupakan catatan pelik dibalik diplomatik rezim orde baru. Wiji Thukul lahir di Solo, 26 Agustus 1963. Memulai pendidikannya di bangku SMP dan melanjutkan Pendidikan di jurusan Tari Sekolah Menengah Karawitan Indonesia, namun tidak tamat. Tidak melanjutkan sekolah dengan alasan mengalah dengan adiknya karena bapaknya yang sudah tua dan hanya berprofesi sebagai tukang becak. Namun siapa sangka, pergolakan hidupnya dimulai dengan pilihannya untuk tidak melanjutkan sekolah. Thukul memulai hidup dengan berjualan koran dan menjadi tukang pelitur di perusahaan mebel. Ia menulis puisi semenjak SD dan berteater semenjak SMP. Thukul lantas bergabung dengan Teater Jagat yang menjadi awal mula puisi-puisi nya tumbuh dan menggerogoti jiwanya. Tahun 1986 lahir puisi yang terkenal dan dibacakan pada demonstarsi hari buruh, lantas ia resmi menjadi buronan aparat pemerintahan akan puisninya. Puisi yang ia tuliskan bukan tentang protes, namun protes itu sendiri dengan gaya bahasa yang melebur di setiap momen terjadinya aksi protes yang berpihak pada kaum bawah.

Dari kota ke kota merupakan bab pertama menceritakan persembunyian Thukul yang berpindah-pindah dari Solo ke Salatiga, Yogyakarta, Magelang, Jakarta, dan Kalimantan. Sambil bersembunyi, namun gerakan bawah tanahnya tetap menentang orde baru, mengkoordinasi buruh. Ia juga tetap menulis puisi ditengah pelariannya. Hingga pertemuan terkahirnya di Parangtritis bersama sipon dan anaknya, setelah itu ia lenyap tanpa kode.

Hilang dalam prahara dimulai Ketika tantara membentuk tim untuk menculik sejumlah aktivis. Sembilan orang dibebaskan, belasan lainnya masih hilang hingga kini. Lelaki di ruang interogasi berulang kali menyebutkan nama Thukul kepada korban penculikan  dengan kesimpulan bahwa Thukul sudah lama menjadi target operasi. Namanya ada di barisan demonstran Kedungombo, Sritex, dan sejumlah demonstran di Solo. Setelah masuk Partai Rakyat Demokratik, ia hijrah ke Jakarta menjelang reformasi 1998. Ia hilang tak tentu rima. Tetapi puisinya abadi dan menjadi teriakan wajib para demonstran : hanya ada satu kata, lawan!

Kisah tentang Wiji Thukul merupakan jilid perdana seri “Prahara-prahara Orde Baru”, yang diangkat dari liputan khusus Majalah Berita Mingguan Tempo Mei 2013. Serial ini menyingkap dan mengingat kembali berbagai peristiwa gelap kemanusiaan pada masa orde baru yang nyaris terlupakan. Dikemas dengan data-data yang jelas dan penggambaran peristiwa yang lugas sehingga mudah dimengerti.

Namun, walaupun dengan beraninya kata-kata dan data yang disajikan penulisan sedikit membingungkan karena latar waktu yang digunakan maju mundur sehingga harus teliti dalam membaca setiap babnya agar tidak keliru dalam waktu yang disampaikan. Pada awal-awal bab disampaikan foto dan keterangan hotel tempat Thukul menginap yang tidak terlalu penting untuk dimasukkan dalam penulisan karena dalam halaman-halaman lain penulisan fokus pada kisah Thukul yang menggebu, sedangkan jika ditaruh data Hotel tempat Thukul menginap membuat rasa penasaran dan menggebu dalam membaca hilang walaupun ditulis dengan baik.

Secara keseluruhan buku ini sangat baik untuk dibaca, apalagi untuk anak 2000-an keatas yang tidak mengalami masa orde baru atau anak 1933-1998 yang masih bercelana pendek Ketika Soeharto jatuh. Mengulang, mengenang, dan menyelisip Kembali perjuangan pada masa orde baru dengan penggambaran peristiwa yang lugas dan kata-kata yang mudah dipahami. Jasmerah : Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah!

Bagikan Artikel ini: