Bagikan Artikel ini:

Jauh. Kata Agustinus Wibowo dalam bukunya Titik Nol, masih menjadi obsesi yang merasuki tiap orang. Marco Polo melintasi perjalanan panjangnya dari Vanesia hingga Negeri Mongol di Daratan China. Para pengelana lautan berlayar mengarungi samudra yang luas, para pendaki menyambung nyawa menaklukkan puncak-puncak tertinggi di muka bumi, tak cukup sampai di situ rasa penasaran dan mistisnya kata jauh mengantarkan manusia-manusia menembusi langit bumi, mencoba menapakkan kaki-kaki mereka lebih jauh lagi, mengungkap tabir angkasa yang penuh tanda tanya. Mencatatkan sejarah yang memperkaya khazanah peradaban, dimulai dari mimpi-mimpi dan perjuangan untuk mencari sebuah makna dalam perjalanannya.

Terpesona dengan hal serupa akan daya tarik dan mistisnya kata ‘jauh’ yang diliputi misteri, saya menceburkan diri dalam perjalanan dan pencarian makna, jauh dari rumah, jauh dari kebiasaan dan jauh yang tanpa satuan. Tak sejauh para pengelana yang menaklukkan samudra-samudra, pendaki yang menaklukkan seluruh puncak-puncak tertinggi di muka bumi atau bahkan antariksawan yang menembus langit mengungkap tabir angkasa yang penuh tanda tanya. Garis waktu kali ini membawa saya dalam perjalanan bertajuk ekspedisi sosial.

Ekspedisi Sosial ini merupakan sebuah program yang diadakan oleh Indonesian Youth Social Expedition (IYSE) di bawah naungan Indonesian Youth And Leader Empowerment (IYALE) Institute, sebuah organisasi kepemudaan yang mempunyai tujuan untuk membentuk pemuda-pemudi Indonesia yang berkomitmen tinggi dalam meningkatkan kualitas diri sebagai pemimpin di masa depan demi Indonesia yang sejahtera dan bahagia. Sebuah tujuan mulia yang patut untuk diamini dan diwujudkan. Program ekspedisi ini merupakan kali kedua diadakan oleh IYSE, dalam programnya yang kedua ini pilihan destinasi pengabdian ada di tiga tempat yaitu Pangandaran, Toraja dan Wakatobi. Semua pilihan destinasi menyajikan keunikan, khazanah budaya dan potensinya masing-masing, sebuah pilihan yang cukup sulit. “Opto Ergo Sum.” Aku memilih maka aku ada, kata Dewi Lestari dalam Serial Supernova-nya yang pertama, menegaskan bahwa manusia tidak akan pernah lepas dari memilih, hidup ini memang akan selalu penuh oleh pilihan-pilihan.

Dengan memilih manusia akan memberikan makna dalam tiap fase hidupnya. Pilihan pengabdian saya jatuhkan pada Wakatobi. Sebuah daerah taman nasional kelautan di Sulawesi Tenggara, tepatnya di Pulau Kaledupa. Bukan tanpa alasan, wilayah pesisir, kepulauan dengan pulau-pulau kecil yang dikelilingi lautan, adat dan budaya yang masih kuat terjaga, jarak yang relatif lebih jauh, waktu perjalanan yang relatif lebih lama, perjalanan melalui jalur laut yang belum pernah saya lakukan sebleumnya dan tentunya potensi-potensi kekayaan wilayahnya yang belum terjamah merupakan alasan lain saya memilih Wakatobi sebagai destinasi pengabdian. Alhamdulillah, saya termasuk 16 peserta terpilih yang lolos dari ribuan kandidat lain sebagai volunteer untuk IYSE Vol. 2 (fully funded) di Wakatobi setelah mengikuti rangkaian seleksi mulai dari berkas pada tahap pertama hingga wawancara pada tahap kedua.

Kata Pramoedya Ananta Toer “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Mengikuti kata Pram, sebagai bagian usaha bekerja untuk keabadian, maka saya mencoba menuliskan kepingan-kepingan perjalanan saya ini. Tidak akan sama persis seperti yang terjadi, akan banyak kekurangan yang disebabkan kurang sempurnanya ingatan, keterbatasan kemampuan menulis dan miskinnya perbendaharaan kata-kata. Namun setidaknya beginilah ringkasan perjalanan saya selama ekspedisi ke Wakatobi:

Perjalanan ke lokasi pengabdian dimulai dengan berkumpul di meeting point, Surabaya North Quay. Di sini dilakukan briefing dan perkenalan antar sesama relawan dan fasilitator. Perjalanan dilakukan melalui jalur laut. Kapal yang kami tumpangi merupakan kapal penumpang dari PT. PELNI dengan nama Kapal Meyer Ciremai tahun 1993 yang telah direnovasi pada tahun 2013 dengan kapasitas penumpang sekitar 1500 orang. Kami berangkat pada tanggal 28 Agustus 2018, perjalanan akan ditempuh dalam kurun waktu 3 hari 2 malam dengan rute keberangkatan Pelabuhan Tanjung Perak (Surabaya) – Pelabuhan Makassar (Makassar) – Pelabuhan Marhum (Bau Bau) – Kaledupa (Wakatobi). Kapal PELNI hanya mengantarkan kami hingga Pelabuhan Marhum di Bau Bau sedangkan untuk mencapai Pulau Kaledupa digunakan kapal yang jauh lebih kecil, kapal tongkang kayu tiga lantai dengan kapasitas penumpang sekitar 100 orang, perjalanan dengan kapal kayu ini memakan waktu kurang lebih setengah hari.

Beruntungnya, pada tanggal-tanggal terebut gelombang laut dalam kondisi stabil, tidak seperti biasanya yang dapat mencapai enam meter tingginya, kali ini tidak terlalu kencang, alhamdulillah. Saat di kanan kiri kapal terdapat kawanan lumba-lumba yang melompat-lompat dari dalam laut ke permukaan itu artinya kami sudah dekat dengan pulau tujuan, kami telah memasuki wilayah Taman Nasional Wakatobi. Kapal Tongkang kayu dengan nama Aksar Putra II ini bersandar di Kaledupa pukul 08.00 WITA pada tanggal 31 Agustus 2018. Merupakan pengalaman pertama bagi saya melakukan perjalanan laut dengan jarak sejauh itu dan juga pengalaman tidak terlupakan menyaksikan lansung kawanan lumba-lumba berlarian di habitatnya dibarengi dengan terbitnya matari.

Selama kurang lebih sepekan di Kaledupa kami akan tinggal di rumah Kepala Desa Ollo karena program yang kami jalankan paling banyak porsi aktivitasnya di Desa Ollo. Dalam ekspedisi sosial ini kami membawa pelbagai macam program kerja sesuai dengan divisi masing-masing, ada empat divisi dalam ekspedisi ini yaitu Pendidikan, Kesehatan, Sosial dan Lingkungan, kemudian yang terakhir adalah Ekonomi Kreatif dan Pariwisata. Waktu efektif yang hanya sepekan rasanya sangat singkat untuk menjalankan program kerja berbasis pengabdian yang padat,  dikatakan sepekan karena tanggal 8 September 2018 kami harus kembali ke titik awal di Surabaya, mengikuti rute yang sama dengan rute keberangkatan. Namun dengan keterbatasan waktu tersebut kami berusaha mengoptimalkan program-program yang telah kami rancang agar dapat berjalan dengan efektif dan berkelanjutan. Saya sendiri berada di divisi pendidikan.

Padatnya program kerja menyebabkan adanya program-program kerja yang dilaksanakan pada waktu yang sama, maka hanya beberapa program kerja yang saya ikut terlibat di dalamnya antara lain: Saung Pintar – membangun tempat membaca dan berdiskusi yang bisa diakses bebas oleh warga sekitar, Fun English, Kelas Inspirasi dan Kebangsaan, Konsultasi Belajar yang semuanya ada di divisi pendidikan.

Kemudian dari divisi lain ada Workshop – penanggulangan limbah plastik dengan menggunakan media Eco Brick, Konservasi Area Mangrove – penanaman bibit pohon mangrove yang merupakan program divisi Sosial dan Lingkungan, kemudian di divisi Eknomomi Kreatif dan Pariwisata ada Budidaya Tanaman Hidroponik – mengatasi terbatasnya sayur di Kaledupa, Wakatomang –  workshop pengelolaan potensi buah mangrove Kaledupa menjadi produk pangan bernilai ekonomi yang ternyata belum dimanfaatkan sama sekali.

Masyarakat di sana sangat antusias dengan program-program yang kami bawa, bagi mereka hal-hal yang dipaparkan dan dibawa dalam program kerja tersebut merupakan pengetahuan baru bagi mereka. Tentunya kami tidak ingin program kerja yang dijalankan hanya berakhir pada saat itu, untuk itu kami meninggalkan kontak pihak-pihak yang dapat dihubungi untuk keperluan-keperluan terkait, misalnya untuk produk kemasan, pengadaan nutrisi hidroponik dan terkait bahan-bahan baku lain yang masih sulit didapatkan di Kaledupa, mengingat lokasi yang ada di daerah kepulauan jauh dari pusat industri bahan-bahan terkait.

Dimana hatimu berada, disitulah hartamu berada.” Kalimat Paulo Coelho yang Ia sematkan dalam bukunya Sang Alkemis (The Alchemist) benar adanya, integral dari kalimat tersebut, saat kita melakukan suatu dengan sepenuh hati akan sama artinya kita telah membagikan harta kita dengan orang-orang, menebar kebahagian dengan menebar kemanfaatan. “Pengalaman tak terlupakan, menantang, menenangkan, menyenagkan” merupakan sederet kata yang saya dapatkan dari teman-teman ekspedisi sosial di Wakatobi kali ini. Semoga apa yang saya, kami berikan di sana dapat bermanfaat, berlanjut dan menjadi amal seterusnya untuk semua pihak yang terlibat. Lebih lanjut melalui peran kecil kami di sana dapat menjadi bagian dari terwujudnya Indonesia sejahtera dan bahagia.


Ingin berkontribusi dengan cara menulis seperti ini? Yuk, simak ketentuannya pada tautan berikut

Bagikan Artikel ini: