Bagikan Artikel ini:

Rilis pada tanggal 22 Desember lalu, film Hangout sukses merebut perhatian penonton Indonesia, terbukti, hingga hari ini, jumlah penontonnya sudah lebih dari 1 juta orang. Angka yang sangat tinggi untuk film lokal.

Film dibuka dengan adegan Raditya Dika yang tengah berakting di sebuah film (iya, film di dalam film) kemudian mendapatkan undangan bertuliskan ‘Hangout’. Begitu pun dengan Soleh Solihun yang digambarkan sebagai pembawa acara talkshow yang merasa lelah dengan profesinya. Secara tidak langsung, sikap Soleh juga merupakan sindiran akan banyaknya acara yang lebih menonjolkan drama daripada kualitas.

Mereka kemudian mendatangi titik kumpul yang di sana ternyata sudah ada Surya Saputra dan Mathias Muchus. Tidak hanya itu, mereka juga akhirnya bertemu dengan Bayu Skak, Gading Marten, Titi Kamal, Dinda Kanya Dewi, dan Prilly Latuconsina. Petualangan mereka di pulau tidak berpenghuni pun dimulai. Meski awalnya mereka senang dengan undangan (dan uang) yang mereka terima, namun perlahan-lahan kesenangan mereka berubah menjadi ketegangan karena satu per satu dari mereka tewas terbunuh. Orang yang tersisa pun harus bertahan dengan segala teka teki tentang siapa sebenarnya pembunuh rekan-rekan mereka.

Dari ide cerita, saya cukup mengapresiasi usaha Raditya Dika untuk keluar dari zona nyamannya. Jujur saja, bila film ini masih mengandalkan plot jomblo, belum bisa move on, atau usaha menemukan pacar baru, saya tidak akan tertarik menontonnya. Tema itu sudah terlalu usang untuk bisa menarik rasa penasaran saya. Namun genre thriller-komedi memang baru saya temui di film Hangout ini. Bila anda sudah pernah menonton Pee Mak Phrakanong, film horror-komedi asal Thailand, mungkin anda akan merasakan atmosfer yang sama.

Keputusan Raditya Dika untuk menjadikan pemainnya berperan sebagai dirinya sendiri saya nilai sangat tepat. Banyak sekali joke yang membuat tertawa lepas karena aktor dan aktrisnya berperan sebagai diri mereka sendiri. Saya sendiri paling suka dengan karakter Dinda Kanya Dewi dan Soleh Solihun yang bukan hanya membuat terpingkal, tapi juga membuat saya berpikir bahwa ternyata artis juga manusia biasa yang dekat dengan karakter kita sehari-hari. Akting Surya Saputra dan Gading Marten juga ternyata jauh melampaui ekspektasi saya.

Sepanjang film, saya dibuat tegang, menebak-nebak siapa pelaku pembunuhannya dan tentu saja tertawa dengan porsi yang pas. Beberapa joke memang terasa garing, tapi berhasil ditutupi oleh tensi yang kembali dinaikkan. Audio effectnya juga berhasil menambah suasana tegang yang bahkan membuat saya menahan napas.

Secara keseluruhan, saya menilai ini adalah karya terbaik dari Raditya Dika. Walaupun genre ini saya nilai sebagai genre yang keluar dari zona nyamannya, namun nyatanya kualitasnya melebihi ekspektasi saya. Raditya Dika berhasil menyedot perhatian penonton tanpa memberikan sedikit pun spoiler pada trailernya. Bila anda merasa ada spoiler pada trailernya, artinya anda harus menonton film ini.

Namun tentu saja, tidak ada film yang sempurna. Salah satu hal yang bisa menjadi catatan adalah kurang gregetnya acting dari Raditya Dika sendiri. Bahkan dalam salah satu scene, Raditya Dika mengkritik aktingnya sendiri melalui dialog Surya Saputra dan Mathias Muchus. Begitupun dengan Prilly yang terkesan maksa di beberapa adegan.

Film asli Indonesia ini layak menjadi pengisi liburan anda. Jangan lupa, hindari menonton trailernya karena komentarnya penuh dengan spoiler.

Bagikan Artikel ini: