Bagikan Artikel ini:

 

SOLIDpress.co, Seputar Kampus– Dalam rangka memperingati hari Hak Asasi Manusia Internasional yang jatuh kemarin, 10 Desember 2016, Keluarga Mahasiswa UII (KM UII) gelar aksi di kilometer nol Malioboro. Berbeda dari tahun sebelumnya, kali ini KM UII mengangkat tema HAM yang berkaitan dengan kasus serta konflik agraria di DIY.

Ditemui di sela-sela aksi, Mawardi, selaku Kordinator Umum aksi mengatakan bahwa latar belakang aksi ini diselenggarakan dikarenakan KM UII sudah lama tidak turun ke masyarakat, sehingga imbasnya masyarakat tidak mengetahui pergerakan apa yang telah dan sedang dilakukan KM UII.

“Pertama, tujuan kita untuk mengatakan kepada masyarakat bahwa KM UII masih mendukung dan melindungi masyarakat yang ditindas oleh pemerintah. Kedua, sebagai aksi solidaritas terhadap masyarakat Kulon Progo yang sampai saat ini hak-haknya masih belum dipenuhi oleh pemerintah daerah maupun pusat. Ketiga sebagai titik awal untuk menyatukan frame teman-teman lembaga mahasiswa UII sehingga bisa lebih solid mengawal kasus-kasus lainnya,” jelas Mawardi.

Ditanya mengapa lebih mengarah ke isu agraria, mahasiswa yang menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Permusyawaratan Mahasiswa UII ini menjelaskan karena isu agraria belum pernah dikawal oleh KM UII.

Mawardi menambahkan bahwa pemilihan isu agraria saat ini juga bertepatan dengan momentum yang berkaitan dengan konflik Agraria akibat pembangunan New Yogyakarta Internasional Airport (NYIA) di Kulon Progo.

“Selain momen yang pas, hal itu setidaknya bisa memberikan refleksi kepada masyarakat Jogjakarta bahwa DIY tidak sebaik yang kita kira, karena masih banyak masalah agraria yang sampai sekarang belum terselesaikan, ” ujar Mawardi.

Ketua Lembaga Eksekutif Mahasiwa UII (LEM UII) Indra Putra Nugraha juga menyampaikan bahwa isu agraria saat ini menjadi urgensi penting untuk dikawal karena dampak pembangunan yang semakin masif dijalankan oleh pemerintah, khususnya di DIY.

“Pemerintah DIY memaksa warga untuk memberikan tanahnya dan kemudian berakhir menjadi konflik yang sampai sekarang belum terselesaikan, maka KM UII patut mengangkat isu agraria ini,” jelas mahasiswa Fakultas Ekonomi ini.

Aksi KM UII ini membawa enam tuntutan yakni menolak penerapan UUK sebagai hukum pertanahan di DIY, menolak dualisme hukum pertanahan di DIY, menerapkan UUPA sebagai hukum pertanahan di DIY sepenuhnya, menolak segala tindakan represif pemerintah terhadap hak atas tanah masyarakat, mengecam segala peristiwa konflik agraria di DIY, dan menuntut penegakkan perlindungan HAM sebagai perwujudan reforma agraria.

Dalam pengawalan isu agraria ini, menurut Indra, tidak menutup kemungkinan untuk ikut bergabung dengan elemen pergerakan di DIY yang telah mengawal lebih dahulu, “Yang penting, yang perlu digarisbawahi, bagaimana isu ini bisa terselesaikan, bagaimana masyarakat bisa menerima haknya, apapun jalan yang ditempuh.”

Ditanya apakah isu agraria akan menjadi fokus utama LEM UII periode ini, Indra membenarkan hal itu, “Kami ingin fokus isu agraria.”

Namun, berbeda dengan Indra, Mawardi mengatakan bahwa pengawalan isu-isu masyarakat oleh KM UII rencana akan disesuaikan tiap triwulan. “Tiga bulan ke depan isu agraria, namun tiga bulan kedepannya lagi akan menyesuaikan kajian dan diskusi di internal,” jelasnya

Dalam aksi kali ini Indra menyayangkan belum bisa mengerahkan massa mahasiswa yang optimal sehingga harapan ke depan dalam setiap aksi KM UII bisa bersinergi dan kompak.

Dalam kesempatan yang sama, perwakilan mahasiswa UII juga ikut berkontribusi membacakan puisi dalam pentas solidaritas yang dilangsungkan Komite Bersama Reformasi (gabungan aliansi masyarakat tertindas, buruh, petani, dan gerakan mahasiswa) di nol kilometer Malioboro, yang juga mengangkat kasus agraria dengan kaitannya dengan HAM.

Bagikan Artikel ini: