Bagikan Artikel ini:

Sistem pendidikan dan pengajaran di masa kali ini mengalami dinamika besar. Pola kehidupan kelas kampus identik dengan pengajaran semata, mengapa demikian? Karena dosen hanya menyampaikan materi perkuliahan secara teori dan di lengkapi dengan soal-soal yang mungkin diprediksikan keluar di ujian akhir semester. Pada kali ini penulis khusus membahas pendidikan karakter yang harus diberikan kepada “adik-adik” dengan campur tangan “abang-abang” nya.

Sistem budaya sangat kental sekali menyelimuti kehidupan non formal kampus. Sisi ini merupakan hal sangat seksi untuk mengenalkan bagaimana berinteraksi dengan sesama tanpa menggeser norma-norma yang ada. Secara fakta dapat kita saksikan mayoritas kampus mendeklarasikan sistem kekeluargaan dalam segi apapun. Artinya semua kegiatan atau aktivitas jauh dari nilai-nilai kekangan senior yang harus dituruti oleh si adik, sehingga tidak timbul paradigma takut senior.

Namun budaya senioritas tetap ada walaupun dihaluskan judulnya menjadi apapun. Penulis sempat merasakan indahnya kekeluargaan di kampus dan hangatnya berkumpul dengan senior. Semuanya baik dan bermanfaat bagi perjalanan kehidupan selanjutnya. Mungkin mahasiswa muda seharusnya membuang sudut pandang bahwa senior pasti semena-mena. Maka dari itu perlu membuat sistem senioritas tanpa batas untuk generasi cerdas.

Kekuatan tetua kampus, penulis melihat sangat masif. Terkadang segala cara dilakukan si muda untuk membuat tetua senang, karena mungkin prinsip “abang” berhasil ketika “adik” menunduk, mengatakan “iya” dan setelah itu dilakukannya. Kondisi riil dari waktu ke waktu hampir sama. Akan tetapi mungkin beda suasana. Suasana dahulu, menurut opini penulis, ada kemungkinannya senior satu komando dalam mendoktrin sang adik dengan muatan ideologi demokrasi secara utuh, sehingga terlihat 1998 (Baca:reformasi) menjadi keberhasilan tetua kampus saat itu, dimana semua meneriakkan reformasi.

Konteks “abang” sekarang mungkin tidak radikal seperti dahulu karena seakan semua sudah aman terkendali, sehingga doktrin ringan saja sudah cukup membuat sang adik spot jantung. Sekarang saatnya refleksi si tua untuk melihat sejauh apa sistem tersebut berhasil sehingga para junior menjadi berkarakter dan berwawasan luas, bahkan mengalahkan seniornya. Tentunya anda semua selaku pendidik non formal yang mengetahui jawabannya. Tentunya kita tahu bahwa mental dan pola pikir “adik” sekarang beda dengan pendahulunya.

Konsep learning by example atau “menjadi role model” harus dilakukan oleh tetua kampus. Beretorika sesuai dengan realita dan dicontohkan dalam kehidupan nyata menjadi konsep ampuh untuk memainkan peran “abang”. Sehingga disitu sang “adik” melihat secara faktual dan pasti akan ditirunya. Pun menjadi seorang abang aktivis yang tidak lupa akademis, sehingga tidak akan timbul dogma negatif dalam peran seorang senior.

Selanjutnya adalah doktrin-doktrin akurat yang menjurus untuk peka terhadap kehidupan sekitarnya. Dimulai dari keharusan mengenal kondisi siapa dirinya, mengkritisi sistem yang ada, dan bergaul dengan masyarakat sekitarnya hingga berani berfikir dan berkata untuk negaranya. Jangan hanya berkutat pada pembahasan yang seharusnya tidak dibahas atu debat kusir dengan intimidasi yang ujung-ujungnya terjadi perpecahan diantaranya. Setelah seperti itu biasanya saling menyalahkan siapa yang benar dan salah.

Saatnya arahkan generasi penerus kampus untuk melihat dunia luar, mengamati dan mengajak mereka bergerak, tentang apa yang harus kita upayakan. Beranilah untuk mereformasi sistem budaya ke “abang-abang-an”. Ketika itu tidak bermanfaat ganti dengan sistem yang baru, progresif, dan sesuai zaman. Mungkin kita sebagai senior saat ini perlu mengenal sosok H.O.S Cokroaminoto karena beliau berhasil mencetak kader yang bekarakter sehingga berguna untuk masyarakat, bangsa, dan negara.

Dalam konteks sejarah Islam di Indonesia sosok Syaikhona Kholil Al Bangkalan dan K.H. Sholeh Darat mungkin perlu dijadikan contoh oleh “abang” untuk mendidik, karena kedua kyai khos iu mampu melahirkan dua tokoh besar yaitu K.H. Hasyim Asyari (Pendiri Nahdlatul Ulama) dan K.H. Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah).  Tidak harus senior menjadi aktor “cadas”, yang penting ia berintegritas. Jangan sampai ditakuti, tetapi harus di segani karena intelektualitasnya dan di hormati karena perilakunya.

Bagikan Artikel ini: