Bagikan Artikel ini:

“Celaka sekali orang bodoh yang tidak belajar. Tapi celaka seribu kali orang pintar yang tak mempraktikan ilmunya” -Imam Al Ghozali

Perjalanan pendidikan pada zona lanjut dapat dikatakan menjadi nuansa dalam membangun kualitas diri masing-masing manusia. Kenapa dikatakan demikian, karena pada zona inilah teori dan logika berfikir digunakan dalam menerima ilmu yang diajarkan. Bangku perkuliahan menurut penulis adalah panggung ilmu yang disajikan secara nyata, dibalut dengan kecerdasan sang pendidik dalam penyampaiannya.

Sementara itu peran sang terdidik dalam hal ini sangat berpengaruh pada dinamika yang terbangun. Hal ini wajar dan seharusnya dilakukan oleh kedua atribut pendidikan tersebut. Dalam tulisan ini penulis memberikan cerita fakta tentang tipe aktor dan figuran di dalam tubuh sang terdidik.

Sedikit bercerita, kurang lebih penulis merasakan hiruk pikuk kehidupan kampus selama delapan semester. Dalam kurun waktu tersebut dapat disimpulkan ada keistimewaan tersendiri ketika melewati masa penuh sensasi. Sensasi disini bermakna positif bagi sang aktor dan berbalik fungsi bagi sang figuran. Sang aktor memliki pemikiran lebih tentang bagaimana membangun bangsa dan negaranya, sementara sang figuran hanya menargetkan diam dibalik ukiran meja berhias taplak dengan kelengkapan alat elektonik di depannya.

Di dalam ruang akademik sangat terasa dimana sang aktor seakan melihat keganjalan materi sehingga ingin dia kritisi, sehingga kelas menjadi wadah diskusi. Sementara sang figuran hanya diam karena takut jika terlalu bicara nilai yang diberikan tak sesuai dengan ekspetasi. Panggung ruangan kelas menjadi titik ukur pertama penulis dalam cerita sang aktor dan sang figuran.

Tidak jauh pada zona pendidikan formal, pendidikan non formal menjadi lukisan paling indah sang aktor dalam memahami apa itu mahasiswa dan bagaimana berkontribusi terhadap masyarakat, bangsa, dan negara sesuai dengan disiplin ilmunya. Setiap malam selalu dilewati dengan menyusun kerangka pergerakan, berdebat mengenai teori, menulis, turun ke masyarakat dan semua itu dilakukan seolah-olah ingin menyiapkan amunisi perang yang dapat diledakkan sewaktu-waktu.

Tak heran ketika sang aktor dinilai “tidak jelas/sok sibuk” oleh seumurannya. Berbeda kehidupan dengan sang figuran dimana setiap malamnya dilalui dengan nongkrong asyik penuh canda tawa terbahak-bahak seolah sekitarnya sudah makmur dan tentram.

Terkadang sang figuran hanya pandai bicara tetapi tidak mau bergerak, pandai menyuruh seperti jaman jahiliyah agar terlihat “sangar” di hadapan juniornya. Mungkin ada sisi positif dari sang figuran yaitu ingin menjadi kaum elit oposisi di kampus bak politik di gedung DPR-RI. Mungkin kalimat diatas menjadi indikator kedua yang penulis amati.

Untuk generasi penerus kampus dan nanti akan menjadi penerus bangsa, silahkan memilih apakah ingin menjadi sang aktor atau sang figuran. Pilihan itu ada pada anda semua. Jadilah kaum terdidik dengan sebenar-benarnya semata-mata untuk kepentingan bersama dan berkomitmen untuk senantiasa menegakkan yang benar walaupun pahit dan menghapuskan yang zalim walaupun nikmat.

Tempatkanlah sifat idealis anda pada ranahnya dan ciptakanlah spektrum pergerakan terbalut dengan intelektualitas sehingga bangsa ini tersenyum memiliki generasi emas yang akan menjadi ikon besar perwujudan Amar ma’ruf Nahi Munkar untuk menjadi bangsa Baldatun Thoyyibatun Warobbul Ghofur. Tegaslah seperti sayyidina Umar bin Khattab cerdaslah seperti sayyidina Ali bin Abi Thalib dan semangat lah seperti Sultan Ahmad Al fatih. Tirulah Bung Karno seorang insinyur sipil yang pandai membangun bangsa dan negaranya, pandanglah Bung Hatta seorang pakar ekonomi yang mampu membangun ekonomi negeri. Jadikan diri anda berkarakter dan berwawasan luas. Niatkan mengabdi dan nomor duakan upeti.

Bagikan Artikel ini: