Bagikan Artikel ini:

Berbicara soal transportasi terutama persoalaan angkutan umum memang tidak ada habisnya. Angkutan umum di sekitaran  Jalan Kaliurang (Jakal) memang dalam kondisi sekarat,  mati segan hidup tak mau. Sungguh sangat miris berbicara masalah angkutan umum yang melewati kampus UII yang bervisi Rahmatan Lil Alamin.

Miris, karena sejarah angkutan umum di Yogyakarta ini adalah bermula dari angkutan kampus.  Bermula dari mahasiswa pada medio 1970-an  yang membutuhkan angkutan umum, terutama mahasiswa Universitas  Gadjah Mada (UGM)  yang berada pada daerah selatan, dipusatkan di kampus UGM di Bulaksumur. Angkutan atau yang lebih dikenal dengan istilah Colt kampus inilah yang menjadi pioneer angkutan umum di Yogyakarta.

Bagaimana kondisi angkutan di kampus-kampus ternama saat ini, terutama UII? Jelas kita semua akan sepakat dengan slogan hidup segan mati tak mau.  Pembenaran lain dari persoalan angkutan umum ini adalah karena bersifat multi aspek. Lantas di manakah peran UII untuk menggerakan mahasiswa dalam menggunakan angkutan umum dan  untuk mengatasi jumlah pengendara kendaraan pribadi yang semakin meningkat di lingkungan kampus? Bisa jadi, matinya angkutan umum di sekitar kampus UII terpadu  disebabkan oleh mahasiswa UII sendiri. Mahasiswa beralih menggunakan kendaraan pribadi.

Dalam Rencana Induk Pengembangan (RIP) Kampus Terpadu UII 1995-2010 sudah direncanakan akan adanya integrasi moda transportasi antara angkutan umum diluar kampus, berupa bis Jalan Kaliurang dan angkutan dalam kampus. Terlepas sudah habisnya masa rancangan induk ini atau bahkan telah diganti pada pertengahan jalan, konsep pengintegrasian moda angkutan ini setidaknya harus sudah terealisasikan untuk saat ini. Sudah 21 tahun sejak RIP dibuat. Bagaimana kondisi sistem transpotasi UII saat ini?

Menilik Master Plan UII 2013-2035, ada rencana untuk membuat kendaraan kampus yang terintegrasi dengan angkutan-angkutan umum. Halte-halte bis di dalam kampus disediakan. Sehingga pengguna kendaraan pribadi bisa berkurang. Rencana kedepan memang selalu tampak bagus.

Bagaimana keberpihakan UII terhadap mahasiswa  non pengendara kendaraan pribadi saat ini? Proyek Boelvard UII memang patut diacungi  jempol. Kondisi pedestrian yang sudah mulus, atap yang teduh sepanjang jalan, pohon-pohon kecil yang membuat udara semakin segar sungguh sangat memanjakan pejalan kaki.

Lantas bagaimana dengan pengguna  sepeda? Melihat jalur sepeda saat ini sungguh miris. Jalur sepeda dibuat memutar jauh, mengikuti jalur kendaraan pribadi.  Idealnya jalur sepeda juga perlu mendapatkan keistimewaan lebih. Jalur sepeda harusnya dibuat jalur yang lebih cepat untuk mencapai jalan menuju masing-masing fakultas. Solusi sementara untuk menunggu master plan yang membutuhkan waktu lama dalam realisasinya adalah pembuatan jalur contra flow dalam kampus UII. Previllage wajar mengingat pengendara sepeda berkomitmen untuk mengurangi emisi dan mengurangi kemacetan di lingkungan kampus UII. Pejalan kaki dan pengendara sepeda adalah pahlawan emisi, karena emisi yang mereka hasilnya 0, berbeda dengan kendaraan bermotor.

Tidak hanya meningkatkan kualitas dari segi sistem transportasinya saja. Mengingat bahwa kendaraan pribadi adalah kendaraan door to door, kendaraan pribadi selalu dapat memanjakan penggunannya, mahasiswa dapat diantar dengan cepat dari pintu kos hingga ke depan fakultasnya masing-masing. Strategi Push perlu digalakkan. Pembatasan-pembatasan kendaraan pribadi perlu dijalankan, pembatasan lahan parkir, letak tempat parkir yang jauh dari fakultas, atau hingga yang esktrim adalah  jalur yang memutar kampus untuk pengguna kendaraan pribadi.  Sepeda kampus yang sudah disediakan oleh pihak universitas belum mampu menarik minat mahasiswa untuk menggunakan sepeda, malah banyak sepeda kampus yang mangkrak hingga rusak.

Pada tahun 2016 ini UII berhasil menyabet Green Campus Award yang diadakan oleh  Indonesia Greean Campus Award (IGA) sebagai Green Campus.  Sebagai salah satu penyandang Green Campus sudah seharusnya UII mencoba mengurangi polusi yang hasilkan oleh kendaraan bermotor.  Mengalihkan pengguna kendaraan bermotor tidak bisa dilakukan semalam, Rome wasn’t build in a day. Pengintegrasian antar moda harus segera dilaksanakan, minimal  sesuai  dengan RIP 1995-2010.

Posisi UII sebagai lembaga pendidikan ternama di Yogyakarta harus digunakan untuk menggenjot pemerintah  Sleman untuk menghidupkan kembali angkutan di daerah Jakal ini. UII tidak boleh tinggal diam dan hanya menunggu bola. Paling tidak UII dapat menjadi pioneer untuk menghidupkan kembali angkutan umum, menjadi jembatan penghubung antara Organda dan pemerintah Sleman.

BACA JUGA: Kurikulum 2014 Teknik Sipil UII: Pemenuhan Desakan Kebutuhan Pendidikan

UII dapat memulai dengan melakukan kajian pemodelan transportasi dengan model konvensioanl yang terdiri dari 4 tahap: Trip Generation, Trip Distribution, Modal Split (Pemilihan Moda), dan Traffic Assigment (Pembebanan Lalu Lintas). Bangkitan Pergerakan (Trip Generation) adalah tahapan pemodelan yang memperkirakan jumlah pergerakan yang berasal dari suatu zona atau tata guna lahan atau jumlah pergerakan yang tertarik ke suatu tata guna lahan atau zona (Tamin, 1997). Sehingga nantinya UII dapat menentukan distribusi perjalanan (Trip Distribution) untuk membantu angkutan wilayah Kaliurang dalam menentukan daerah mana yang “basah”.  Tak menampik pula juga UII dapat menyiapkan trayek atau jalur baru untuk angkutan di jalan Kaliurang  (Traffic Assigment).

Degree of Satutarion (DS) adalah Q (Arus Lalu Lintas)  berbanding terbalik dengan C (Kapasitas). Mau sampai kapan kita terus mengikuti kebutuhan untuk terus mengingkatkan kapasitas jalan. Mau berapa banyak pohon,hutan yang akan kita tebang untuk mengikuti hasrat manusia dalam pemenuhan kebutuhan jalan. Sudah saatnya kita berkomitmen bersama-bersama untuk membatasi Q  (Arus Lalu Lintas).

Akhir kata, kata Gandhi, “Dunia ini lebih dari cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan manusia, akan tetapi dunia ini tidak cukup untuk memenuhi satu manusia serakah.”. Angkutan umum adalah angkutan rakyat, angkutan mahasiswa pada masanya. Sudah semestinnya angkutan umum ini kembali memanjakan mahasiswa dan masyarakat.

Tulisan ini untuk menyambut 19TH INTERNATIONAL SYMPOSIUM OF INDONESIAN INTER-UNIVERSITY TRANSPORTATION STUDIES FORUM (FSTPT). Dengan ini saya haturkan Sugeng Rawuh kepada para pakar transportasi.

Bahan Bacaan:

  • Majalah LPM SOLID FTSP UII edisi tahun 2015
  • http://e-journal.uajy.ac.id/330/8/2MTS01733.pdf

Ditulis oleh Helmy Badar Nahdi, mahasiswa Teknik Sipil angkatan 2012.

Bagikan Artikel ini: