Bagikan Artikel ini:

Pekta FTSP 2016 telah usai. Di Pekta rekan-rekan mahasiswa baru telah mendapatkan sekelumit informasi mengenai struktur birokrasi fakultas, dari pejabat-pejabat setingkat dekanat dan jurusan sampai pada organisasi kemahasiswaan yang ada di FTSP. Rekan-rekan juga bisa mengenal sedikit kultur atau corak dari FTSP itu sendiri. Ya tentunya rekan-rekan sudah mafhum bagaimana kultur perospekan di kampus teknik, entah itu melalui media atau hasil perbincangan rekan-rekan dengan orang-orang acak.

Saya menebak, pasti apa yang membekas dan berkesan di benak rekan-rekan saat ini, pun yang rekan-rekan perbincangkan sesama teman sejamaah adalah wajah garang Divisi Penertib Lapangan yang membuat rekan-rekan kesal karena dibentak-bentak bak didikan militer. Kampus teknik pun seolah sudah dicap akan kulktur senioritas dan mahasiswanya yang sangar-sangar. Begitu juga dengan FTSP.

Saya sendiri tidak punya kemampuan yang mumpuni dalam melacak akar dari budaya di kampus teknik tersebut. Perlu kerja-kerja keras dalam mengusut hal itu, apalagi melacak kultur yang ada di FTSP. Pun, interpretasi saya tersebut masih berangkat dalam kacamata subjektif pribadi saya dan berpotensi mengalami kegagalan dalam menangkap realitas yang seutuhnya. Saya tidak akan mempersoalkan kultur senioritas tersebut dari segi baik-buruknya.

Saya justru akan menyoal bagaimana seharusnya menjadi mahasiswa FTSP. Dari sisi administratif tentu rekan-rekan sudah berhasil menjadi mahasiswa FTSP. Namun hal itu belum sah. Selain sisi administratif dan muatan-muatan yang disampaikan oleh DPL, menjadi mahasiswa FTSP membutuhkan perspektif ideologi yang kuat. Berkaitan dengan itu saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan, apa itu ideologi? Apa sebenarnya ideologi mahasiswa UII? Apa sebenarnya ideologi mahasiswa FTSP? Dan kenapa kita harus mempunyai ideologi?

Ideologi bagi Mahasiswa

Menjawab pertanyaan pertama, ideologi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kumpulan konsep bersistem yang dijadikan asas pendapat yang memberikan arah dan tujuan untuk kelangsungan hidup.atau cara berpikir seseorang suatu golongan. Sedangkan pengertian lain dari ideologi adalah suatu paham, teori dan tujuan yang merupakan satu program sosial politik.

Serupa tapi tak sama, berbagai pemikir yang bergelut di bidang sosial seperti Harold H Titus mendefinisikan ideologi sebagai suatu istilah yang dipergunakan untuk sekelompok cita-cita, mengenai berbagai macam masalah politik dan ekonomi serta filsafat sosial yang dilaksanakan bagi suatu rencana sistematis tentang citacita yang dijalankan oleh lapisan masyarakat.

Karl Marx -seorang filsuf, ekonom, sosiolog, jurnalis, dan revolusioner- sendiri mengartikan ideologi sebagai suatu bentuk atas reproduksi sosial, di mana ideologi tersebut pada nantinya digunakan sebagai alat untuk mencapai kesetaraan dan kesejahteraan bersama dalam masyarakat.

Sedangkan pemikir dan sosiolog revolusioner terkenal Iran, Ali Syariati, memaknai ideologi sebagai kumpulan gagasan dan ide yang dipatuhi oleh kelompok, kelas sosial, bangsa atau ras tertentu. Ali Syariati sendiri terkenal dengan gagasannya mengenai manusia rausyanfikr yakni individu-individu cerdas dan tercerahkan yang sadar akan situasi kondisi masyarakat disekitarnya yang serba tak menentu dan masih banyak terjadinya penindasan.

Kembali ke ideologi, pada intinya dari ragam definisi oleh pemikir-pemikir diatas, ideologi bisa diartikan sebagai suatu bentuk pemikiran manusia yang mempunyai tujuan untuk kemaslahatan bersama dalam menjalani kehidupan. Pada titik ini, seharusnya setiap manusia mempunyai ideologinya masing-masing.

Dan manusia yang tidak memiliki ideologi bisa dibilang tidak mempunyai cita-cita bersama atau tujuan hidup. Ideologi suatu kelompok atau masyarakat sendiri biasanya dirumuskan dengan berangkat kepada kenyataan sosial masyarakat yang ada, dan becita-cita ingin mengubah kenyataan sosial tersebut kearah yang lebih baik. Seperti misalnya Pancasila sebagai ideologi Negara Kesatuan Republik Indonesia hadir sebagai nilai-nilai luhur dan religius dalam masyarakat untuk kehidupan berbangsa dan bernegara, yang diejawantahkan dalam lima pokok-pokok dasar, yang tentunya sudah kita ketahui bersama isinya.

Beberapa contoh lain ideologi yang sering kita ketahui adalah dengan penyematan imbuhan isme dibelakangnya. Seperti misalnya Nasionalisme, Sosialisme, Komunisme, Leninisme, Liberalisme, Libertarianisme, Marhaenisme, Islamisme dan masih banyak lagi yang tak terhitung. Atau isme-isme yang disematkan ke dalam nama tokoh pemikir untuk menyederhanakan penyebutan akan ajaran-ajaran dan pemikiran tokoh tersebut seperti Marxisme, Leninisme, Maoisme, Sukarnoisme dan lain sebagainya.

Pertanyaan yang kemudian susah untuk dijawab dan diusut adalah, apa ideologi mahasiswa UII? Apakah Islamisme? Marxisme? Marhaenisme dll? Jawaban amannya adalah tidak ada ideologi tunggal yang mesti ditanamkan ke dalam mahasiswa UII. Setiap mahasiswa berhak mengetahui, mempelajari dan menganut, ragam faham, tradisi berpikir (ide) dari isme-isme yang ada sebagai suatu proses melihat sejarah pemikiran-gagasan dalam masyarakat untuk kemudian mengambil sikap: Mengambil jarak atau menetap pada ideologi itu dan kemudian memperjuangkannya.

Sejatinya Keluarga Mahasiswa UII sudah mempunyai ide, gagasan, cita-cita, pedoman atau tujuan bersama yang telah dirumuskan didalam Peraturan Dasar Keluarga Mahasiswa UII (PDKM UII). Dan hal itulah yang mesti diperjuangkan setiap saat dan ditanamkan, terlepas dari latar belakang paham/isme mahasiswa itu sendiri. Perjuangan itu pun membutuhkan konsistensi yang kuat dari motor penggerak mahasiswa: Lembaga Mahasiswa KM UII dan seluruh elemen pergerakan mahasiswa UII.

Lantas bagaimana dengan ideologi mahasiswa FTSP? Lagi dan lagi, tidak ada ideologi tunggal yang mesti ditanamkan ke segenap mahasiswa FTSP, sama halnya seperti kasus ideologi Mahasiswa UII diatas. Setiap mahasiswa bebas memilih jalan ideologisnya, asalkan praktik ideologi tersebut tidak menggunakan cara-cara yang meluluhlantahkan prinsip-prinsip kemanusiaan.

Pada titik ini saya rasa perlu ada semacam contoh dalam bagaimana manusia berideologi dan bagaimana ideologi yang berbeda menghasilkan pandangan yang berbeda juga dalam melihat realitas sosial. Seperti misalnya bagaimana kita melihat kemiskinan? Ideologi A, misalnya, melihat kemiskinan sebagai suatu kenyataan yang alamiah yang sudah darisananya ada.

Namun, ideologi B, misalnya, justru melihat kemiskinan sebagai sesuatu yang tidak datang dari langit, melainkan suatu proses menyejarah dalam masyarakat akibat kekayaan yang tidak terdistribusikan dengan baik. Contoh lain masih banyak seperti bagaimana kita melihat permasalahan yang terjadi didalam masyarakat selain problem kemiskinan, misalnya pembangunan besar-besaran kota seperti munculnya hotel, pusat perbelanjaan akbar, dan hunian-hunian. Atau masalah lingkungan yang selalu menjadi korban akibat pembangunan suatu daerah itu sendiri.

Konsekuensi logis jika telah berbeda melihat realitas yang ada, tentu menyikapi realitas itu akan berbeda juga. Maka dari itu ideologi sebagai gagasan akan membentuk cara kita bertindak terhadap sesuatu hal atau masalah yang terjadi didalam masyarakat. Mahasiswa yang tidak mempunyai ideologi tentunya tidak akan memiliki pandangan yang jelas terhadap suatu masalah dan akan kebingungan dalam bertindak menyikapi persoalan itu.

Maka daripada itu, mahasiswa sejatinya tidak boleh tidak berideologi. Karena ideologi bukan barang milik suatu kelompok masyarakat saja, misalnya kader partai politik. Tetapi ideologi adalah milik setiap manusia yang menghargai akal dan budi pekerti yang mempunyai cita-cita bersama untuk kemaslahatan bersama.

Menelisik Makna Progresif

Apa itu progresif? Progresif adalah kata adjektif yang mengandung makna “ke arah kemajuan” atau “berhaluan ke arah perbaikan keadaan sekarang”. Berangkat dari pengertian itu maka mahasiswa FTSP Progresif bisa diartikan mahasiswa FTSP yang “berkemajuan”, dan “berhaluan ke arah perbaikan keadaan sekarang”. Namun, tentu muncul lagi pertanyaan, berkemajuan seperti apa? Keadaan seperti apa yang akan diperbaiki?

Menjawab pertanyaan itu, saya akan sedikit berkisah. Telah lama golongan terdidik seperti mahasiswa selalu dikaitkan dengan proses perubahan (pada proses perubahan sejarah masyarakat, golongan terdidik tidak hanya mahasiswa, masih banyak golongan lain seperti kyai, kaum santri, petani, buruh, nelayan, kaum miskin kota dll yang juga terdidik dan teroganisir dan ikut memotori perubahan).

Golongan menengah yang mampu mengenyam pendidikan tinggi, seperti Sutomo muda, Mangunkusumo muda, Soewardi muda dan tokoh-tokoh pemuda lain yang ikut membentuk Budi Utomo serta tokoh-tokoh muda pada zaman bergerak telah berhasil menumbuhkan rasa pentingnya untuk berorganisasi dan melakukan kerja-kerja advokasi dan sosial. Pun Sukarno muda, Hatta muda, dan tokoh-tokoh lainnya, telah menjadi kalangan intelektual yang dengan pemikiran dan sikapnya telah menumbuhkan sikap anti penindasan pada masyarakat yang ujung-ujungnya mengusir penjajah dari bumi nusantara.

Belum lagi jika berbicara mahasiswa 60an yang kritis terhadap pemerintahan Soekarno, dan mahasiswa 90an -yang bersama elemen masyarakat lainnya- ikut menjatuhkan rezim mililter-otoritarian Soeharto dari tampuk kekuasaanya selama 32 tahun. Dan perlu diperhatikan, peran golongan terdidik dalam melakukan perubahan itu tidak hanya terjadi di Indonesia. Di setiap bangsa dan negara yang mempunyai sejarah perjuangannya sendiri, disana ada golongan terdidik seperti mahasiswa yang ikut berpraksis dalam agenda-agenda perjuangan pembebasan.

Seperti halnya peristiwa “Mei 1968” di Paris, Perancis, di mana ada serentetan protes yang menyebabkan kejatuhan pemerintahan De Gaulle. Peristiwa yang diawali protes mahasiswa dan pelajar di Paris dan kemudian disusul oleh kaum buruh dan seluruh lapisan masyarakat Perancis tersebut merupakan pergerakan terbesar yang terjadi dalam sejarah Perancis abad 20. Di Chili sendiri, sepanjang 2011-2013, juga terjadi protes besar yang digalang oleh mahasiswa Chili. Mereka menuntut pemerintahan Chili untuk mengakhiri kebijakan biaya kuliah yang mahal. Pada akhirnya, para mahasiswa dan elemen masyarakat lainnya berhasil mendorong kebijakan kuliah gratis yang dibiayai dari pajak korporasi. Masih banyak gerakan-gerakan mahasiswa lain yang tidak bisa disebutkan semuanya di sini.

Berangkat dari pemaparan yang hanya secuil tersebut, maka kiranya “berkemajuan” yang  dimaksud adalah sikap terdidik-tercerahkan mahasiswa yang juga merupakan bagian masyarakat (entah itu masyarakat yang ada di kampus, maupun masyarakat yang ada di luar kampus), di mana mereka sadar akan situasi dan kondisi masyarakatnya dan mampu merumuskan dan melaksanakan agenda-agenda perjuangan bersama masyarakatnya untuk “memperbaiki keadaan sekarang”.

Pada titik ini, keadaan yang diperbaiki tentu adalah keadaan di mana masih banyaknya persoalan yang terjadi didalam masyarakat itu sendiri, seperti misalnya kesewenang-wenangan, penindasan kelompok dominan kepada kelompok minor (dalam segala bidang), dan sistem ekonomi-sosial-politk-budaya yang tidak berpihak kepada masyarakat kelas bawah. Atau dalam konteks persoalan kampus seperti misalnya menyikapi pendidikan yang semakin hari semakin mahal harganya, atau kebijakan kampus yang berpotensi mencederai semangat aktivisme mahasiswa, atau lain-lain.

Dengan demikian makna progresif tersebut selalu mengandung dimensi liberatif atau emansipasi (pembebasan) terhadap sistem-struktur yang menindas tersebut. Dan mahasiswa FTSP tersebut sudah sejatinya harus menjadi pelaku atau aktor intelektual pergerakan dalam pembebasan tersebut.

Berorganisasi, Kontekstualisasi Ilmu Pengetahuan dan Berkarya

Lantas bagaimana caranya mahasiswa FTSP menjadi mahasiswa yang progresif? Pertama bisa dilakukan dengan mengikuti organisasi kemahasiswaan yang ada di KM UII, di KM FTSP sendiri, dan organisasi pergerakan mahasiswa. Organisasi adalah wadah paling sejati dalam pembentukan karakter mahasiswa. Di organisasi, mahasiswa akan ditempa dan dibentuk agar bisa mengembangkan ilmu pengetahuannya dan mengaktualisasikan gagasannya.

Berbicara soal organisasi, saya jadi teringat tentang pendapat Eko Prasetyo -alumni Pers Mahasiswa Keadilan FH UII dan pendiri Social Movement Institute- dalam tulisannya di Indoprogress.com berjudul “Selamat Datang Mahasiswa Baru”, bahwa organisasi adalah:

“Sangkar yang indah dan memikat untuk anak muda yang berani. Dilatih di sana kamu untuk melawan apa yang memang sepatutnya kita lawan. Memusuhi korupsi, pelanggaran hak asasi manusia hingga membela mereka yang ditindas. Disanalah kamu dilatih memimpin, peduli dan melindungi. Tak ada mata kuliah satupun yang bermuatan itu semua. Di organisasi pintu untuk mendapatkan pengetahuan mengenai itu. Maka jangan ragu-ragu untuk masuk ke dalamnya. Jangan kuatir karena di sanalah kamu akan tersesat di jalan yang benar.”

Setelah terlibat aktif dalam organisasi, hal kedua yang mesti diperhatikan adalah kontekstualisasi ilmu pengetahuan. Apa itu kontekstualisasi ilmu pengetahuan? Menjawab hal itu, pertama-tama yang sudah kita ketahui bersama adalah bahwa kampus kita FTSP mempunyai tiga jurusan S1 yakni Teknik Sipil, Teknik Lingkungan dan Arsitektur.

Maksud kontekstualisasi ilmu pengetahuan adalah upaya kita sebagai kaum intelektual-terdidik dari ketiga jurusan tadi, selain tentunya peningkatan akademik dan rajin mengikuti perkuliahan, untuk bagaimana turut aktif dalam menawarkan gagasan dan penyelesaian (solusi) atas berbagai persoalan yang terjadi di dalam masyarakat, yang tentunya berkaitan secara langsung maupun tidak langsung dengan bidang-bidang keilmuan di atas. Kenapa harus seperti itu? Ya karena hal itulah yang merupakan esensi sejati hadirnya Perguruan Tinggi dengan segenap sivitas akademika (dosen dan mahasiswa) di dalamnya.

Setiap perguruan tinggi menurut UU Pendidikan Tinggi, seperti yang kita ketahui bersama, mempunyai tri dharma, yakni Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian, Pengabdian Pada Masyarakat. Bedanya, UII mempunyai empat dharma, dengan dharma yang terkahir yakni Dakwah Islamiyah. Peran UII sebagai perguruan tinggi yang ada ditengah-tengah masyarakat adalah melaksanakan empat dharma atau Catur Dharma tersebut.

Dalam UU Pendidikan Tinggi, maksud pendidikan dan pengajaran di atas adalah “usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Penelitian sendiri adalah kegiatan yang dilakukan menurut kaidah dan metode ilmiah secara sistematis untuk memperoleh informasi, data, dan keterangan yang berkaitan dengan pemahaman dan/atau pengujian suatu cabang ilmu pengetahuan dan teknologi. Penelitian disini juga bisa dimaknai sebagai upaya kita untuk mencari persoalan atau latar belakang sesuai kaidah-kaidah keilmuan dan menawarkan gagasan sebagai tawaran solusi atas persoalan tersebut.

Sehingga produk dari penelitian tersebut bisa dijadikan bentuk “pengabdian perguran tinggi kepada masyarakat”. Sesuai dengan makna pengabdian masyarakat yang berarti “kegiatan sivitas akademika yang memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memajukan kesejahteraan masyarakat dan mencerdaskan kehidupan bangsa”.

Pengabdian masyarakat pada intinya adalah keharusan perguruan tinggi dan segenap sivitas akademika didalamnya untuk turut aktif berkontribusi dalam penyelesaian masalah-masalah yang terjadi didalam masyarakat. Maka daripada itu, kampus mesti mempunyai sikap terhadap kesewenang-wenangan dan penindasan terhadap masyarakat dan juga alam yang terus menerus dikeruk.

Sedangkan Dakwah Islamiyah, menurut Statuta UII, merupakan kegiatan mengembangkan dan menyebarluaskan ajaran agama Islam dalam rangka amar ma’ruf nahi mungkar.

Karena UII wajib melaksanakan Catur Dharma maka sudah sejatinya mahasiswa juga ikut berperan aktif dalam melaksanakan Catur Dharma tadi.

Berangkat dari pemaparan peran Perguruan Tinggi di tengah-tengah masyarakat tersebut, tentu muncul pertanyaan, bagaimana mahasiswa FTSP bisa memenuhi dan melaksanakan tanggung jawab yang besar tersebut? Jawabannya adalah dengan banyak membaca, banyak berdiskusi, dan banyak berkarya.

Mengapa banyak membaca? Karena ilmu tidak datang dari langit sehingga kita langsung paham terkait ilmu itu sendiri dan dengan hebatnya bisa menyelesaikan masalah kemasyarakatan. Mahasiswa FTSP progresif mesti banyak membaca buku, karya tulis ilmiah yang dimuat dijurnal-jurnal, media massa, dan sastra. Terkait jenis bacaan, mahasiswa FTSP progresif tidak mesti anti dengan bacaan diluar disiplin ilmunya. Karena apa? Karena persoalan yang terjadi dimasyarakat adalah masalah lintas keilmuan.

Seperti misalnya masalah kemacetan lalu lintas (Mahasiswa Sipil akan mempelajari soal ini) yang tidak hanya dikaitkan dari manajemen lalu lintas dan bentuk geometri jalannya. Tetapi juga menyangkut persoalan ekonomi-politik yang menyangkut kebijakan pemerintahan pusat terhadap distribusi kendaraan bermotor, serta sikapnya yang kurang berpihak kepada jasa-jasa angkutan massal.

Belum lagi persoalan menyangkut pembangunan kota, tata ruang kota dan pemukiman masyarakat (Mahasiswa arsitektur akan belajar soal ini) yang tentunya mempertimbangkan persoalan sosial, ekonomi, dan politik dalam merumuskan penyelesaian yang bijak untuk kota  tersebut. Masalah-masalah lingkungan pun tidak akan tidak menyinggung persoalan ekonomi. Sosial, politik dan hukum.

Bisa kita lihat dalam kasus belum bisa move on-nya Indonesia untuk meninggalkan energi fosil dan menggunakan energi alternatif. Atau persoalan-persoalan menyangkut Amdal (Mahasiswa Lingkungan akan mempelajari ini) suatu proyek pembangunan yang justru membantu proses pengrusakan alam. Seperti kasus Amdal pabrik PT Semen Indonesia di Pegunungan Kendeng.

Selain membaca buku dll, mahasiswa FTSP progresif harus dituntut untuk bisa membaca keadaan atau realitas yang terjadi di masyarakat. Tanpa itu, tentunya kita tidak bisa menemukan masalah sebenarnya yang terjadi dan justru menganggap bahwasanya, “Semuanya baik-baik saja, tidak ada persoalan”.

Setelah banyak membaca, kedua adalah banyak berdiskusi. Diskusi adalah wadah kita dalam berdialektika dan bertukar pikiran. Dari diskusi kita bisa mengetahui bahwasanya informasi yang kita peroleh dari berbagai macam bacaan itu berpotensi mengalami misinterpretasi, yang kemudian bisa mendapatkan pemahaman yang kongkrit dari lawan diskusi yang lain terhadap suatu pokok permasalahan.

Budaya berdiskusi juga membuat kita dicap bukan sebagai “intelektual yang individualis” yang hanya banyak membaca, dan membaca, tanpa membagi pengetahuan yang didapatkannya. Dari diskusi kita bisa mengasah kemampuan kita untuk menyampaikan informasi (kemampuan berbicara) yang sudah kita dapatkan untuk dapat diterima dengan baik oleh lawan diskusi.

Setelah membaca dan berdiskusi, yang terakhir adalah berkarya. Berkarya adalah bagaimana kita bisa mengaktualisasikan gagasan-gagasan yang kita peroleh dari hasil membaca dan berdiskusi kedalam suatu karya. Berkarya ada banyak macam, seperti misalnya menulis (opini, artikel populer, karya ilmiah, jurnalistik, sastra), membuat lagu, menjepret foto, dan membuat video dokumenter yang mengekspresikan keresahan-keresahan yang terjadi didalam masyarakat, atau membuat semacam acara diskusi-diskusi dengan isu-isu menarik (sesuai bidang keilmuannya) yang jarang dibahas.

Tak lupa pula, mahasiswa FTSP progresif harus mampu mempunyai keterampilan mengorganisir massa mahasiswa yang lain untuk agenda-agenda perjuangan didalam kampus maupun perjuangan di dalam masyarakat. Saya masih meyakini advokasi, aksi, demonstrasi, unjuk rasa dan protes, yang melibatkan massa yang tak hanya satu orang, juga merupakan sebuah “karya”, yang membutuhkan wacana dan kreativitas pelaku gerakan.

Akhir kata, gambaran mahasiswa FTSP progresif tersebut tentu berangkat dari pandangan subjektif penulis dengan berbagai latar belakang dan pengalaman. Tapi, saya rasa hal ini perlu dilakukan untuk setidaknya ikut terlibat secara gagasan dalam membantu merumuskan karakter mahasiswa FTSP yang ideal. Saya masih meyakini bahwa ruang-ruang kehidupan dalam kampus tidak hanya diisi oleh kuliah dan mengerjakan tugas.

Dan maksud tulisan ini adalah sebagai ajang untuk menyadarkan kita semua bahwa masih ada ruang-ruang lain yang sejatinya perlu kita isi sebagai bentuk tanggung jawab kita kepada almamater dan masyarakat. Maka daripada itu, marilah menjadi Mahasiswa FTSP yang Progresif. Hidup UII, Hidup Kampus Perjuangan, Hidup Mahasiswa, Hidup Rakyat, Merdeka!

Penulis adalah mahasiswa Sipil 2012 dan anggota Gerakan Mahasiswa Menentukan Arah (Geram Merah)

Bagikan Artikel ini: