Bagikan Artikel ini:

Di sekolah Tinggi Islam ini akan bertemu agama (religion) dengan ilmu (science) dalam kerjasama yang baik untuk membantu peningkatan kesejahteraan masyarakat – Bung Hatta

Penerimaan masiswa baru 2016/2017 telah selesai dilakukan. Terlihat mahasiswa-mahasiswi baru berpakaian hitam-putih dengan Co-card yang telah disiapkan ketika acara Pra Pesona Ta’aruf (Pesta). Mereka didampingi wali jama’ah (Waljam) berjas almamater dan memenuhi lapangan sekitar gedung Kahar Muzakir.

Konsep yang diangkat pada Pesta 2016 ini merupakan pengembangan hard skill dan soft skill dengan spiritual skill sebagai penyeimbangnya. Diharapkan setelah para maba selesai menjalankan runtutan acara yang diberikan, akan timbul kesadaran yang mampu membangun karakter insan ulil albab, seperti yang ada di visi Keluarga Mahasiswa  Universitas Islam Indoesia (KM UII) sendiri.

BACA JUGA: Manajemen Aksi di Pesta 2016

Namun apakah yang dimaksud karakter insan ulil albab itu sendiri? Secara sederhana karakter insan ulil albab merupakan karakter manusia yang berakal dan berpikir. Seperti yang dapat dilihat dari surat Ali-Imran: 190-191. Yang artinya, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi Ulil Albab. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi.”

Didasari dari ayat diatas dapat disimpulkan bahwa karakter ulil albab merupakan karakter yang dia tidak hanya menjadi seseorang yang memilik khazanah keilmuwan yang luas, namun diapun juga mampu memakai ilmu yang dia punya untuk menjadikannya selalu memikirkan persoalan hubungannya Hablum minallah serta Hablum minan-nas.

Lalu bagaimana caranya agar mahasiswa UII mampu menggapai karakter insan ulil albab tersebut? Dalam persoalan ini, kepekaan mahasiswa merupakan satu hal penting yang harus disadari oleh para mahasiswa itu sendiri. Pemikiran kritis yang mampu memperhatikan realita sosial yang terjadi di lingkungan bisa menjadi salah satu acuan bahwa mahasiswa sadar akan perannya dalam masyarakat. Selain itu, tentu saja peran universitas sangat penting untuk mendorong para mahasiswanya dalam melatih pemikiran kritis itu.

Seperti yang kita ketahui, bahwasanya Pesta merupakan suatu tonggak awal perjalanan para maba dalam mengawali langkahnya untuk menjalani kehidupan di kampus perjuangan ini. Pesta itu sendiri juga bukanlah sebuah acara yang mempunyai jangka waktu lama, padahal kita ketahui bahwa pendidikan karakter itu tidak mampu dilaksanakan pada waktu yang begitu singkat.

Maka dari itu adanya suatu perumusan karakter mahasiswa yang berlandaskan insan ulil albab ini perlu disinkronisasi antara lembaga kemahasiswaan dan pihak universitas. Agar muatan yang ditimbulkan dari kedua belah pihak itu mampu menjaga semangat yang telah tertimbun dari acara Pesta yang telah diadakan selama dua hari itu.

Kedepannya pun diharapkan dari pihak lembaga maupun kampus mampu menciptakan acara maupun gerakan yang dapat menjaga nilai-nilai yang telah tertanam ketika Pesta. Makna-makna yang terkandung di dalamnya dapat tumbuh dan berpucuk menjadi sebuah karakter yang diinginkan. Memperbanyak diskusi-diskusi pun menjadi suatu terobosan yang mampu diperhitungkan dalam pengembangan karakter.

Karena ketika adanya sinergi antara universitas dengan lembaga kemahasiswaan yang ada sudah mulai tumbuh, maka pengembangan karakter mahasiswa untuk menjadi insan ulil albab pun bukan menjadi sebuah mimpi lagi.

BACA JUGA: Langkah Awal Menuju Mahasiswa Ulil Albab

Namun kembali pada kepekaan mahasiswa itu sendiri, sudahkah mereka memperhatikan lingkungan-lingkungan yang sudah disediakan oleh UII ini sendiri? Sudahkah mereka memahami dan menggerakkan peran-peranan mahasiswa seperti agent of change, social control maupun iron stock?

Memang tidak mudah dalam hal menyadarkan kesadaran dalam diri seorang manusia, khususnya ketika mahasiswa baru saja melewati masa transisi dari identitasnya sebagai seorang siswa. Namun bukanlah suatu hal yang mustahil dan tidak mungkin ketika peran sebagai mahasiswa sudah benar-benar dijalankan dan tertanam dalam jiwa mahasiswa itu sendiri.

Selain itu mahasiswa tidak haruslah terus-menerus menyalahkan lembaga kemahasiswaan maupun kampus dalam hal pendidikan karakter yang terjadi di lingkup universitas ini. Seharusnya mahasiswa lebih sigap dalam masalah pengembangan karakter yang terjadi di lingkungan UII ini. Karena keberhasilan sebuah program yang diluncurkan oleh universitas maupun lembaga-lembaga kemahasiswaan yang ada di UII sejatinya tidak akan mungkin berjalan dengan sempurna ketika ada bagian-bagian yang masih belum sepenuhnya membantu dari mahasiswa itu sendiri.

Diharapkan segala aspek dalam KM UII mampu ikut berpartisipasi dalam isu pendidikan karakter ini. Sehingga persoalan pendidikan karakter yang telah menjadi sebuah isu kuno mampu terwujud dan bukan hanya menjadi sebuah impian belaka saja. Selain itu juga mampu merealisasikan impian-impian yang telah terkubur sejak lama. Membangunkan instansi besar bernama UII ini yang telah lama tertidur karena pergolakan-pergolakan antara birokrat dan lembaga kemahasiswaan yang tidak pernah kunjung selesai. Memenuhi lingkungan UII dengan mahasiswa yang berkarakter insan ulil albab. Suatu karakter yang di impi-impikan oleh seluruh KM UII.

Ditulis oleh Hafian Akbar, anggota magang LPM SOLID.

Bagikan Artikel ini: