Bagikan Artikel ini:
bendera organisasi eksternal di uii

Beberapa bendera organisasi eksternal yang hadir di Kuliah Perdana Universitas Islam Indonesia 2016. (Foto: Alfin Fadhilah)

(SOLIDpress.co, Kampus Terpadu) Kamis, 11 Agustus 2016 Universitas Islam Indonesia (UII) mengadakan kuliah perdana untuk menyambut mahasiswa baru angkatan 2016. Sama seperti kuliah perdana pada tahun-tahun sebelumnya, organisasi eksternal ikut hadir dalam acara tersebut.  Dari pantauan SOLID ada beberapa organisasi eksternal yang hadir  dalam kuliah perdana. Contohnya adalah Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Himpunan Mahasiswa Indonesia Majelis Penyelamat Organisasi   Koordinator Komisariat (HMI-MPO Korkom) UII, Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI-DIPO Korkom) UII,  dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Komisariat UII.

Aulia Rifqi Hidayat, Ketua Korkom HMI-MPO UII mengatakan salah satu tujuan HMI MPO hadir dalam acara kuliah perdana ini adalah untuk memperkenalkan dunia pergerakan kampus dan menyambut mahasiswa baru. Tidak hanya sebagai penyambutan,  keterlibatan organ eksternal juga sebagai ajang promosi seperti yang dikatakan  Ketua KAMMI, Brigada Izzudin Al-Qassam mengatakan,“Sedang melakukan ajang syiar dalam memperkenalkan KAMMI UII secara kelembagaan dan eksistensi.” Ketua HMI MPO yang juga mahasiswa Fakultas Hukum (FH) UII menambahkan kenapa HMI sendiri perlu menyambut mahasiswa baru 2016. “HMI didirikan di UII, jadi kami merasa segala mahasiswa UII adalah keluarga kami,” tambahnya.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, himbauan mengenai organisasi eksternal di Kuliah Perdana UII tahun ini tidak ada. “Sejauh ini yang saya tahu belum ada, kemarin juga saya sempet tanya ke legislatif terpilih. Kuliah perdana ini acaranya rektorat, jadi di luar kewenangan mereka,” tutur Aulia, Mahasiswa Hukum angkatan 2012.  Sama halnya dengan Brigada yang menyatakan bahwa sampai saat ini belum ada regulasi terkait organisasi eksternal. “ Sampai sekarang kita belum tahu mengenai regulasi-regulasi yang dimaksud dari lembaga kemahasiwaan maupun dari rektorat. Yang kami lakukan ini fleksibel dari tahun ke tahun seperti ini .” Dewan Permusyawaratan Mahasiswa Universitas (DPM-U) UII periode 2013/2014 pernah mengeluarkan surat No: 39/B/Sek/DPMU/UII/VII/2013. Dalam SK tersebut  dikatakan bahwa H-7 sampai H+7 organisasi eksternal dilarang mengajukan izin pemasangan spanduk dan hal yang bisa disamakan dengan itu di dalam kampus.

LPM SOLID FTSP UII pernah mengangkat isu seputar regulasi  organisasi eksternal di kuliah perdana dan Kegiatan Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (OSPEK)  pada Buletin Lanscape edisi khusus Pesta 2013 dan 2014.

BACA JUGA: http://www.solidpress.co/eksternal-mahasiswa-masuk-ospek-regulasi-dpm-uii-buntut-koordinasi-dpm-uii-yang-belum-maksimal/

Dindha Bayu Andriansyah legislatif terpilih dari Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) membenarkan bahwa kuliah perdana adalah acara rektorat sehingga lembaga kemahasiswaan tidak punya andil yang cukup besar. “Kuliah perdana ini acaranya rektorat jadi organisasi mahasiswa dari DPM ataupun LEM tidak mempunyai kekuatan karena mereka sudah mempunyai ijin,” jelas Bayu. Mawardi salah satu legislatif terpilih dari Fakultas Hukum (FH)  juga mempertanyakan beberapa lembaga eksternal yang belum memiliki izin dari rektorat. “Terkait ijin eksternal itu apakah semua sudah mempunyai ijin, karena kalau rektorat mempunyai regulasi maka mereka harus mengikuti regulasi  rektorat.”

Dari 3 organisasi eksternal yang diwawancarai kru SOLID, hanya HMI MPO yang mempunyai surat izin pemasangan banner. “Kami dari beberapa hari lalu kami sowan ke rektorat dan untuk pemasangan banner kita ijin ke badan wakaf dan diposisikan ke Penyedia Fasilitas Kampus (PFK),” ungkap Aulia. Terkait pemasangan banner organisasi eksternal di sisi timur Kahar Muzakir,  Abdul Jamil selaku Wakil Rektor 3 yang membawahi Bidang Kemahasiswaan dan Alumni ini mengatakan bahwa terkait perizinan adalah kewenangan badan wakaf .“Semua kegiatan harus ada prosedur, dan pemasangan pamflet itu kewewangan PFK yang dibawahi Badan Wakaf,” jelasnya.

 Terkait penyambutan organisasi eksternal dengan pengibaran bendera dan orasi  Abdul Jamil sedikit menyayangkan penyambutan ini. “Sebenarnya kan nggak pas (pengibaran bendera -red), semua sudah saya kasih tahu anak-anak terutama anak MPO. Mencari masa itu tidak urak-urakan kaya begini, kalau anda simpatik orang akan datang, tapi kalau anda gak simpatik  anda bujuk-bujuk kayak apa gak mau,” katanya. Menurutnya, cara simpatik  adalah cara yang disampaikan dengan santun dan sesuai etika, pungkasnya di akhir wawancara.

Terlepas dari izin dan prosedur, Bayu juga kecewa dengan bebasnya organisasi ekternal di acara UII. “Kemana SK DIKTI tahun 2002 tentang  organisasi mahasiswa yang bersifat eksternal dilarang masuk kampus? Harusnya yang kita kritisi di sana kenapa masih bisa masuk baik dari segi organisasi eksternalnya maupun dari pihak rekotrat sendiri,” tutupnya.

Reportase bersama Muhammad Izmul Ruliazmi, Hafian Akbar

Bagikan Artikel ini: