Bagikan Artikel ini:

 

siti-nurbaya

Oh.. cukup Siti Nurbaya yang mengalami pahitnya dunia
Hidupku kamu, dan mereka semua takkan ada yang dapat
Memaksakan jalan hidup yang kan tertempuh

Penggalan lirik lagu Cukup Siti Nurbaya milik Dewa 19 yang terinspirasi dari salah satu novel paling fenomenal di Indonesia -paling tidak menurut saya. Sitti Nurbaya: Kasih Tak Sampai adalah sebuah novel sastra bertemakan cinta yang terbit kali pertama pada tahun 1922. Sitti Nurbaya kemudian menjadi sebuah istilah yang lazim digunakan untuk merujuk kondisi perjodohan yang tidak diinginkan. Bahkan, saya adalah salah satu orang yang pernah akan dijodohkan. Ketika itu, saya berseloroh,”Memangnya zaman Sitti Nurbaya!” yang kemudian saya tahu telah menggunakan istilah yang kurang tepat.

Mengawali kisah Sitti Nurbaya: Kasih Tak Sampai, diceritakan Sitti Nurbaya dan Samsulbahri berteman baik sejak kecil. Pertemanan itu membuat mereka tidak menemukan sosok lain untuk dicintai hingga mereka dewasa. Nur -sapaan Sitti Nurbaya- bukan lagi sekadar adik bagi Sam -sapaan Samsulbahri- tapi juga kekasih. Kisah kasih mereka harus diuji oleh jarak yang membentang antara Padang dan Jakarta (saat itu Batavia) saat Sam melanjutkan studi di kota itu.

Sejak saat itu, cobaan menghampiri hidup Nur bertubi-tubi. Kehidupan Nur yang awalnya serba berkucukupan seketika hancur karena bangkrutnya usaha ayahnya. Terlilit hutang dengan saudagar kaya nan kikir, Datuk Maringgih, Nur memiliki dua pilihan: menyaksikan ayahnya dipenjarakan atau menikah dengan Datuk Maringgih. Di detik terakhir, Nur akhirnya menyingkirkan egonya lalu bersedia menikah dengan Datuk Maringgih atas kemauannya sendiri. Hal inilah yang kemudian saya pikir sebagai kesalahan dalam penggunaan istilah ‘zaman Sitti Nurbaya’. Nur bersedia menjadi istri Datuk Maringgih dengan kesadarannya yang penuh. Ayahnya, Baginda Sulaiman tidak pernah memaksa Nur untuk menikahi Datuk Maringgih. Dia bahkan rela bila harus mati di dalam bui daripada melihat puteri semata wayangnya menikahi orang yang tidak dia cintai.

Istilah ‘menikah dengan terpaksa’ masih lebih masuk akal untuk menggambarkan kehidupan Sitti Nurbaya. Tidak ada perjodohan apalagi ‘dijodohkan dengan paksa’. Dalam kondisi terdesak dan keputusasaannya, Nur akhirnya bersedia menikah dengan Datuk Maringgih meski mengetahui kekejian pria yang jauh lebih tua darinya itu. Saat itulah, saya tahu sosok Nurbaya adalah karakter yang sangat kuat dan mandiri. Dia menyingkirkan kebencian dan sakit hatinya terhadap Datuk Maringgih demi menyelamatkan sang ayah. Rasa cintanya terhadap Sam tidak pernah pudar, bahkan setelah menikahi Datuk Maringgih. Namun di sisi lain, Nurbaya juga merupakan perempuan pada umumnya yang memiliki insekuritas akan dirinya. Saya bisa merasakan ketakutan Nur saat ditinggal Sam ke Jakarta karena banyak ‘saingan’. Nur adalah gambaran pemberontakan perempuan Indonesia era abad 18-an yang cenderung bungkam dengan ketidakadilan yang mereka rasakan. Nurbaya membuktikan bahwa sekolah membuatnya tumbuh menjadi orang yang tidak hanya terdidik, tapi juga halus budi.

Meski digambarkan keji dan serakah, ada hal yang menarik dari karakter Datuk Maringgih. Ia percaya bahwa perempuan adalah sosok yang mulia. Hal ini terbukti dari kata-katanya,”…. Membusukkan nama yang harum, menghilangkan derajat dan kemuliaan perempuan ….” namun sayangnya karakter Datuk Maringgih masih kurang digali. Selayaknya manusia biasa, tentulah Datuk Maringgih memiliki sesuatu yang lebih dari sekadar kejahatan.

Karakter-karakter pendukung lain sudah cukup menghidupkan dan menguatkan cerita. Tokoh-tokoh pelengkap cerita ini antara lain Sutan Mahmud, Rubiah, Ahmad Maulana, Fatimah, dan Alimah. Sutan Mahmud, ayah Samsulbahri, adalah seorang penghulu terpandang di kota Padang yang memiliki pemikiran lebih maju dari masyarakat pada umumnya. Rubiah adalah kakak perempuannya yang memiliki porsi cukup sedikit di novel ini, tapi cukup untuk membuat saya membencinya meski dia bukanlah tokoh antagonis. Ahmad Maulana adalah saudara Nurbaya yang juga memiliki pandangan yang berbeda dari masyarakat Padang pada zaman itu. Fatimah, istri Ahmad Maulana, sama menjengkelkannya seperti Rubiah. Sedangkan Alimah sudah seperti sosok kakak bagi Nurbaya. Dengan jumlah tokoh yang tidak terlalu banyak, Rusli berhasil menghidupkan cerita, menghadirkan konflik yang menguras emosi saya, bahkan memberikan gambaran betapa kaum perempuan sangat terbelakang pada masa itu.

Kasih tak sampai memang menjadi tema yang selalu menarik untuk dituang ke dalam tulisan, namun Marah Rusli adalah sosok yang lebih dari itu. Rusli merupakan pria Minang yang mengenyam pendidikan Ilmu Kedokteran Hewan di Belanda. Keinginannya untuk menikahi perempuan Sunda ditentang keluarga hingga akhirnya ia dijodohkan dengan perempuan Minang. Latar belakang itulah yang agaknya sedikit banyak memengaruhi novel ini. Pendidikan yang didapatnya dari Belanda membuatnya percaya ada beberapa adat yang pantas ditinggalkan, salah satunya perempuan yang ditempatkan sebagai budak laki-laki. Hal ini terangkum secara jelas dalam beberapa bagian di novel Sitti Nurbaya: Kasih Tak Sampai.

Budaya patriarki yang secara eskplisit menjadikan perempuan ‘milik’ laki-laki menjadi plot yang menarik dari novel ini. Rubiah dan Fatimah adalah dua karakter perempuan dewasa yang mirisnya justru hadir untuk menggambarkan betapa terbelakang pemikiran perempuan Minang (atau bahkan Indonesia) pada abad 18-an. Rubiah yang malu dengan Sutan Mahmud karena tidak memiliki istri banyak, Fatimah yang menganggap tidak seharusnya perempuan sekolah menunjukkan betapa perempuan kala itu nrimo dengan kondisi kaumnya. Penerimaan yang tidak wajar ini seolah berada dalam lingkaran setan akibat jauhnya perempuan memperoleh pendidikan. Masyarakat Indonesia, khususnya Minang, kala itu dipaksa menelan bulat-bulat segala adat istiadat yang pada akhirnya menjadi kiblat segala urusan kehidupan. Budaya asing dianggap hina, lacur, dan tidak akan berdampak positif bagi kehidupan mereka kelak. Rubiah bahkan terkesan biasa bersikap rasis dengan menuduh Sutan Mahmud bersedia menukar agamanya dengan Nasrani karena berpikir tidak seharusnya dia memiliki istri banyak. Memiliki istri seorang saja, dinilainya merupakan budaya negeri kafir yang tidak seharusnya dilakukan oleh masyarakat Minang yang ‘berbudaya’. Pernyataan Fatimah lebih membuat miris lagi. Menurutnya, perempuan memang sebaiknya tidak sekolah karena akan memiliki keberanian untuk melawan. Tak jauh berbeda dari kepercayaan masyarakat Jawa yang familiar saya dengar: ojo diskolahi, mengko minteri (Jangan disekolahkan, nanti menggunakan kepintaran untuk membodohi orang lain).

Secara keseluruhan, Marah Rusli berhasil menelurkan novel yang menggetarkan hati saya, dan mungkin pembaca-pembacanya yang lain. Plot cerita yang dibangun dengan rapi, konflik yang membuat saya prihatin sekaligus bersyukur, karakterisasi yang mendetail, dan ending yang cukup memuaskan. Membaca novel ini membuat saya marah, menangis, dan jengkel dengan porsi yang nyaris sama. Rusli berhasil menuliskan novel sastra bertema cinta tanpa membuatnya terkesan seperti roman picisan. Sudut pandang yang ditawarkan Rusli juga menarik. Untuk berpindah dari satu latar ke latar yang lain, Rusli memakai kalimat penghung seperti: supaya dapat kita ketahui di mana kebakaran ini, marilah kita tinggalkan Sitti Nurbaya di rumahnya dan kita ikuti Penghulu Sutan Mahmud. Saat membacanya, saya membayangkan proses syuting saat kamera track in menuju delman yang membawa Sutan Mahmud.
Sayangnya, hal-hal menarik dari budaya Minang yang bisa diekspos justru memiliki porsi yang minim. Saya tertarik dengan alasan anak laki-laki Minang yang harus diasuh oleh mamandanya (saudara laki-laki ibunya), namun sayangnya tidak ada pembahasan lebih jauh soal ini. Sebaliknya, Rusli menuliskan dialog yang kurang penting terlalu panjang dan intens. Poin penting dari dialog yang seharusnya menjadi fokus utama justru terlupakan karena banyaknya percakapan dan pantun yang dilibatkan. Bahkan suasana sedih yang dibangun gagal saya rasakan karena panjangnya Nur dan Sam berbalas pantun. Pada abad 18-19 pantun memang merupakan bagian dari budaya sehari-hari di suku Minang. Agaknya, Rusli tidak menyangka novelnya akan dibaca hingga seabad sejak terbit pertama kali hingga tidak mengantisipasi hal ini. Tapi saya rasa peran penerbit juga besar dalam abadinya bahasa yang digunakan novel-novel sastra lama. Selain itu, ada satu hal yang cukup mengganjal di hati saya, yang menjadikan novel ini memiliki jalinan cerita yang kurang padu. Dalam suratnya untuk Sam, Nur terkesan playing victim dengan menyarankan Sam kelak untuk tidak memaksa anaknya menikah dengan orang yang tidak disukai. Pernyataan itu membuat saya menjadi paham kenapa Sitti Nurbaya justru menjadi identik dengan perjodohan yang dipaksakan.

Namun tetap tidak bisa dipungkiri, Sitti Nurbaya: Kasih Tak Sampai merupakan salah satu novel sastra terpenting yang ada di Indonesia. Untuk lebih memahami bagaimana kisah Sitti Nurbaya dan Samsulbahri sebenarnya, anda wajib membacanya sendiri. Selamat membaca!

Resensi ini sekaligus menjadi juara 4 dalam kompetisi yang diselenggarakan oleh storial.co dan PT Telkom Indonesia.

 

Judul: Sitti Nurbaya, Kasih Tak Sampai

Penulis: Marah Rusli

Penerbit: Balai Pustaka

 

Bagikan Artikel ini: