Bagikan Artikel ini:

Gerakan menuntut persamaan hak dan keadilan untuk wanita dimulai sejak akhir abad 18 dimana di negara-negara Barat wanita tidak lebih dijadikan sebagai seorang istri, ibu dan/atau pekerja yang berada jauh di bawah laki-laki, dengan usaha dan jerih payah yang berat dan panjang. Namun saat ini kesamaan hak tersebut sudah dapat dirasakan oleh banyak wanita di negara-negara merdeka di dunia dalam semua aspek kehidupan. Salah satu cerita dari sekelumit perjuangan tersebut diangkat dalam sebuah film berjudul ‘Suffragette’.

Film ‘Suffragette’ merupakan film fiksional berlatar peristiwa nyata di Inggris Raya pada awal abad 20, di mana tuntutan damai para wanita untuk mendapatkan hak pilih untuk parlemen sedang sengit terjadi namun tidak juga mendapatkan tanggapan karena diabaikan oleh pemerintah yang sedang berkuasa.

Cerita pada film ini dimulai pada tahun 1912 di sebuah pabrik binatu di salah satu sudut kota London yang sebagian besar pekerjanya adalah wanita dengan upah kecil. Maud Watts (Carey Mullifgan) –salah satu pekerja di binatu- terjebak dalam sebuah aksi anarkis yang dilakukan oleh aktivis Suffragette –sebutan untuk organisasi advokasi wanita untuk memiliki hak dalam pemilihan umum.

Di tengah aksi tersebut Maud mengenal salah satu aktivis sebagai rekan kerjanya, Viollet Miller (Anne-Marie Duff) yang juga mengenali Maud. Sepulang kerja Viollet mendatangi Maud dengan maksud mengajaknya memberikan pernyataan tentang ketidakpatutan kondisi kerja mereka mewakili bidang binatu di pengadilan, sebagai syarat untuk peninjauan kembali Rancangan Undang-undang (RUU) yang mungkin saja memberikan kesempatan bagi wanita untuk memiliki hak pilih.

Tawaran tersebut ditolak oleh Maud namun dia bersedia untuk datang mendengarkan pernyataan Viollet, yang sayangnya membuat Maud berada dalam lingkaran aktivis Suffragette. Melalui berbagai kekecewaan, kesendirian, cemoohan, penyiksaan, penjara dan lainnya Maud terus berjuang menjadi salah satu aktivis yang paling aktif memperjuangkan ketidakadilan yang dialami oleh perempuan bahkan dengan menjadi seorang militan.

Salah satu scene (Sumber: btchflcks.com)

Film ini menyuguhkan suasana kota London khas abad 20, sebelum perang dunia terjadi yang dibuat dengan sangat bagus sehingga kesan yang didapat penonton sangat baik seperti kebanyakan film-film buatan Inggris seperti Sherlock Holmes. Cerita yang disajikan cukup rumit tentang dilema Maud yang merupakan seorang ibu dan istri di satu sisi dan seorang pejuang di sisi yang lain.

Berkat akting yang mumpuni dan meyakinkan dari Carey Mullifgant, tokoh fiksional Maud dapat membawa penonton merasakan kesedihan saat ia berpisah dengan anaknya serta  kesedihan dan kemarahan pada pemerintahan Inggris pada adegan lain. Film ini menggambarkan bagaimana terpuruknya wanita pada zaman tersebut yang terwakilkan oleh Maud dan para pekerja binatu, kekerasan dalam rumah tangga, kerasnya pekerjaan untuk perempuan, kekerasan seksual bahkan pada anak serta keberpihakan hukum pada kaum laki-laki dan masih banyak lagi.

Garis besar dari cerita dalam film ini sebenarnya sudah dijelaskan di menit awal film. Awal dari tindakan militan kaum Suffragette tetap menarik untuk diikuti. Lika-liku kehidupan para militan suffragette sampai akhir film yang benar-benar dramatis. Film ini juga menyuguhkan banyak pesan dan quote-quote yang sangat menginspirasi.

Seperti yang dikatakan oleh Maud dalam acara hearing di persidangan, bahwa kita tidak boleh menyerah dan harus berusaha pada hidup ini dan untuk terus berjuang. Kata-kata yang paling saya ingat adalah, “berbuat bukan sekedar kata-kata yang dapat memberikan hak pilih” dengan kata lain act not word yang merupakan tagline dari film ini selain “vote for women”. Film ini hanya berdurasi 106 menit membuat beberapa adegan kurang detil dan penjelasan terhadap beberapa masalah terasa kurang.

Film Suffragette hanya mengulas sebagian kecil dari peristiwa sebenarnya, seperti tokoh Emmeline Pankhurst (diperankan oleh Meryl Streep) yang merupakan tokoh kunci dalam revolusi yang sebenarnya hanya muncul beberapa menit dalam film.

Selain itu pada catatan di akhir film disebutkan bahwa perempuan mendapatkan hak pilih pertama pada tahun 1918, sedangkan film Suffragette berakhir pada tahun 1913, sehingga ada jarak 5 tahun pada peristiwa asli sampai tujuan dari aksi Suffragette terpenuhi. Hal ini harus dicari sendiri oleh penonton jika ingin mengetahui lebih lanjut tentang kelanjutan perjuangan hak-hak wanita di Inggris.

Judul: Suffragette

Sutradara: Sarah Gavron

Rilis: 12 Oktober 2015

Bahasa:  Bahasa Inggris

Durasi: 106  menit

IMDB Score: 6,9/10

Pemain: Carey Mullifgan, Anne-Marie Duff, Helena Bonham Carter

Bagikan Artikel ini: