Bagikan Artikel ini:

SOLIDpress.co, Yogyakarta– Ajang seni rupa terbesar di Indonesia kembali dilaksanakan, Art Jogja 2016 (ART|JOG|9). Namun pada pelaksanaan kesembilan kalinya tahun ini, panitia ART|JOG|9 mendapat desakan serta kecaman dari publik komunitas seniman dan aktivis lingkungan yang mengatasanamakan diri sebagai Aliansi Boikot ArtJog. Kecaman tersebut muncul akibat panitia penyelenggara menerima PT. Freeport Indonesia menjadi salah satu sponsor ART|JOG|9, perusahaan eksploitasi tambang di Papua.

Kecewa dengan Art Jog, aliansi mengkampanyekan kepada masyarakat untuk menolak perhelatan kesenian dan kebudayaan yang menggunakan sponsor perusahaan penindas rakyat. Mereka mengutip penyair penting Indonesia, WS Rendra, yang menyatakan “apalah arti kesenian bila terlepas dari derita lingkungan.”

Adapun pada puncaknya kemarin (16/06), Aliansi Boikot ArtJog melakukan aksi tuntutan dan penolakan berupa longmarch dari Titik Nol Kilometer Yogyakarta menuju lokasi berlangsungnya pameran ART|JOG|9, Jogjakarta National Museum (JNM), Yogyakarta.

Tuntutan itu disampaikan lewat unjuk rasa di depan gerbang JNM dengan membawa spanduk dan tulisan-tulisan kecaman atas ArtJog karena menerima dana sponsor dari Freeport. Sebanyak 30 orang menggelar unjuk rasa dan dijaga ketat oleh puluhan polisi, beberapa diantaranya penduduk asal Papua di Yogyakarta.

Mereka menilai panitia ArtJog tidak memiliki kepekaan terhadap persoalan yang dihadapi warga Papua. “Kalo kawan-kawan melihat disana (ArtJog 2016-red) ada satu banner, disitu ada Bank Mandiri dan PT. Freeport Indonesia, itu sponsor yang digaet pihak penyelenggara ArtJog. Freeport dengan jelas-jelas kita tahu bahwa mengeruk kekayaan alam di Papua dengan cara-cara yang tidak manusiawi,” kata Muhammad Nasihuddin, Koordinator Umum Aliansi Boikot ArtJog.

ArtJog, yang didalamnya terdapat banyak seniman, yang seharusnya membela kepentingan masyarakat dan menyuarakan misi kemanusiaan justru dianggap telah lalai. ”Bagaimana mungkin mereka tega menelan nasi pemberian PT. Freeport manakala di Papua saudara kita berlumuran darah perlawanan?,” ungkap Nasih.

Aliansi Boikot ArtJog dengan tegas menyatakan posisi mereka tidak anti atau menolak kegiatan seni apapun. Tapi, mereka menolak seni yang tak berperikemanusiaan. Dan bahwasannya pagelaran seni Art Jog dengan mengusung tema kemanusian adalah kesalahan fatal karena itu kontraproduktif dengan realita yang ada. “Uangnya Freepot itu uangnya masyarakat Papua, US$14 juta dikucurkan Freeport untuk membeli aparat keamanan negara pertahunnya untuk membunuh saudara kita sendiri di Papua dan Bank Mandiri juga sama mengucurkan dana sekitar Rp. 3 Triliun lebih untuk pembangunan pabrik Semen di Rembang,” tambah Nasih.

Menurut Nasih, Penyelenggara ArtJog harus bertanggungjawab atas keikutsertaan PT. Freeport dan perusahaan perusak lingkungan lain yang menjadi sponsor kegiatan. Hal itu dianggap sebagai sumber masalah dari kekisruhan dalam pagelaran seni Art Jog 2016. “Tapi ArtJog lagi-lagi yang seharusnya menyemai benih-benih pembelaan di masyarakat menikmati uang itu. Mereka sempat mengkonfimasi bahwa mereka mendapat dana Rp. 100 juta, tapi mustahil itu. Ada 72 seniman yang terlibat, tidak mungkin dananya segitu.” tutupnya.

Muhammad Nasihuddin, selaku Koordinator Umum Aksi ketika diwawancarai oleh awak SOLID (Foto: Nur Riza Arnas)

Muhammad Nasihuddin, selaku Koordinator Umum Aksi ketika diwawancarai oleh awak SOLID (Foto: Nur Riza Arnas)

Adapun tuntutan Aliansi Boikot Art Jog adalah; memutuskan kontrak karya dengan PT. Freeport, menolak kontrak PT. Freeport pada aktivitas kesenian di berbagai wilayah di Indonesia, dan mengharapkan kepada ketua penyelenggara Art Jog 2016, Heri Pemad, agar mengembalikan uang sponsor dari PT. Freeport di Art Jog. Tuntutan selanjutnya adalah menghimbau pada para penyelenggara kegiatan seni dan sekalian seniman untuk tidak bekerjasama dengan PT. Freeport dan perusahaan hitam lainnya.

Sebelumnya, Direktur Art Jog, Heri Pemad, menyatakan tidak akan mengembalikan uang sponsor Rp 100 juta dari Freeport Indonesia. Ia sudah mengikat komitmen dengan perusahaan itu. Karena itu, tidak mudah buat panitia Art Jog menghentikan perjanjian di tengah penyelenggaraan kegiatan. “Jika kami menghentikan sponsorship Freeport, bisa kena masalah hukum,” kata Heri Pemad.

Sementara dilain kesempatan ketika awak SOLID meminta konfirmasi langsung dari pihak penyelenggara ART|JOG|9, mereka tidak bersedia ditemui dan menganggap sudah cukup jelas klarifikasi pemberitaan terkait kerjasama antara ART|JOG|9 dan PT. Freeport Indonesia.

Pada salah satu poin klarifikasi yakni poin keempat tercantum,  “Keputusan panitia ART|JOG|9 untuk meminta dukungan dana dari PT. FREEPORT dilakukan atas kebutuhan pendanaan yang mendesak yang bila tidak segera dipenuhi akan mengancam keberlangsungan ART|JOG|9 dan seluruh acara lain yang diselenggarakan oleh pihak di luar panitia ART|JOG|9. Dana tersebut dipakai untuk operasional awal kerja penyelenggara,”

Melalui siaran pers itu panitia ART|JOG|9 juga meminta maaf kepada semua pihak yang tersakiti atas dukungan sponsor. Panitia sekaligus berterima kasih kepada seluruh pihak di dalam dan diluar kesenian atas segala kritik, saran, dan dukungan yang diberikan.

Klarifikasi dan Siaran Pers Panitia Penyelenggara Artjog 2016 diterbitkan per tanggal 13 Juni 2016 oleh Heri Pemad selaku Direktur ART|JOG|9 (melalui official akun twitter @artjog dan website resmi ART JOG).

ART|JOG|9  mengambil tema Universal Influence yang berlokasi di gedung Jogja National Museum. Ini merupakan lokasi baru, karena sebelumnya bursa seni yang digelar saban tahun sejak 2008 itu, dihelat di Taman Budaya Yogyakarta. Berlangsung sejak 27 Mei hingga 27 Juni, ada 97 benda seni karya 72 seniman dalam dan luar negeri yang dipamerkan di ArtJog ke-9.

Bagikan Artikel ini: