Bagikan Artikel ini:

(SOLIDpress.co, Kampus Terpadu) Dalam buku Kurikulum Pendidikan Tinggi (K-DIKTI), Kurikulum merupakan keseluruhan rencana dan pengaturan mengenai capaian pembelajaran lulusan, bahan kajian, proses, dan penilaian pembelajaran yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan program studi pada sistem pendidikan khususnya pendidikan tinggi. Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek dan Dikti) mencatat terdapat ±9377 Program Studi (Prodi) jenjang Strata-1 (S1) di Indonesia. Di Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) Universitas Islam Indonesia (UII) sendiri mempunyai 3 Prodi yaitu, Teknik Sipil, Arsitektur, dan Teknik Lingkungan. Dari setiap prodi tersebut tidak terlepas dengan penerapan kurikulum dalam proses pembelajarannya sebagai pedoman penyelenggaraan program studi, termasuk Program Studi Teknik Sipil (PSTS).

Di PSTS UII sendiri, terdapat beberapa kurikulum yang sempat diterapkan untuk pemenuhan penyelenggaraan program studi. Apalagi dalam beberapa tahun ini, sudah terdengar hingar bingar akan diberlakukannya akreditasi internasional oleh Japan Accreditation Board for Engineering Education (JABEE) di lingkungan PSTS UII. Pada tahun 2009, PSTS telah melangkah maju dalam penyusunan Kurikulum dengan mengacu pada standarisasi Acreditation Body for Engineering and Technology (ABET), USA.

Kemudian sesuai dengan tuntutan akreditasi internasional dan perkembangan pendidikan tinggi maka Kurikulum PSTS tahun 2009 perlu ditinjau ulang dan diperbaharui. Sejak tahun 2012, PSTS telah melakukan berbagai usaha untuk menyiapkan kurikulum yang selanjutnya disebut dengan Kurikulum 2014. Perubahan Kurikulum 2009 menjadi Kurikulum 2014 merupakan bagian dari proses perbaikan yang berkelanjutan (continuous improvement).

Kurikulum Baru 2014 PSTS dipersiapkan dan disusun sejak tahun 2012 sesuai kriteria JABEE dalam rangka menuju akreditasi internasional. Sebelumnya terdapat dokumen yang sudah disusun oleh jajaran PSTS periode lalu yaitu ketika masih menunjuk ABET sebagai rujukan akreditasi internasional. “Esensinya setelah kita belajar dari JABEE kita tahu bahwa (ABET -red) itu sama, kita mengacu pada Washington Accord yaitu berbasis keluaran (outcome based). Untuk itu kita arahkan semuanya sesuai kriteria JABEE,” ungkap Miftahul Fauziah, selaku Ketua PSTS UII.

Outcome sendiri merupakan kemampuan mengintegrasikan intellectual skill, knowledge dan affective dalam sebuah perilaku secara utuh (Kepmendiknas 232/U/2000 dan Kepmendiknas 045/U/2002). Selain outcome, Prodi juga harus memiliki poin Uniqueness (keunikan) berdasarkan kemampuan lulusan. Maka, PSTS UII menyusun kriteria-kriteria lulusan yang membedakan PSTS UII dengan PSTS lainnya. Ketua PSTS UII menyatakan bahwa kurikulum sebelumnya belum memasukkan yang dinamakan uniqueness, padahal PSTS UII mempunyai keunggulan dalam penurunan resiko bencana. “Kita sudah mempunyai ciri, kurikulum kita mengeluarkan lulusan yang Amanah, TRampil, Kompetensi, adapTIF dan InovaTIF (ATRAKTIF) dan berwawasan kebencanaan. Kemudian diturunkan lagi dalam semua mata kuliah yang intinya kita sempurnakan untuk menjalankan sistem full outcome based,” jelasnya.

Dewasa ini, dalam upaya meng-upgrade Kurikulum 2009 menjadi Kurikulum 2014 yaitu dengan mengubah dari berbasis isi menjadi berbasis kompetensi sehingga Kurikulum 2014 adalah kurikulum berbasis kompetensi (KBK), merujuk pada Keputusan Menteri Pendidikan dan Budaya (Kepmendikbud) Nomor: 45/U/2002. Dalam argumennya mengenai pengembangan akreditasi Miftahul menjelaskan bahwa tujuannya sendiri adalah untuk mengakomodasi kebutuhan terbaru dan global. “Penerapan akreditasi tersebut kita design dalam pemenuhan profil lulusan PSTS UII yang diharapkan sesuai nantinya memenuhi kebutuhan masyarakat (societal needs), mereka butuhnya apa (industrial/business needs), sehingga dipakai di masyarakat, yaitu untuk bekerja (professional needs),” tambahnya.

Senada dengan Ketua PSTS UII, Bachnas, salah satu dosen PSTS UII, juga kompak menjawab, “Sistem ini sangat baik (output lulusan -red). Mahasiswa kan tidak selamanya di kampus toh, dia akan kerja, kalau dia hebatkan cari kerja bisa lebih mudah. Nggak ada perusahaan yang terima kalau dia tidak hebat.” Beliaupun beranggapan bahwa penerapan kurikulum 2014 ini sudah sesuai dan terintegrasi dengan akreditasi internasional JABEE. “Saya rasa penerapannya sudah kami paparkan, bagaimana untuk bisa mendorong mahasiswa agar lebih efektif dalam proses belajar. Untuk itu dosen-dosen dan juga fasilitas yang ada juga ikut mendorong ke arah tersebut.”

Metode pembelajaran student centered learning (SCL) diarahkan pada pembekalan method of inquiry and discovery seperti yang tercantum dalam point-point tinjauan kurikulum 2014. Di mana mahasiswa harus berperan aktif dalam memenuhi kebutuhan belajar, persiapan materi pelajaran dan termasuk metode belajarnya. Sehingga tidak hanya terpaku dan menunggu penyampaian materi oleh dosen saja. Parsipasi untuk terlibat aktif juga masih terlihat belum maksimal dilaksanakan oleh mahasiswa PSTS UII. Mengenai hal tersebut, Agus Susanto selaku dosen PSTS UII menuturkan beliau sendiri belum banyak mengetahui tentang hal tersebut, hanya saja ada pembagian waktu antara belajar di kelas dan di luar kelas, termasuk tugas. “Budaya mahasiswa di sini sendiri belum jalan, budaya tanya jawab dan diskusi. Mungkin salah satunya karena kekurangan saya dalam memoderatori diskusi. Partispasi mahasiswa juga masih kurang dalam beberapa kali diskusi yang coba kita laksanakan,” jelasnya.

Terkait kendala dalam penerapan kurikulum 2014, Miftahul menuturkan adanya disparitas usia dosen yang jauh antara dosen senior dan dosen baru yang berdampak pada penerapan kurikulum yang baru. “Semuanya memang butuh waktu, ada yang berjalan cepat, ada juga yang masih tertatih-tatih. Masalah disparitas tadikan banyak dan berbeda misalnya dengan Teknik Lingkungan yang rata-rata usia dosennya mendekati sama, hanya beberapa yang senior.”

Selanjutnya, Bachnas pun menyampaikan sistem penilaian yang berdasarkan pendidikan berbasis hasil (outcome based education) terlihat agak rumit. Banyak aspek yang harus dinilai dan itu sedikit menyulitkan untuk dosen senior yang sudah nyaman dengan penilaian kurikulum sebelumnya. “Dosen juga sampai saat ini masih terus beradaptasi untuk dalam penerapan sistem Learning Outcome (LO), meskipun mereka dibebani banyak penilaian untuk mengetahui pencapaian mahasiswa.”

Setali tiga uang, Sumaiyah Ohorella, mahasiswi semester enam, juga berpendapat bahwa tantangannya lebih berat ke depannya, penilaian LO mengharuskan mahasiswa lulus di setiap LO-nya. Kalau ada yang gagal di satu LO saja itu bisa membuat mahasiswa gagal dan harus mengulang di semester selanjutnya. “Mau gak mau harus lulus kan, satu LO itu berharga banget, kalau per LO-nya gak sampai 55 ya mau gak mau harus ngulang,” tuturnya.

Menurut Agus Susanto, beliau seringkali melanggar rumusan suatu prosedur atau prototype apabila kurang mendukung proses pembelajaran kepada mahasiswa sendiri. “Tujuan dari pendidikan itu membuat mahasiswa lebih baik, lebih paham. Kalau sampai ada mahasiswa yang terpuruk, maka tujuan pendidikan tidak tecapai,” katanya. Dosen muda tersebut berpendapat bahwa aturan yang berlaku sekarang adalah hasil rumusan manusia juga, “Kita berusaha mengikuti semua aturan, tapi jangan takut-takut melakukan improvisasi. Aturan dibuatkan kan untuk menjadikan kita lebih baik, kalau dirasa kurang baik ya, usahakan implementasikan yang baik-baik,” tambahnya.

Menanggapi hal tersebut, Ketua PSTS yang juga sebagai dosen menyatakan memang kurikulum bukanlah hal yang mati. “Jadi yang diminta oleh JABEE dan Washington Accord adalah outcome based kemudian ada continuous improvement. Jadi setiap saat nanti ada perbaikan, misalnya isi materi. Kemudian perbaikan yang sifatnya besar, apakah kurikulum kita sudah sesuai dengan kebutuhan pasar. Itu setiap saat dan periodik kita evaluasi, fungsinya, bentuknya, caranya mungkin, tapi lulusannya harus tetap dijamin,” tutup Miftahul Fauziah.

Bagikan Artikel ini: