Bagikan Artikel ini:

(SOLIDpress.co, Kampus Terpadu) Japan Accreditation Board for Engineering Education (JABEE), Jumat (11/3), melakukan serah terima sertifikat akreditasi untuk Prodi Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP),
Universitas Islam Indonesia (UII). Sertifikat akreditasi ini diserahterimakan oleh Executive Managing Director of JABEE, Dr. Yasuyuki Aoshima kepada Rektor UII, Dr. Ir. Harsoyo, M.Sc, di Auditorium Kahar Mudzakkir UII, bertepatan dengan pembukaan rangkaian kegiatan Milad UII yang ke-73.

JABEE adalah lembaga swadaya yang mengakreditasi program studi di perguruan tinggi untuk menghasilkan tenaga profesional yang diakui oleh asosiasi profesi internasional. JABEE didirikan pada tahun 1999, yang kini menyandang status “full signatory” Washington Accord, perjanjian international antara institusi yang mengakreditasi program pendidikan kerekayasaan, bersama negara penandatangan lainya seperti Amerika Serikat, Kanada, dan Inggris.
Menurut ketua Prodi Teknik Sipil UII Miftahul Fauziah, JABEE sendiri baru dikenal oleh Prodi Teknik Sipil sejak akhir tahun 2013. Pada saat itu universitas sedang gencar-gencarnya mendorong prodiprodi yang sudah mendapat akreditasi A untuk meningkatkan kualitas ke tingkat yang lebih tinggi lagi atau internasionalisasi. Sedangkan untuk Prodi yang belum terakreditasi A diharapkan bisa mendapatkan akreditasi A dengan program hibah Kompetisi Program Studi (KPS), salah satu program pengembangan dari UII. Program ini telah dimulai UII pada tahun 2010 dan pada tahun
2011 akhir pihak Prodi Teknik Sipil mulai menyusun proposal untuk akreditasi internasional namun
tidak langsung ke JABEE.

Sebelumnya pada kurikulum 2009, Accreditation Board for Engineering and Technology (ABET) pernah menjadi acuan. Namun dikarenakan biaya pada tiap proses yang sangat mahal dan pertimbangan lainnya. Menurut Miftahul Fauziah , prodi yang saat itu sedang mengembangkan keunikan lokal yaitu penguatan diaspek kebencanaan khususnya kegempaan dan sangat dekat dengan Jepang akhirnya lebih memilih JABEE dengan pertimbangan aspek biaya dan kedekatan kerjasama. Pertimbangan lainnya adalah kesamaan ABET dan JABEE, sebagai penandatangan Washington Accord juga membuktikan kesetaraan antara JABEE dengan ABET, “Program studi diakreditasi oleh JABEE, itu diakui oleh ABET setara. Jadi sesama badan akreditor itu saling mengakui kesetaraan kualitas namanya substantial equivalence, untuk semua penanda tangan Washington Accord,” tambahnya.

Senada dengan Miftahul Fauziah, menurut Pradipta Nandi Wardhana, dosen tetap dari Jurusan Teknik Sipil, salah satu faktor terpilihnya JABEE daripada ABET adalah karena perbandingan biaya. Namun tidak ada ketentuan yang menyatakan bahwa mendapatkan akreditasi ABET akan lebih unggul dari pada akreditasi JABEE. “Keduanya sama saja,” tambahnya.

Semua penandatanganan Washington Accord mempunyai konsep outcome based education, yaitu pendidikan yang berbasis outcome atau keluaran. Dengan kata lain yang dijamin adalah hasil pembelajaran dari mahasiswa saat menyelesaikan studinya. Washington Accord sudah mempunyai learning outcome sendiri, dan untuk prodi yang akan diakreditasi diharuskan mempunyai learning outcome yang sama atau yang lebih tinggi. “Harus dijamin bahwa semua learning outcome yang dijanjikan itu semuanya terpenuhi,” jelas Miftahul Fauziah, menerangkan syarat untuk memperoleh akreditasi dari JABEE.

“Mereka masih kurang jelas masalah intake, proses penerimaan” ujar Pradipta, menjelaskan salah satu hal yang perlu peninjauan ulang dari pihak Jurusan Teknik Sipil. Hal tersebut pernah menjadi kendala ketika peninjauan dilakukan dari pihak JABEE yang datang ke FTSP UII. Namun menurutPradipta sendiri masalah penerimaan di UII sudah termasuk jelas, dan yang dimaksudkan dari pihak JABEE memang terbilang baru untuk Indonesia bahkan di Jepang sendiri. Dijelaskan pula oleh ketua prodi Jurusan Teknik Sipil FTSP UII bahwa JABEE mempunyai empat kriteria yang diturunkan menjadi 27 item, dari 27 item yang harus dinilai tersebut ada satu item yang tidak dinilai karena tidak
available untuk Jurusan teknik Sipil FTSP UII. Dari 26 sisanya semuanya acceptable kecuali tiga hal yang concern atau “C”, artinya memenuhi tapi masih dibutuhkan improvement. Salah satunya berkaitan dengan admission policy, proses penerimaan mahasiswa baru. JABEE menyarankan untuk lebih menspesifikkan kriteria mahasiswa yang akan diterima, demi kesesuaian mahasiswa dengan learning outcome yang ada atau dijanjikan.

Walaupun terbilang lebih banyak pekerjaan yang harus dilakukan namun hal itu tetap dirasa perlu sebagai suatu perubahan yang baik.” Tidak masalah dengan JABEE, memang lebih ribet tapi selama menghasilkan output yang lebih baik kenapa tidak,” ungkap Prima Juanita Romadhona, dosen Jurusan Teknik Sipil, memaparkan persiapannya akan JABEE. Dalam evaluasi terakhir menurut dosen lulusan Lund University, Swedia ini, memang ada perbedaan sistem yang baru dengan yang lama yaitu masalah learning outcome, sehingga sosialisasi yang intensif dianggap perlu karena banyak dosen-dosen senior yang belum menerapkan dan kurang seimbang, ada yang menerapkan dan yang
tidak.

Hal tersebutpun memang menjadi kendala yang sulit. “Yang susah itukan merubah mindset, yang dulu input based ke outcome based,” ujar Miftahul Fauziah. Menurut ketua prodi yang merangkap sebagai dosen itu juga mengakui bahwa dalam pekerjaan kini menjadi lebih rumit, namun itu adalah upaya untuk menjamin outcome terpenuhi. Dalam penerapan yang dilakukan oleh dosen-dosen senior memang diakui oleh ketua prodi bahwa beberapa ada yang resisten, namun ada juga dosen senior yang berjiwa muda sehingga diharapkan dapat mengajak dosen seangkatannya. “Itu bukan
masalah, kita bilang itu tantangan yang harus kita atasi,” tutup Miftahul Fauziah.

 

Bagikan Artikel ini: