Bagikan Artikel ini:

 

Buku ini terdiri dari tiga tulisan panjang yang dituliskan oleh Harsja W. Bachtiar Guru Besar Sosiologi Universitas Indonesia, Peter B.R.Carey -sejarawan Britania yang berfokus ke sejarah Indonesia modern, Jawa, Timor Timur (East Timor), juga Burma- dan Onghokham sejarawan-cum-cendekiawan Indonesia.

Sejarawan sekaligus direktur Komunitas Bambu, JJ Rizal, dalam pengantarnya mengatakan bahwa Raden Saleh Sjarif Boestaman dikenang dengan penuh kebanggan sebagai maestro seni lukis Indonesia pertama yang karya-karyanya, “Memukau dan luar biasa bernilai.”

Namun, ia juga diingat dengan sinis dan penuh kecaman. Menurut JJ Rizal, hal ini dikarenakan Raden Saleh yang justru pergi ke Belanda dan mengabdi sebagai “anak” Raja Belanda William III, sementara sanak keluarganya, sedang memerangi Belanda bersama Dipanagara di penghujung masa perlawanan yang dikenal sebagai Java Oorlog (Perang Jawa). Raden Saleh memang kerap kali diafiliasikan dengan sikap yang tidak revolusioner dan sikap nasionalisme yang bahkan tidak sama sekali pantas disebut nasionalisme: Nasionalisme yang memihak ke penjajah.

Namun, sepulangnya ia dari Belanda, yang mana ia gunakan untuk belajar seni melukis bahkan mencari pengaruh sehingga kelak ia diangkat menjadi pelukis Raja Belanda dan memperoleh berbagai orde (penobatan gelar) dari kerajaan di Eropa, Raden Saleh membuat lukisan yang sangat indah dan begitu mengharukan tentang penangkapan Dipanagara oleh Belanda di Magelang yang ia beri judul: Historisches Tableau, die Gefangennahmen des Javanischen Hauptling Diepo Negoro.

Harsja W. Bachtiar, dalam tulisannya yang berjudul Raden Saleh: Bangsawan, Pelukis dan Ilmuwan, yang dijadikan bab pertama dalam buku ini, lebih rinci memaparkan bagaimana kehidupan Raden Saleh sebagai bangsawan, pelukis dan ilmuwan tersebut. Sebagai bangsawan, yang membuatnya diingat dengan sinis dan kecaman, Raden Saleh bisa dibilang adalah seorang pribumi yang mendapatkan keistimewaan yang sangat besar oleh kalangan bangsawan Eropa. Tak hanya kerajaan Belanda, dalam turnya di Eropa, ia banyak diapresiasi oleh Grand Duke Saxe-Coburg-Gotha, Raja Friedrich August II dari Saxony, Raja Prancis Louis Philipe dll.

Aktivitas dan pergaulan hidupnya di Eropa dengan kalangan bangsawan tersebut sekaligus kecemerlangan ia dalam melukis sehingga dikalangan seniman Eropa sangat dikenal, membuat ia mendapatkan julukan le prince javanais dan dianugerahkan gelar Ksatria Orde Tahta Pohon Oak oleh Raja William II.

Sebagai seorang pelukis, Raden Saleh banyak melukis potret Raja-raja, jenderal-jenderal koloni Belanda seperti H.W Daendels, J. Van den Bosch dll, kaum elit-bangsawan Eropa serta kalangan kaum priyayi di Indonesia. Ia juga melukis perkelahian binatang seperti lukisannya yang berjudul Lions and a snake fighting Outside a Grotto in a Tropical Landscape, 1839, ada juga lukisannya tentang seorang pribumi Jawa menunggang kerbau yang diserang seeokor harimau, lukisan perburuan binatang, dan beberapa lukisan bergaya Mooi Indië.

Sebagai seorang ilmuwan, Raden Saleh banyak berkontribusi dalam penelitian manuskrip-manuskrip serta barang-barang kuno peninggalan peradaban kerajaan di nusantara kala itu. Kiprahnya didunia ini sebenarnya dimulainya dari mengikuti kegiatan salah seorang Profesor bidang botani, etnografi, geologi dan sejarah Jawa. Kegiatan yang dari awalnya hanya melukis beberapa spesies binatang karena kepentingan ilmiah Profesor Reinwardt tersebut, belakangan berkembang menjadi peneliti dibidang arkeologi yang mencari fosil-fosil.

Hasil dalam pekerjaan ekskavasi tersebut sangat apik. Peneliti lain, Profesor J.K.C Martin mengatakan bahwa fosil-fosil yang ditemukan Raden Saleh berpotensi merupakan satwa fauna Sivalik India di Jawa. Pelacakan itu berdasarkan bukti bahwa gigi geraham yang ditemukannya berasal dari fosil gajah India. Peranannya tersebut dan dalam usaha menemukan manuskrip-manuskrip–yang memberikan informasi tentang agama dan kehidupan sosial orang Sunda–membuat dia diangkat menjadi anggota kehormatan dari sebuah lembaga ilmu pengetahuan dan seni, Bataviasche Genootschap.

Karya-karya budaya Raden Saleh, menurut Bachtiar, dalam penutupnya, menunjukan bahwa ia adalah seorang seniman berbakat kreatif serta seorang pelukis yang sangat berhasil. “Raden Saleh bekerja dengan klien yang sangat spesifik, mereka adalah para raja, pangeran, duke, bangsawan, baron dan para bourjois ternama.”

Dan juga, Raden Saleh telah memberikan kontribusi yang signifikan dalam ilmu pengetahuan. Sebagai seorang pribumi, ia memang berbeda. Ketertarikan masyarakat pribumi Jawa terhadap pengetahuan ilmiah pada abad ke-19, khususnya seperempat abad pertama, menurut Bachtiar, masih rendah.

Lukisan Penangkapan Dipanagara
Peter B.R. Carey, dalam tulisannya berjudul Raden Saleh: Dipanagara dan Lukisan Penangkapan Dipanagara di Magelang (28 Maret 1830), menulis bahwa lukisan tersebut telah lama diakui sebagai sebuah masterpiece. Karya itu dibuat pada tahun 1857 setelah Raden Saleh kembali ke Jawa dan kemudian mempersembahkannya kepada Raja Belanda, William III sebagai tanda terima kasih atas pendidikan dan pelatihan sebagai pelukis yang diterimanya selama hampir 23 tahun.

Tak ada kedekatan antara Pangeran Dipanagara dengan Raden Saleh. Mereka bahkan tak pernah bertatap muka. Carey menjelaskan bahwa ketika Perang Jawa berkobar, Raden Saleh masih terlalu muda untuk secara pribadi ambil bagian atau bergabung dengan salah satu pihak yang bertikai. Apalagi, saat penangkapan Dipanagara yang disebarluaskan secara luas oleh pers kolonial saat itu, Saleh telah meninggalkan pulau Jawa.

Carey memaparkan bahwa dengan dipersembahkannya lukisan tersebut kepada Raja Belanda, hal itu, “memberikan petunjuk bahwa hanya sedikit motif kebanggaan nasional didalam diri Saleh.”

Namun, dibalik kecaman dan sinis yang diingat dari Raden Saleh, Carey menemukan sebuah interpretasi baru akan sikap Raden Saleh, yang kalau memang tidak bisa disebut nasionalis, paling minim hanya disebut ikut membantu Dipanagara. Saat itu tersiar kabar bahwa dalam pengasingan, Pangeran Dipanagara diperlakukan tidak manusiawi. Siaran itu diberitakan oleh pers Prancis. Laporan pers itu mengungkapkan keluhan tentang cara pejabat Belanda memperlakukan Dipanagara di pembuangannya.

Dipanagara, mengutip dari laporan itu, “dikurung diantara empat buah tembok, didalam sebuah benteng kecil, terpisah dari seluruh anggota keluarganya, dijaga dengan ketat, tidak diperkenankan menulis surat baik kepada Gubernur Jenderal atau kepada siapa pun selama 18 tahun dan diperlakukan secara amat kasar dan kejam yang sama sekali tidak pantas dan layak dilakukan oleh pemerintah negeri ini (Belanda)”

Peristiwa itu, lanjut Carey, menimbulkan suatu pertanyaan. Siapakah yang dapat memberikan informasi kepada pers Prancis? Hanya seorang saja yang dapat berbuat demikian, tiada lain, “Raden Saleh sendiri.”

Selain itu, dalam interpretasi Carey atas lukisan Raden Saleh yang kalau di Indonesiakan menjadi “Lukisan Bersejarah: Penangkapan Pemimpin Jawa Dipanagara” tersebut, Raden Saleh ternyata tak memiliki rasa kagum terhadap pemimpin pribumi yang melawan Belanda tersebut. Raden Saleh bahkan sampai memasukkan dirinya sendiri kedalam lukisan tersebut yang dimana ia berdiri menunduk dengan penuh takzim di hadapan Dipanagara. Sedangkan yang satunya lagi sebagai seorang pengikut Dipanagara dengan wajah, yang menurut Carey, “penuh kecemasan menatap ke depan.”

Raden Saleh pun tampak melebih-lebihkan atau mendramatisir sosok Dipanagara yang ia lukiskan. Ia melukis Diapanagara berdiri tegap dengan sikap menantang, yang dimana lanjut Carey, sangat bertolak belakang dengan ekspresi nyata saat Dipanagara ditangkap.

Nyatanya, Dipanagara ditangkap dengan sikap penuh kepasrahan diri, seperti yang dilaporkan Mayor Stuers, yang dikutip Carey dalam tulisannya,” Jika ada suatu sikap Dipanagara yang benar-benar mengesankan, terutama sekali bagi Kapten Roeps dan saya sendiri, maka itu adalah sikap acuh tak acuh, pasrah atau berserah diri yang tidak berubah sedikit pun.”

Karena lukisan sosok Dipanagara yang sedikit didramatisir tersebut, Raden Saleh, menurut Carey, “Sangat mungkin ia menyimpan rasa hormat dan kekaguman terhadap sang Pangeran”.

Mooi Indië, Hindia Yang Beku  
Hindia Belanda memiliki pegunungan, sawah, peternakan, sungai-sungai yang meliuk-liuk, desa yang aktivitasnya tidak begitu sibuk, wanita-wanita dengan kulit yang eksotis dan segala ketentraman sekaligus keindahan yang bisa membuat pensiunan koloni perlu memesan satu atau dua buah lukisan pemandangan tersebut untuk dibawanya pulang ke Belanda. Semua yang indah-indah, damai dan tentram di bumi Hindia, ketika diabadikan dengan menggunakan cat air dan kanvas, itulah Mooi Indië.

Onghokham, dalam tulisannya “Hindia Yang Dibekukan, Mooi Indië dalam Seni Rupa dan Ilmu Sosial”, secara sederhana mengatakan bahwa Mooi Indië adalah penggambaran alam dan masyarakat Hindia Belanda secara damai, tenang dan harmonis seperti artinya “Hindia yang Molek”.

Lukisan-lukisan Raden Saleh termasuk bergaya atau bermazhab Mooi Indië. Seperti misalnya pertarungan banteng dengan macan, lukisan dengan obyek Gunung Merapi yang meletus dimalam hari dan penangkapan Dipanagara.

Menurut sejarawan-cum-cendekiawan berdarah Tionghoa ini, mazhab tersebut berakar dari romantisme yang merajalela di Eropa pada zaman Hindia Belanda. Di Eropa, romantisme merupakan sebuah gerakan seni, sastra dan intelektual. Gerakan tersebut mengankat seni rakyat, alam dan kebiasaan.

Yang menarik dari tulisan Onghokham tersebut, Mooi Indië pada akhirnya tidak hanya sekedar seni lukis. Ia dinterpretasikan dan dielaborasikan juga sebagai sebuah bentuk orientalisme yang mana meurupakan politk Belanda dalam menginformasikan dan mencoba membentuk pandangan dunia terkait dunia Timur atau Hindia Belanda.

Mazhab yang kemudian menyatu dengan proyek kolonialisme ini, melalui sarjana kulit putih, ingin menciptakan Timur yang eksotis sekaligus menguntungkan.

Orientalisme melalui Mooi Indië tersebut juga ikut membantu mengajak sarjana-sarjana Belanda untuk meneliti kepulauan Indonesia, khususnya Jawa. Makin lama, pendidikan untuk pegawai kolonial makin ditingkatkan mutunya. Menurut Onghokham semakin seringlah seorang pejabat kolonial yang menikmati liburan panjang di Eropa mempergunakan waktunya untuk menulis disertasi untuk memperoleh gelar doktornya di bidang ilmu hukum, etnologi dan bahasa.

Efek sosial mazhab Mooi Indie, yang mana sering sekali mengangkat tema terkait pedesaan dan masyarakatnya, menjadikan desa itu sendiri mesti menjadi kesatuan yang harmonis, serasi dan abadi. Desa mesti dijadikan sasaran kebijaksanaan pemerintah.

Selain itu, berbagai konsekuensi logis lainnya adalah bagaimana beberapa cendekiawan Belanda seperti H.J. Boeke melihat peluang adanya sintesa antara Timur dan Barat. Boeke yang mendukung Politi Etis diterapkan di Belanda mendasari gagasannya karena melihat desa-desa Jawa sebagai masyarakat yang harmonis, bergotong royong, tenteram dan sangat bijaksana, berbeda dengan Barat yang dinamis, namun maju.

Di kemudian hari, terinspirasi oleh Boeke, seorang pegawai negeri Hindia Belanda bernama de Kadt Angelino membuat buku-buku tebal yang didalamnya ia ajukan konsepsi tentang Rijkseenheid, yakni kesatuan dan persatuan Kerajaan Belanda, termasuk wilayah-wilayah jajahannya di Timur dan Barat- Hindia Barat dan Suriname.

Terakhir, yang menjadi kritik Onghokham dalam orientalisme Mooi Indië itu adalah bahwa disiplin ilmiah yang diterapkan sangat beku, tidak melihat bahkan, “menolak perkembangan masyarakat dan sejarah.” Ada upaya untuk membekukan Hindia, seperti lukisan-lukisan bergaya Mooi Indië yang selalu tenang dan damai, yang mana jarang, bahkan tidak mungkin, mengangkat kondisi sosial nyata terjadi di Hindia Belanda. Maka daripada itu, kerangka Orientalisme tersebut seolah terkesan statis, tanpa melihat dinamika kemasyarakatan yang sebetulnya terjadi. Hindia Yang Dibekukan.

Dari tiga tulisan panjang para pakar sejarawan yang ada dalam buku Raden Saleh: Anak Belanda, Mooi Indië & Nasionalisme tersebut menunjukan bahwa penelitan yang dilakukan sangat mendalam.

Selain detail dan panjang, buku ini semacam memberikan pengantar yang apik dalam proses mempelajari Raden Saleh, lingkungannya, bahkan warisan-warisannya: Mulai dari Harsja W. Bachtiar yang menjelaskan detail kehidupannya (sebagai pelukis, bangsawan, dan ilmuwan), lalu Peter B.R. Carey dalam interpretasi lukisannya (sekaligus memuat peristiwa-peristiwa sebelum dan sesudah penangkapan Dipanagara, bahkan detail siapa saja yang berada dalam lukisan itu), sampai Onghokham yang mengulas dan meneliti mazhab Mooi Indië dan konteks sosial-kemasyarakatan-ilmu dari orientalisme tersebut.

Bagi peminat sejarah, pelukis-seniman, kritikus sosial, dan kalangan akademisi, buku ini sangat cocok dijadikan referensi. Sebagai teman saat waktu luang juga bisa, karena gaya penulisannya yang ilmiah namun enak dibaca. Tak ada kiranya kekurangan dalam buku ini.

Judul: Raden Saleh: Anak Belanda, Mooi Indië & Nasionalisme | Penulis: Harsja W. Bachtiar, Peter B.R. Carey, Onghokham | Penyunting dan Penerjemah: JJ Rizal dan Gatot Triwira | Penerbit: Komunitas Bambu | Cetakan Pertama: Februari 2009

Bagikan Artikel ini: