Bagikan Artikel ini:

(SOLIDpress.co, Kampus FTSP) Tepat di sebelah timur Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), tidak jauh dari kantin FTSP, terdapat sungai alamiah yang sudah mengalir. Berada di Lingkungan kampus tidak menjamin sungai tersebut terawat dengan baik. “Saluran (Sungai) depan FTSP ini tidak dapat dikatakan bagus, karena banyak sampah,” ucap Sandy Trisatya Martha ketua Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL).

Senada dengan Sandy, Erwin Ketna Wirandani, selaku mahasiswa Teknik Lingkungan 2012 juga mengungkapkan hal yang sama. “Sebenarnya saya belum totalitas buat observasi ke lapangan, yang saya perhatikan pada pagi itu sampahnya banyak sekali.”

FTSP yang notabene terdapat jurusan yang konsen di bidang lingkungan seolah tidak memperlihatkan perawatan terhadap sungai yang melintas. “Yang jelas kita tidak bisa memungkiri sungai itu melewati kampus (FTSP), paling tidak kita sebagai institusi yang kawasannya terlewati, kita sebagai akademisi, sebagai pemilik gedung sebagai yang dilewati, kita sama-sama rawat kali itu, meskipun belum tahu asal sampah, paling tidak kita ada peran untuk merawat karena itu komponen Lingkungan kita,” ungkap Erwin Ketna Wirandani.

Berbeda dengan Erwin dan Sandy, Eko Siswoyo selaku dosen Teknik Lingkungan Universitas Islam Indonesia (UII) mempunyai pendapat berbeda terkait kondisi sungai tersebut. “Kalau untuk sampah satu dua sampah saya pikir masih wajar, cuman sampai saat ini saya pikir masih bagus.”

Terkait dengan perawatan sungai tersebut, Erwin juga menambahkan, perlu adanya pemberdayaan baik dari pimpinan FTSP ataupun lembaga kemahasiswaan. “Sangat perlu sekali, kita dapat memberdayakan mahasiswa, memberdayakan akademisi, kita punya dasar lingkungan dan engineer, kita punya lah peran disitu,” ujar Erwin saat diwawancarai di innercourt.

Tidak jauh berbeda dengan Erwin, Sandy mahasiswa Teknik Lingkungan 2013 mengatakan FTSP yang mempunyai jurusan Teknik Lingkungan harus mempunyai peran lebih terkait pengelolaan sungai. “Seharusnya perlu, saluran (Sungai) ini termasuk dari bagian FTSP, kalau dilihat orang luar kan gak enak juga, ada mahasiswa Teknik Lingkungan tapi kok sungainya seperti ini.”

Perihal perawatan sungai sendiri Widodo Brontowiyono selaku dekan FTSP berpendapat bahwa kondisi sungai dipengaruhi kondisi hilir dan tidak dapat dibicarakan sepotong-sepotong. “Kita perlu berkolaborasi dengan hulunya sungai-sungai yang melewati UII.”

Widodo juga menambahkan bahwa tidak hanya persoalaan perawatan sungai yang melewati FTSP saja, tapi perlu adanya sinergi antara kampus dengan lingkungan sekitar. “Kami merencanakan untuk 2016 khususnya FTSP, ada sinergi antara kampus dan kampung. Harapannya nanti mahasiswa kita dapat bersinergi dengan masyarakat kampung, untuk mengelola sampah dan mengelola limbah untuk menghindari potensi kumuh, nanti kedepan,” ungkap Widodo saat ditemui di ruangannya.

Herman Cemper selaku ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) FTSP mencoba membandingkan persoalan sungai yang tepat berada di depan kantor lembaga kemahasiswaan ini, dengan sungai yang berada di Universitas Brawijaya yang dapat dioptimalkan sebagai media pembelajaran. ”Kalau di Universitas Brawijaya, ada semacam sungai kecil, di dekatnya dibuat bendung tapi versi kecil, bisa untuk belajar juga.”

Sama halnya dengan Herman Cemper, Eko Siswoyo membandingkan sungai di depan kantor lembaga dengan lagoon yang berada di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). “Seperti di kampus UMM yang tengahnya ada lagoon, dan dapat dikoneksikan dengan Rain Water Harvesting (RWH), sehingga musim kemarau bisa digunakan sebagai penampungan.”

Penjelasan terkait RWH sendiri Eko Siswoyo menambahkan. “Jadi kedepannya penggunaan air tanah kita kurangi dan tepat di atas reservoar, sebelah pohon mangga, kita kasih tampungan dan ada filter, kemudian air hujan yang masuk kita tampung,” ungkap Eko Siswoyo saat ditemui di ruang jurusan Teknik Lingkungan.

Herman Cemper juga berharap adanya perhatian lebih terkait pengelolaan sungai tersebut baik dari lembaga kemahasiswaan ataupun pimpinan fakultas “Harapan saya ada sinergi antara lembaga kemahasiswaan dan pimpinan dekanat untuk mengoptimalkan, dan untuk sungai kita kembalikan ke fungsinya,” pungkasnya di akhir wawancara.

(Helmy Badar Nahdi)

Bagikan Artikel ini: