Bagikan Artikel ini:

(SOLIDPress.co, Kampus Terpadu) Kamis (10/12) bertempat di Lantai 2 Gedung Kuliah Umum (GKU) Prof. Dr. Sardjito Universitas Islam Indonesia (UII) pukul 19.00 diadakan kajian bertemakan ‘Ketika Moralitas dan Wibawa Setya Novanto Diperdagangkan’. Kajian ini diselenggarakan oleh Lembaga Eksekutif Mahasiswa (LEM) UII serta hadir Anang Zubaidy, dosen Fakultas Hukum (FH) UII dan Harry Setya Nugraha, mantan Ketua LEM FH UII 2014/2015 sebagai pemateri.

Firzan D Chandra selaku Ketua Bidang (Kabid) Kajian dan Penelitian LEM UII menjelaskan, latar belakang diselenggarakannya kajian ini adalah maraknya pemberitaan mengenai Setya Novanto. “Sebenarnya inti permasalahannya kan di Freeport, cuman kita fokusnya di Setya Novanto karena untuk menarik minat publik terhadap kajian juga,” jelasnya usai kajian.

Dalam kajian malam tadi, Anang mengingatkan bahwa tidak bisa melihat permasalahan korupsi hanya dari kasus Setya Novanto. “Setya Novanto itu ada masa selesainya. Ketika sebagai ketua DPR ada masa pensiunnya, sebagai manusia mati juga. Tapi kita perjuangkan kedaulatan energi kita.”

Hal senada disampaikan oleh Harry yang juga masih menimba ilmu S2 di FH UII. Menurutnya, kasus Setya Novanto merupakan contoh yang sangat kecil. Ia mengibaratkan Setya Novanto hanya tutup botol yang di dalam botolnya masih terdapat banyak kasus lain. “Jadi saya harap teman-teman di sini meski kita membahas kasus Setya Novanto tapi paradigma berpikir kita jangan hanya pada Setya Novanto,” ujar mahasiswa asal Jambi ini.

Harry juga mengingatkan, bila nantinya akan ada aksi terkait kasus Setya Novanto, harus ada pembacaan opini publik yang baik. “Jangan sampai ketika teman-teman melakukan aksi tapi teman-teman tidak melakukan pembacaan cerdas.”
Salah satu peserta yang hadir, Asep, mahasiswa Teknik Industri angkatan 2013, menilai kajian seperti ini sangat bermanfaat. “Inisiatif-inisiatif yang seperti ini harus terus dilakukan oleh lembaga kemahasiswaan yang ada di lingkungan UII,” terangnya setelah konsolidasi di GKU selesai.

Namun, Asep menilai aksi yang digagas oleh LEM UII terlalu mendadak. “Artinya ketika memang ini dilakukan besok hari itu terlalu dini. Pembahasan, teknis di lapangan, pembacaan pun belum. Termasuk tuntutan-tuntutannya saya rasa tadi banyak yang lucu.”

Terkait aksi yang digelar hari ini, Chandra menjelaskan hal itu merupakan follow up dari kajian yang sudah dilakukan. “Ketika ini hanya sekedar kajian saja, tidak ada implementasi atau follow up sesudahnya, ini akan sia-sia,” pungkasnya.

(Sofiati Mukrimah)

Bagikan Artikel ini: