Bagikan Artikel ini:

(SOLIDpress.co, Kampus FTSP) Ruang I/02 Gedung Moch. Natsir Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Islam Indonesia (FTSP UII) menjadi saksi berlangsungnya diskusi dengan pembahasan baru di FTSP UII. Pembahasan seputar manajemen aksi-lah yang menjadi pembeda disini, karena selama tiga periode kebelakng baru kali inilah diadakan oleh Lembaga Kemahasiswaan di FTSP UII. Dimulai kisaran pukul 19.00 WIB 26 November 2015 lalu, diskusi terkait manajemen aksi ini menghadirkan tiga pemateri, Maulana Hakim (Wakil Ketua DPM UII), Muhammad Ariq (Staff Bidang Advokasi dan Politik Kemahasiswaan LEM FTSP UII), dan Ivanov Pratama (Staff Bidang Advokasi dan Politik Kemahasiswaan LEM FTSP UII).

Diskusi yang diadakan Bidang Advokasi dan Politik Kemahasiswaan LEM FTSP UII ini, sebenarnya dilatarbelakangi atas keresahaan akan aksi sejumlah mahasiswa yang mengatasnamakan KM UII dalam aksinya kepada Badan Wakaf UII pada 13 Oktober 2015 silam. “Awalnya karena kita lihat kemarin itu ada aksi tapi KM FTSP sendiri menarik diri,” papar Rani Risty Fauzi, Kepala Bidang Advokasi dan Politik Kemahasiswaan LEM FTSP UII.

Sedikit melihat kebelakang, kala itu KM FTSP UII menarik diri dari aksi tersebut dikarenakan tidak menyepakati cara yang begitu terburu-buru dan kurang persiapan. Atas dasar itulah diadaknya diskusi manajemen aksi. “Mungkin dari KM FTSP belum banyak yang tahu, makanya kami ambil isu ini (re-manajemen aksi) agar semuanya bisa tau harusnya bagaimana,” jelas Rani.

Rani Risty Fauzi, Kepala Bidang Advokasi dan Politik Kemahasiswaan LEM FTSP UII ketika sedang diwawancarai. (doc : Sobar Ganda Permana)

Rani Risty Fauzi, Kepala Bidang Advokasi dan Politik Kemahasiswaan LEM FTSP UII ketika sedang diwawancarai. (doc : Sobar Ganda Permana)

Sehubungan aksi dan pelaksanaanya, ketika dimintai tanggapan bagaimana LEM FTSP UII memandang aksi, Ia menerangkan bahwa LEM FTSP UII sendiri tidak berarti anti dengan aksi, hanya saja harus melalui persiapan dan tahapan yang wajar. “Awal coba halus, kita audiensi, kita berhubungan dengan pihak terkait tentang permasalahanya, cari jalan tengahnya,” papar Mahasiswa Teknik Sipil angkatan 2013 ini. “Tapi jika mentok, semuanya sama-sama keras, kalau memang butuh aksi apa boleh buat, jadi tidak menutup kemungkinan akan melakukan aksi,” imbuh Rani.

Tanggapan positif datang dari salah satu peserta diskusi, Muhammad Zaki, yang juga pengurus HMTS FTSP UII. “Bagus acaranya, bisa membuka pikiran mahasiswa, bisa menggerakan mahasiswa,” jelas Zaki. Zaki juga berharap kepada Mahasiswa FTSP UII untuk lebih peduli dan mau untuk bergerak. Harapanya jangan masa bodoh lagi, jadi kita sama-sama bergerak jika memang mau bergerak,” paparnya. Harapan lain juga datang dari Rani kepada Mahasiswa FTSP UII. “Kalau kita merasa tertindas, hak kita dirampas, tidak perlu kita takut untuk memprotes, untuk memperjuangkan hak kita, kita harus bergerak mengambil hak kita, kalo bukan kita siapa lagi yang memperjuangkan hak kita,” terang Mahasiswi asal Yogyakarta ini. “Tapi dalam memperjuangkan hak kita itu ada prosedurnya, ada tata caranya dan itu yang harus dimengerti,” tegasnya.

(Iqbal Ramadhan)

Reporter : Suko Prayitno

Bagikan Artikel ini: