Bagikan Artikel ini:

(SOLIDpress.co, Semarang) Siang itu, jalan Abdulrahman Saleh yang biasanya dilalui warga Semarang  terlihat berbeda dibanding hari-hari sebelumnya, terutama ruas jalan yang berada tepat di depan gedung Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Semarang. Hal tersebut dikarenakan beberapa warga yang berasal dari Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan ditambah dengan beberapa mahasiswa serta seniman berunjuk rasa terkait izin pendirian pabrik semen yang diberikan Haryanto selaku Bupati Pati kepada PT Sahabat Mulia Sakti (PT. SMS).

Adapun gugatan yang dilayangkan oleh warga pati, yaitu Jasmo, Wardjo, Paini, Samiun, dan Sardjudi adalah terkait Surat Keputusan Nomor: 660.1/4767 tahun 2014 tentang Izin Lingkungan Pembangunan Pabrik Semen serta Penambangan Batugamping dan Batulempung oleh PT Sahabat Mulia Sakti di Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Sebelumnya, warga yang tergabung dalam Jejaring Masyarakat-Petani Pegunungan Kendeng (JM-PKK) telah melakukan aksi long march berjalan kaki sejak Minggu, 15 November 2015 pukul 19.00. Perjalanan yang menempuh jarak kurang lebih 122 km tersebut dilalui dengan bertelanjang kaki. Tak ayal, beberapa warga tersebut mengalami lecet-lecet pada telapak kakinya, seperti yang disampaikan oleh akun twitter @omahkendeng yang aktif melaporkan langsung perjalanan warga tersebut.

Sekitar pukul 11.00, warga (JM-PKK), mahasiswa, seniman, tiba di depan gedung PTUN Semarang bersamaan dengan teriakan-teriakan tuntutan mereka untuk menolak pendirian pabrik semen PT SMS yang juga merupakan anak perusahaan dari PT Indocement. Teriakan itu lantang disuarakan melalui alat pengeras suara yang berada di atas truk yang dibawa oleh warga.

Orasi tidak hanya disampaikan oleh warga Pati saja, beberapa perwakilan mahasiswa juga diajak berorasi di depan gedung tersebut. Mereka menyampaikan keberatan atas pendirian pabrik semen karena dapat merusak alam di Pati dan juga bertentangan dengan pasal 33 ayat 3. “Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat,” ujar Hanendya Disha Randy Raharja, Menteri Aksi dan Propaganda Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Negeri Semarang (BEM UNNES).

Para seniman juga tak kalah melakukan aksi penolakan mereka, melalui puisinya, Diki seorang seniman dari Jakarta ikut menolak pendirian pabrik semen dengan membacakan puisi yang berjudul “Kebebasan”.

Setelah tujuh jam menjalani persidangan, akhirnya hakim ketua yang dipimpin oleh Adi Budi Sulistyo mengabulkan gugatan penggugat yakni warga Pati dan meminta tergugat Bupati Pati untuk mencabut SK terkait perizinan pendirian pabrik semen. Suasana haru pun tak kuasa dibendung oleh warga mengingat perjuangan mereka menjemput keadilan tidak sia-sia.

Selain itu warga pati melalui Zaenal Arifin selaku Tim Advokasi Peduli Kendeng siap jika tergugat melakukan banding. “Kita tentu menunggu apakah mereka akan melakukan banding, jika mereka melakukan banding kita juga harus menuruti upaya tersebut,” tutupnya yang ditemui seusai persidangan.

(Alfin Fadhilah)

Bagikan Artikel ini: