Bagikan Artikel ini:

SOLIDpress.co, Kampus Terpadu UII – Memperingati Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada hari ini, kemarin Selasa (27/10) Lembaga Eksekutif Mahasiswa Universitas Islam Indonesia mengadakan kajian dan diskusi dengan tema “Harmonisasi nilai-nilai sumpah pemuda guna meningkatkan peran dan fungsi mahasiswa sebagai agen perubahan”.

Bertempat di pelataran Auditorium Kahar Mudzakir UII, diskusi ini dipantik oleh alumnus Fakultas Hukum UII angkatan 1974 Daris Purba dan Melki AS selaku Kordinator Jaringan dan Pendidikan Social Movement Institute (SMI)-sebuah lembaga gerakan sosial.

Daris Purba mengatakan bahwa saat ini, dalam penerapan nilai-nilai kepemudaan, ada kesenjangan yang cukup tinggi antara kondisi pra reformasi dengan pasca reformasi.

Ia menjelaskan bahwa saat itu nilai-nilai kepemudaan disebarluaskan dalam berbagai hal seperti misalnya karya sastra seperti novel “Cintaku Di kampus Biru” yang tidak hanya soal percintaan saja, melainkan memiliki muatan-muatan aktivisme mahasiswa.

Selain itu, ia menceritakan bahwa saat masa kuliahnya, agenda-agenda kemahasiswaan justru mengarah kepada semangat perlawanan (kritik) terhadap penguasa dan keberpihakan kepada kaum yang ditindas.

Seperti contohnya kegiatan seni dan sastra seperti Teater Unisi yang saat itu dinilai kritis terhadap penguasa. “Semua kegiatan itu berawal dari wacana-wacana yang dibangun lembaga kemahasiswaan dan bermuara kepada kritik terhadap penguasa.” Ia bahkan menceritakan bahwa saat itu Teater Unisi sempat dibungkam karena terlalu pedas mengkritik pemerintahan. “Pemerintah pusing, Teater Unisi dilarang manggung.”

Namun, lanjutnya, penyebaran nilai-nilai dan nilai-nilai itu sendiri yang saat ini justru telah tergerus oleh, “Sistem ekonomi, politik dan juga pendidikan kita.”

Di kondisi saat ini, Daris Purba sendiri pun menyesali adanya pergeseran paradigma mahasiswa yang justru lebih mendewakan nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) dibanding menjunjung tinggi nilai-nilai kepemudaan dan kemahasiswaan.

“Apa kalau dapat IPK 3,9 kamu besok bisa jadi Presiden? Mau jadi apa dengan 3,9?” tanya Daris kepada peserta diskusi.

Ia pun menyampaikan bahwa mahasiswa saat ini harus belajar dari sejarah dimana kaum pemuda sangat berperan terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di Indonesia. “Benar, revolusi Indonesia adalah revolusi pemuda.Pasti anak muda yang memprakarsai dan itu pastinya dari kampus.”

Terkait mengkonteksan nilai-nilai sumpah pemuda di jaman sekarang, Melki AS sendiri menyoroti gerakan-gerakan kepemudaan yang justru lebih banyak bersifat seremonial semata. “Apakah sumpah pemuda ini hanya seremonial belaka? Harus kita akui seremonial itu sering, misalnya dalam memperingati sumpah pemuda, dengan lomba berorasi atau lomba tangkap bebek,” celoteh aktivis yang merupakan alumus Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa ini.

Ia sangat menyayangkan peristiwa sumpah pemuda yang seolah tidak berarti lagi. “Kita berdosa dengan para pendahulu.”

Persoalan-persoalan seperti itulah yang menurut Melki, jika dikonteksan dengan persoalan-persoalan bangsa juga, harus dipikirkan oleh mahasiswa. “Kalau istilah Antonio Gramsci adalah intelektual organik, nah mahasiswa itu seharusnya seperti itu.”

Serupa dengan Daris Purba, ia pun menyadari bahwa perubahan yang terjadi sebelum kemerdekaan itu tak bisa lebas dari peran pemuda. Menurut Melki, revolusi adalah tindakan. Namun, bukan berarti tindakan itu hanya berupa gerakan tagar di media sosial.

“Contohnya soal asap. Api itu tak bisa dipadamkan dengan hashtag. Apa mungkin melanjutkan kemerdekaan dengan gerakan-gerakan hashtag seperti itu?” ujar Melki dengan candaan.

Ia pun berpendapat bahwasanya hari ini bangsa sedang mengalami cobaan yang sangat besar. Banyak persoalan-persoalan yang terjadi didalam tatanan masyarakat. Harusnya, lanjut Melki, hal-hal seperti itulah yang menjadi gairah mahasiswa. “Artinya, syahwat mahasiswa itu seharusnya tinggi dalam menyelesaikan persoalan kebangsaan. Kita harus turun tangan,” ujarnya.

Turun tangan sendiri pun, menurut Melki, bisa dilakukan dengan aksi-aksi demonstrasi. Ia mengatakan bahwa jangan mengira aksi demonstrasi mahasiswa tidak ada artinya. Melainkan, aksi seperti demonstrasi itu, “Justru akan mengabarkan kepada negara bahwa ada persoalan yang belum selesai di negara ini dan ada fungsi pengawalan terhadap itu.”

Melki AS sendiri berpendapat bahwasanya mahasiswa harus mampu bergerak secara independen, “Tanpa ada ikatan dengan siapapun selain dengan kemanusiaan dan kebenaran.”

Dalam salah satu tulisan Melki As yang disebarkan saat diskusi itu juga ia berpendapat bahwa untuk memulai gerakan, terlebih dahulu yang harus dilakukan adalah dengan menghidupkan kembali kultur pengetahuan dengan tradisi bertanya, meneliti dan membaca.

Kedua yaitu mendorong keikutsertaan dalam organisasi dengan semangat solidaritas dan kepedulian kepada sesama. Ketiga menciptakan kultur solidaritas sehingga tumbuh kepekaan dan kepedulian pada semua soal kemanusiaan. Dan yang terakhir adalah dengan mendorong munculnya tradisi protes untuk melawan segala bentuk ketidakadilan dan berbagai kejahatan kemanusiaan.

Aviz Havizal mahasiswa Jurusan Teknik Industri yang menjadi peserta diskusi amat menyayangkan kurangnya mahasiswa umum yang datang. Ia menilai bahwa acara tersebut justru diramaikan oleh aktivis mahasiswa atau mahasiswa berlembaga.  Menurut aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia ini, seharusnya pesertanya diisi oleh mahasiswa non-aktivis dan non organisatoris yang menurutnya, “Bingung tentang apa yang harusnya  dilakukan oleh mahasiswa sebagai kader bangsa.”

Dari segi pemantik diskusi sendiri Aviz menilai kedua-duanya cukup pas, “Pak Darwis memberikan penjelasan secara universal dan Mas Melki memberikan penjelasan secara detail.”

Aviz sendiri mengharapkan agar diskusi-diskusi seperti ini harus sering digelar dan dilaksanakan, “Tidak perlu menunggu momentum (hari-hari  nasional).”

Sumpah pemuda sendiri adalah hasil keputusan Kongres Pemuda Kedua yang diselenggerakan tanggal 27-28 Oktober 87 tahun yang lalu. Keputusan ini berisi tentang penegasan bahwa kaum pemuda mengaku bertumpah darah yang satu, mengaku berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan satu yaitu Bahasa Indonesia.

Diakhir diskusi seluruh peserta dan pemantik berdiri dan mengikrarkan Sumpah Pemuda.

(Mufli Muthaher)

Bagikan Artikel ini: