Bagikan Artikel ini:

SOLIDpress.co, Kampus FTSP–  PIKSI 2015, kegiatan malam keakraban (makrab) mahasiswa jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Islam Indonesia (TS FTSP UII), kembali menjadi perbincangan hangat. Hal itu dikarenakan permasalahan perizinan yang tak kunjung terselesaikan. Kontra pandangan antara mahasiswa dan pihak birokrat kian mengerucut.

Menurut Lutfiah Mahri, peserta acara makrab PIKSI 2015, ada beberapa dosen yang menentang acara makrab tersebut dan menghimbau mahasiswanya untuk tidak mengikuti acara kemahasiswaan karena terjadi tabrakan jadwal. “Pak Setya Winarno mengatakan untuk memilih PIKSI atau kuliah,” ujar Lutfiah.

Menurut mahasiswi asal Yogyakarta ini, sebagai mahasiswa baru memang terjadi kebingungan dikarenakan perang himbauan antara lembaga kemahasiswaan dengan pihak dekanat. “Awalnya saya lebih percaya kepada dosen, terlebih ketika mengatasnamakan dekan, namun setelah ada perizinan yang jelas saya pun percaya dengan apa yang tertulis.” Lutfiah menuturkan.

Setya Winarno sebagai dosen termaksud pun mengonfirmasi bahwa himbauan tersebut memang benar adanya. ”Makrab boleh dilakukan asal tidak mengganggu kuliah, kami mendukung kegiatan mahasiswa asalkan tidak mengganggu perkuliahan,” tutupnya.

Tidak hanya di kelas Lutfiah, di lain kelas pun ada himbauan yang lebih tajam bertajuk intimidasi.” Jika kalian tidak datang pada mata kuliah saya hari Jumat, nilai kalian nol,” tutur Nur Asria Surya menirukan pernyataan Faizul Chasanah selaku dosen teknik sipil. Menurut keterangan  mahasiswi asal Pontianak itu, jadwal adanya kuis ataupun evaluasi dari dosen bersangkutan masih sekitar dua minggu lagi sehingga terkesan tidak beralasan langsung memberikan nilai secara sepihak.

Sampai berita ini diturunkan, kami belum mendapatkan konfirmasi dari Faizul Chasanah terkait pernyataannya tersebut.

Fahmy Destiyan Dewantoro sebagai pelaksana acara makrab PIKSI 2015 sangat menyayangkan perilaku dosen tersebut. “Harusnya dekanat dan jurusan hanya memberikan masukan terhadap acara ini, bukan malah mengintervensi,” tambahnya.

Dari pihak Himpunan Mahasiswa Teknik Sipil (HMTS) pun membenarkan adanya dosen yang menentang adanya makrab di waktu perkuliahan walau pun telah membawa izin yang jelas. “Dosen yang tidak setuju ini mencampurkan sanksi akademik untuk kegiatan kemahasiswaan. Saya merasa ini sudah melanggar hak-hak mahasiswa untuk berkegiatan dan juga saya merasa ada kesewenang-wenangan dosen mengenai masalah perizinan,” ucap Muhammad Syafiq Dhiya’ulhaq selaku ketua HMTS UII yang mana makrab PIKSI 2015 merupakan salah satu program kerja himpunan.

“Permasalahan makrab sendiri berawal dari beredarnya surat yang ditanda-tangani oleh wakil dekan dan dikirim ke lembaga kemahasiswaan beserta kepanitiaan makrab tiga jurusan yaitu Teknik Sipil, Teknik Lingkungan, dan Arsitektur,” ucap Herman Cemper sebagai ketua DPM FTSP mencoba manarik akar permasalahan. Adapun surat tersebut berisi acara-acara yang diselenggarakan lembaga kemahasiswaan khususnya makrab untuk tidak mengganggu hari perkuliahan.

Ketika surat tersebut dikonfirmasi oleh pihak DPM FTSP ke dekanat, ternyata pihak dekanat mengatakan bahwa surat tersebut merupakan kewajiban. Seiring dekatnya pelaksanaan acara makrab dan dalam konteks ini adalah PIKSI 2015 yang jatuh pada tanggal 15 Oktober 2015, beberapa dosen pun ada yang melarang terkait penggunaan hari Jumat yang jatuh keesokan harinya dan beberapa dosen mengancam akan memberikan sanksi akademik.

Menindak-lanjuti permasalahan tersebut, pihak DPM FTSP telah mengklarifikasi kepada peserta PIKSI 2015 bahwa tidak ada sanksi akademis yang berupa pemberian nilai nol bagi mahasiswa yang mengikuti acara makrab tersebut. “Hal demikian sangat tidak profesional,” tutur Herman. Ketika permintaan izin tersebut tidak diberikan, Herman kembali mempertanyakan perilaku dosen yang bisa izin secara sepihak dan terkesan seenaknya dan kemudian menggantinya pada hari yang lain. “Kita bernegosiasi untuk mengganti jam kuliah tersebut pada hari yang lain”, Herman Cemper menawarkan solusi.

Tindak lanjut tersebut sampai kepada pengajuan petisi pada hari Kamis (15/10) dalam bentuk penyerahan bukti persetujuan dari peserta makrab yang berupa tanda tangan dari masing-masing peserta. Petisi pun mengerucut menjadi audiensi.

(Suko Prayitno)

Reporter: Helmy Badar NahdiIqbal Ramadhan

 

 

 

 

Bagikan Artikel ini: