Bagikan Artikel ini:
Wakil Ketua DPM UII Maulana Arif Rahman Hakim. Ia adalah mahasiswa jurusan Teknik Lingkungan ankgkatan 2012

Wakil Ketua DPM UII Maulana Arif Rahman Hakim. Ia adalah mahasiswa jurusan Teknik Lingkungan angkatan 2012

SOLIDpress.co, Kampus Terpadu UII – Maulana Arif Rahman Hakim selaku Wakil Ketua Dewan Permusyawaratan Mahasiswa Universitas Islam Indonesia (DPM UII) menanggapi Panca Cita dengan positif. “Kalau dari saya satu visilah, itu usulan yang baik soalnya mengkombinasikan antara internal dan eskternal, dimana kita dituntut untuk bergerak, tanggapan saya positif,” ujar mahasiswa yang akrab disapa Hakim saat diwawancarai di Kantin FTSP, Selasa 25 Agustus 2015. (Baca: Panca Cita, Usul Ketua DPM UII Membayar Molornya SU KM UII)

Namun, terkait salah satu panca cita mengenai pengawalan isu-isu nasional, yang menurut Aldhi Setyawan akan dimulai dengan isu Suparman Marzuki vs Sarpin Rizaldi, Hakim sendiri mengatakan ada sisi positif dan sisi negatif mengawal isu Komisoner Komisi Yudisial vs Hakim Sarpin Rizaldi tersebut. Sisi positifnya, lanjut Hakim, mungkin KM UII bisa naik ke permukaan lagi.

“Artinya selama ini KM UII diam-diam saja, ibaratnya belum ada hal-hal yang kita buat khususnya di lingkup nasional,” ujar Hakim.

Sedangkan sisi negatifnya, pengawalan isu-isu nasional seperti Suparman vs Sarpin menurut Hakim terlalu jauh untuk dijangkau KM UII, “Terlalu jauh untuk kita (KM UII) mengarah kesana,”

Alasan lainnya adalah isu Suparman Marzuki vs Hakim Sarpin terlalu berbau politis dan Hakim sendiri cukup mempertanyakan bagaimana arah geraknya nanti ketika isu itu dikawal,” Sangat politis, arah geraknya seperti apa ketika kita mencampuri urusan elit politik seperti itu? Takutnya, ketika terlalu berpihak ke Suparman Marzuki independensi mahasiswa sudah tidak terjaga lagi,” kata Hakim.

Seharusnya, lanjut Hakim, pengawalan isu KM UII diarahkan terlebih dahulu ke lingkup-lingkup sekitar seperti misalnya dalam lingkup regional DIY terlebih dahulu. “Masih banyak isu-isu regional yang melibatkan konflik antara pemerintah dan masyarakat,” jelas mahasiswa jurusan Teknik Lingkungan ini. Namun, serupa dengan Aldhi, menurut Hakim panca cita ini masih akan digodok di internal DPM UII, “Panca cita ini belum dikolegialkan bersama seluruh anggota DPM UII, karena masih ada teman-teman yang KKN.”

Terkait isu Suparman Marzuki vs Hakim Sarpin yang dinilai terlalu berbau politis untuk dikawal KM UII, Aldhi Setyawan sendiri berpendapat hal itu tergantung dilihat dari sisi apa. “Tergantung dari sudut pandang mana kita melihat kasus itu,” ujar Aldhi.

Aldhi menuturukan bahwa isu tersebut akan dianggap berbau elit politik jika mengambil sudut pandang dari segi pertarungan antar lembaga negara, “Tetapi, ketika kita berangkat dari kasusnya yang adalah kasus personal, bukan kasus mereka sebagai petinggi di lembaga negara, maka itu tidak berbau politis,” ujar Aldhi. Intinya, lanjut Aldhi, “Dari mana kita melihat kasus tersebut.”

Menjawab tanggapan terkait seharusnya KM UII menitikberatkan ke isu-isu regional, bukan nasional, Aldhi menjelaskan bahwa itu tergantung kita memahami seperti apa isu nasional dan regional tersebut.

“Kalau isu tersebut dilihat dari segi wilayahnya, memang sulit dibedakan antara isu regional dan nasional, misalnya Kasus Wartawan Udin, itu bisa dibilang sudah mencakup isu nasional, karena sudah hangat diperbincangkan diberbagai daerah, sedangkan kalau dari segi tempat kasus tersebut memang ada di regional DIY,” ujar mahasiswa jurusan Hukum ini.

Pada intinya, lanjut Aldhi, jangan sampai pemetaan isu membatasi arah gerak KM UII, “Sehingga kita fokus ini dulu atau itu dulu, tetapi isu itu cobalah manfaatkan momentumnya, katakanlah misalnya pada hari anti korupsi dsb,” kata Aldhi.

(Mufli Muthaher)

Bagikan Artikel ini: