Bagikan Artikel ini:

SOLIDpress.co, Yogyakarta – Empat hari setelah terjadinya aksi brutal dari aparat tentara bersenjata lengkap kepada petani Urut Sewu membuat beberapa masyarakat jogja menjadi geram. Akibatnya, pada malam kamis (26/8), beberapa masyarakat Jogja dan aktivis yang tergabung dalam Solidaritas untuk Petani Urutsewu Kebumen (SPUK) melakukan aksi solidaritas untuk petani Urut Sewu, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.

Aksi yang berlokasi di KM. 0 tersebut di lakukan atas inisiasi dari masyarakat Jogja yang merasa perlu melakukan aksi ini setelah sebelumnya saling berbagi informasi di media sosial. “Sebenarnya awalnya aksi ini karena ada beberapa teman yang nge-share informasi ini di Facebook, terus aku ajak satu-satu yang nge-share, ‘Ayo kita aksi nyata’,” ungkap Imam Abdul Azis selaku koordinator aksi tersebut.

Selain itu, kekerasan yang menimpa petani Urut Sewu sendiri sebenarnya bukanlah isu yang baru. Tindakan semena-mena dari aparat militer TNI tersebut seperti mengorek luka lama yang pernah terjadi 16 april 2011 silam di bumi Setrojenar, Kebumen. “Pada tahun 2011 pernah terjadi kekerasan juga, penembakan, penahanan kemudian juga ada kriminalisasi warga di Urut Sewu,” tambah Imam.

Beberapa seniman juga ikut andil dalam aksi solidaritas tersebut. Di antaranya adalah Tj Umaruzaman yang membaca dua buah puisi berjudul Anak Wiromartan dan Aku (Ganjar) Pasti Begitu. Pun Agustin dan Slav yang membawakan musikalisasi puisi serta beberapa seniman Jogja yang lainnya.

Aksi solidaritas yang di sudahi dengan menyanyikan lagu Darah Juang itu diharapkan dapat mengangkat isu perampasan tanah oleh militer tersebut kembali ke permukaan dan dapat menarik banyak orang untuk berpartisipasi di dalamnya. “Kami nanti coba kontak kepala desa Urut Sewu Wiromartan, kita coba buat diskusi publik di Jogja,” tutur imam usai selesainya aksi solidaritas.

Pada aksi solidaritas malam itu, SPUK menuntut empat hal. Pertama, mengusut tuntas kasus kekerasan fisik petani dan warga Urut Sewu di desa Wiromartan, Kecamatan Mirit, Kabupaten Kebumen. Kedua, menghukum berat aparat TNI AD yang melakukan kriminalisasi warga dan copot Dandim Kebumen atas tindakan anak buahnya. Ketiga, merobohkan pagar yang membatasi petani Urut Sewu dari tanahnya. Keempat, menjadikan wilayah Urut Sewu sebagai kawasan wisata dan pertanian.

Bagikan Artikel ini: