Bagikan Artikel ini:
Waljam berdiri di antara jamaah (Foto : Iqbal Ramadhan)

Waljam berdiri di antara jamaah (Foto : Iqbal Ramadhan)

Nur Riza Arnas*

“Sebenernya kalo saya pahami kenapa waljam itu dibutuhkan, karena memang kan maba-miba itu kan butuh orang yang membimbing benar-benar ketika proses acara perkenalan, misalnya acara PESTA.” – M. Husain Nashar (Koordinator Waljam Pesta 2015)

Menurut Wikipedia, Orientasi Studi dan Pengenalan Mahasiswa atau Ospek merupakan kegiatan awal bagi setiap peserta didik yang menempuh jenjang perguruan tinggi. Ospek dengan seluruh rangkaian acaranya merupakan pembentukan watak bagi seorang mahasiswa baru. Dengan kata lain bahwa baik tidaknya kepribadian mahasiswa di sebuah perguruan tinggi sedikit banyak ditentukan oleh baik tidaknya pelaksanaan Ospek di perguruan tinggi tersebut. Tidak terkecuali dengan Universitas Islam Indonesia (UII) yang kemarin baru saja selesai melaksanakan agenda tahunan Pesona Taaruf (PESTA) sebagai pintu bagi mahasiswa-mahasiswi baru periode 2015/2016.

Tidak jauh beda dengan tahun-tahun sebelumnya, kegiatan tersebut diselenggarakan oleh ratusan mahasiswa dari berbagai jurusan di lingkungan UII. Mereka sendiri dibagi dalam tim kerja atau departemen yang akan memudahkan pembagian deskripsi kerja masing-masing panitia PESTA 2015. Salah satu departemen yang dianggap penting dan menjadi sorotan atas tujuan dilaksanakan PESTA adalah Wali Jama’ah (Waljam). Waljam sebagai garda terdepan pengenalan peran dan fungsi mahasiswa untuk mahasiswa baru dituntut untuk selalu aktif dan tanggap selama berlangsungnya kegiatan pengenalan kampus tersebut. Terlebih tema yang diangkat dalam Pesta 2015 adalah karakter insan Ulil Albab, beramal ilmiah dan berilmu amaliyah. Pertanyaannya, sejauh apa Waljam dapat menginterpretasikan poin-poin karakter insan Ulil Albab di lapangan?

Salah satu upaya penunjang pengetahuan waljam untuk dapat mengaplikasikan tema tersebut adalah dengan training Waljam. Mereka diberi materi khusus sebagai batasan hal-hal apa saja yang menjadi wewenang mereka sebagai pemandu maba-miba. Tapi apa jadinya ketika kegiatan yang khusus dipersiapkan untuk Waljam tersebut tidak diikuti oleh salah satu atau beberapa waljam? Apakah nantinya mereka dapat dengan baik memandu maba-miba seperti halnya waljam yang mengikuti training secara keseluruhan?

Data yang disampaikan baik oleh ketua SC maupun koordinator waljam sama-sama menyebutkan bahwa semua waljam mengikuti training tanpa terkecuali. Tapi ketika di lapangan masih ada beberapa waljam yang dengan terang-terangan mengatakan bahwa dirinya tidak mengikuti training. Adanya ketidaksamaan antara pernyataan dari masing-masing pihak menunjukkan adanya miss-koordinasi.

Padahal esensi dari training sendiri untuk membekali waljam dalam menyampaikan beberapa hal, yaitu sejarah UII, kelembagaan, keislaman, dan manajemen aksi. Absennya waljam dalam training tersebut bisa membelokkan tujuan awal untuk mengenalkan kampus UII kepada mahasiswa baru. Pada dasarnya, perlu diingat kembali vitalnya peran dan fungsi seorang waljam dalam acara PESTA. Apabila waljam bersikap tidak informatif atau bahkan salah dalam menyampaikan suatu informasi akan riskan menimbulkan karakter-karakter mahasiswa yang amburadul, bukan insan Ulil Albab.

Tentunya peran dan fungsi Waljam harus tetap diberikan pemantapan khusus dengan menyiapkan Waljam yang mumpuni. Bukan orang-orang yang asal pilih dengan seenaknya tanpa didasari dengan karakter-karakter yang seharusnya dimiliki oleh seorang waljam. Perlu adanya pengawasan dan follow up secara serius baik dari Ketua SC maupun koordinator waljam untuk mendisiplinkan rekan-rekan waljam yang kurang berkompeten. Bagaimana membentuk mahasiswa baru yang berkarakter insan Ulil Albab jika ujung tombaknya saja kurang diasah dengan baik dan tidak lebih hanya sebagai formalitas saja untuk mahasiswa baru.

*) Magang 2014 LPM Solid FTSP UII dan mahasiswa jurusan Teknik Sipil

 

Bagikan Artikel ini: