Bagikan Artikel ini:
20150820122315

Semarak Acara Karnaval 17 Agustus 2015, Dusun Krajan, Desa Sidoharjo, Kecamatan Polanharjo, Klaten

Helmy Badar Nahdi*

Dirgahayu negeri ku. Selamat berusia 70 tahun. Sudah bukan usia yang muda lagi bagi sebuah negara. Kesejahteraan dan kemakmuran rakyat menjadi tolok ukur kematangan bangsa.

Berbicara soal perayaan hari kemerdekaan tidak akan jauh dengan lomba-lomba dan teguran/tirakatan ( doa bersama). Yang menjadi menarik adalah soal lomba 17-an. Melihat kondisi anak-anak dan pemuda pemudi bangsa ini tampak sudah jauh dari etika budaya keindonesiaan yang penuh akan budaya budi pekerti dan sopan santun karena tergerus arus globalisasi yang semakin deras. Perlombaan-perlombaan yang dijalankan seolah menambah parah kondisi tadi.

Perlombaan-perlombaan yang diadakan tidak membangun karakter dalam setiap perlehatannya.  Misalnya lomba joget, lomba giring bola dengan centong, lomba makan kerupuk dan masih banyak lagi. Sangat disayangkan jika kemerdekaan ini hanya diisi hura-hura saja, akan terasa sia-sia perjuangan para pejuang dalam memperoleh kemerdekaan. Kita bisa aja beranggapan bahwa setiap perlombaan mengajarkan menang dan kalah, tapi bukankah proses dalam setiap perlombaan yang berperan dalam membangun karakter?

Mencoba memaknai lomba dalam merayakan HUT RI (Republik Indonesia), akan ideal jika lomba dilakukan untuk mengisi karakter-karakter dan watak bangsa yang berbudi luhur. Tapi, coba kita lihat masyarakat Indonesia saat ini. Lomba-lomba yang diadakan dalam menyongsong HUT RI ini bisa dibilang hiburan rakyat. Karnaval salah satunya.

Warga berbondong-bondong konvoi menggunakan pakaian yang, katakanlah, absurd. Berpakaian seperti pocong, berdandan seperti banci, dan badan dilumuri dengan lumpur dan ada pula  badan disemprot dengan pilox. Terlihat aneh dan mubadzir jika karnaval tersebut dilakukan oleh warga yang masih menerima raskin, di dusun Krajan, desa Sidoharjo, kecamatan Polanharjo, kabupaten Klaten.

Melihat kondisi tersebut akan menjadi hal yang aneh bagi kita, masyarakat kelas ekonomi menengah ke atas ataupun bagi mereka yang sudah punya pendidikan tinggi. Terkesan hura-hura dan tidak ada manfaatnya sama sekali. Barangkali kesenangan-kesenangan tersebut bisa difungsikan untuk kebutuhan sandang pangan. Secara kebangsaan, ekonomi ini akan terlihat buruk. Tapi, secara sosial mungkin terlihat baik.

Masyarakat masih bisa tertawa bersama dalam penderitaan. Acara 17-an menjadi bukan hanya sekedar hura-hura belaka namun juga membuktikan bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat sosialis. Secara kebangsaan Kondisi masyarakat yang masih bisa senang-senang dalam kondisi susah ini akan terlihat buruk karena masyarakat akan merasa sejahtera dan puas dengan kondisi ini. Pemerintah  Indonesia akan merasa puas dengan kondisi rakyat yang seperti ini. Yang menjadi pertanyaan apakah pemerintah indonesia dapat memberikan tawa untuk masyarakatnya?. Saya rasa tidak, ditengah kebijakan/kebijakan yang tidak pro rakyat., perhelatan  lomba 17an menjadi oase tersendiri untuk masyarakat Indonesia.

Di penghujung perhelatan lomba-lomba, kegiatan tirakatan atau teguran dilakukan oleh warga. Tirakatan Kegiatan untuk mendoakan arwah pahlawan yang telah berjuang untuk memerdekaan Indonesia. Bacaan shalwat, tahlil, dll mengiringi doa bersama. Itulah yang bisa warga berikan untuk mengisi kemerdekaan. Keterbatasan pendidikan yang warga terima sehingga tidak dapat memperingati hari kemerdekaan dengan bijaksana dan sesuai dengan kebudayaan Indonesia.

Bangsa Indonesia seharusnya bersyukur dapat memilik masyarakat  yang survive dalam menjalani hidup. Yang masih bisa tertawa bersama dalam keadaan susah. Bukan malah memanfaatkan daya survive masyarakatnya sendiri Dengan kerja malas-malasan dan kkn dimana-mana. Perhelatan dalam memperingati kemerdekaan juga bisa dijadikan indikator untuk melihat kondisi dan perkembangan masyarakat dewasa ini.

Sebenarnya saya kurang pantas untuk mengkomentari persoalaan 17-an dan tirakatan yang merupakan kegiatan rutin. Saya hanya anak dari peranakan Indonesia dan Yaman. Tetapi saya harap dengan tulisan ini dapat membuka mata untuk saya, masyarakat dan bangsa Indonesia. Akhir kata penulis berdoa agar Indonesia menjadi negara yang makmur dan sejahtera. Dirgahayu negeri-ku. Hidup Indonesia. Merdeka!

*) Mahasiswa Teknik Sipil 2012

Bagikan Artikel ini: