Bagikan Artikel ini:
IMG_20150818_103114_HDR_resize

Diskusi Kemerdekaan “Teladan Sultan Hamengkubuwoni IX” (Foto oleh: Sofiati Mukrimah)

“Bapak saya the most unique person in the world, dia seorang raja, menteri, letjen, gubernur, wakil Presiden,” ujar Gusti Prabukusumo, putra Sri Sultan Hamengkubuwono IX dalam diskusi Edisi Khusus Tempo dalam rangka kemerdekaan Republik Indonesia di Hotel Sheraton Mustika, Yogyakarta, Selasa, 18 Agustus 2014.

Diskusi yang mengangkat tema Teladan Sultan Hamengkubowo IX tersebut dimoderatori langsung oleh Redaktur Eksekutif Majalah Tempo, Budi Setyarso serta dihadiri oleh tiga pembicara yakni Pangeran Haryo Prabukusumo, Profesor Suhartono (Sejarawan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta), dan Rushdy Hoesein (Sejarawan). Ketiga pembica pun masing-masing menceritakan napak tilas tentang Sultan Hamengkubuwono IX dari kehidupan masa muda, masa kemerdekaan, sampai keseharian beliau.

Rushdy Hoesein, seorang sejarawan menceritakan bahwa Sultan Hamengkubuwono IX adalah sosok yang humanis, sangat menghormati dan menghargai keberadaan orang biasa atau rakyat kecil. Wujud lain kebiasaan beliau yaitu berbahasa jawa ketika berinteraksi dengan rakyatnya. Selain humanis, beliau juga berani mengeluarkan apa yang dimilikinya demi kepentingan NKRI.

Pada masa pemerintahan Presiden Soekarno, beliau dipercaya untuk menjabat posisi menteri perekonomian dan membawahi ekonom-ekonom muda. “Beliau menggunakan sistem ekonomi kerakyatan dan mampu menyelamatkan ekonomi Indonesia pada waktu itu,” ujar Prof. Suhartono. Sedangkan pada masa Presiden Soeharto, beliau banyak berhubungan dengan pihak luar dan menolak untuk kembali menjabat sebagai Wakil Presiden dengan alasan kesehatan dan secara moral tidak sesuai dengan hati nuraninya.

Terdapat kisah fenomenal tentang keputusan politik sultan segera setelah Soekarno-Hatta memastikan kemerdekaan Indonesia. Menurut Prof. Suhartono Sultan sebenarnya bisa saja meninggalkan Indonesia dan membentuk pemerintahan sendiri atau paling tidak meminta waktu kemudian baru menentukan keputusan. “Tapi dengan cepat, Sultan memutuskan untuk segera bergabung dengan Indonesia. Beliau langsung bersalaman dengan Soekarno-Hatta sesaat setelah peristiwa proklamasi kemedekaan RI,” ujar sejarawan dari UGM tersebut.

(Nur Riza Arnas)

 

Bagikan Artikel ini: