Bagikan Artikel ini:

PixelsOfficialPoster

Judul: Pixels

Sutradara: Chris Columbus

Pemain: Adam Sandler, Kevin James, Michelle Monaghan, Peter Dinklage, Josh Gad, Brian Cox, Ashley Benson, Jane Krakowski

Durasi: 105 menit

Tayang: 29 Juli 2015 (Indonesia)

 

Bisa dibilang awalnya film ini tidak menarik perhatian karena, well, posternya tidak mampu menarik perhatian saya dengan si bulat kuning dari game Pac-Man. Meski idenya cukup aneh, namun akhirnya saya menontonnya setelah yakin membaca review yang cukup positif.

Adalah Sam Brenner (Adam Sandler) yang sangat menyukai game di masa kecilnya yang dikisahkan terjadi pada tahun 1982, di mana game Space Invaders, Pac Man, dan Donkey Kong tengah populer. Di tahun tersebut, Sam mengikuti lomba game yang diadakan oleh NASA yang akhirnya dimenangkan oleh Eddie Plant (Peter Dinklage). Kompetisi ini kemudian direkam dan dimasukkan ke dalam ‘kapsul’ untuk kemudian diluncurkan ke luar angkasa untuk mencari tahu adanya kehidupan di luar sana. Namun 23 tahun kemudian, Amerika Serikat mendapat serangan ‘aneh’ yang mengubah benda serangannya menjadi kepingan-kepingan piksel. Serangan itu merupakan respon dari kapsul yang dikirim pada tahun 1982. Penghuni planet antah berantah itu menduplikat isi kapsul dan menjadikannya nyata untuk menyerang Bumi. Presiden Amerika Serikat yang diperankan oleh Kevin James akhirnya meminta bantuan Sam dan Ledlow (Josh Gad), teman bermainnya dulu.

Alur ceritanya cukup menarik diikuti meski tetap saja bagi saya ide penyerangan oleh game adalah ide yang sangat konyol. Belum lagi unsur komedi yang coba ditawarkan terkadang terasa garing dan bukannya menghibur, tapi malah menurunkan tensi penonton. Hal ini ditengarai karena Adam Sandler memang terkenal dengan guyonannya yang cukup rude. Namun porsi komedinya diatur cukup baik sehingga tidak sampai mengganggu penonton dalam menikmati grafis superior dari film ini plus action yang mengasyikkan untuk diikuti.

Sayangnya, ada beberapa hal yang terasa kurang dari film ini. Mungkin penonton akan bertanya-tanya kenapa alien dari planet di luar sana bisa mengartikan kapsul yang dikirim oleh NASA sebagai ajakan perang. Atau, kenapa bisa pasukan yang dikirim alien jatuh cinta dengan Ludlow. Dari segi cerita memang tidak ada yang benar-benar istimewa, kecuali ide konyol yang justru menarik itu.

Namun sebenarnya cerita cinta antara Brenner dan Violet (Michelle Monaghan) bisa menjadi cerita yang menarik karena keduanya sama-sama gengsi namun saling membutuhkan. Sayangnya hal itu tidak terlalu dieksplor oleh sang sutradara, mungkin khawatir akan mengganggu genre film ini sendiri yang lebih mengedepankan komedi dan sci-fi. Padahal, kisah Brenner dan Violet pastinya lebih seru daripada kisah cinta tidak jelas milik Eddie dan Serena Williams.

Yang jelas, film ini bisa jadi alternatif bagi kalian yang ingin bernostalgia dengan game-game jaman dulu, atau sekadar ingin menonton film bergrafis super, ringan, dan memiliki ide yang segar. Atau, bila kalian menyukai karakter yang memorable, imut, dan pastinya membuat kalian ingin membawanya pulang, kalian akan senang menonton film ini karena ada Q-Bert.

Don’t tell anybody that I killed a Smurf! – Violet

(Sofiati Mukrimah)

Bagikan Artikel ini: