Bagikan Artikel ini:

 

Aksi diam di depan Gedung Agung. Minggu, 16 Agustus 2015. (Foto : Alfin Fadhilah)

Aksi diam di depan Gedung Agung. Minggu, 16 Agustus 2015. (Foto : Alfin Fadhilah)

SOLIDpress.co, Yogyakarta – Telah hampir dua dekade kasus pembunuhan Fuad Muhammad Syafruddin alias Udin yang di limpahkan kepada pihak kepolisian belum menemukan siapa dalang pembunuhnya dan selama itu pula para aktivis dan pegiat pers tidak pernah bosan untuk memperingati kematian Udin setiap tanggal 16 Agustus.  Meski telah berjalan selama 19 tahun, kasus ini masih tetap di usut oleh pihak kepolisian seperti yang di sampaikan oleh  Hendrawan Setiawan, bahwa kasus ini belum mengalami kadaluarsa secara hukum. “Masyarakat khawatir bahwa kasus ini akan mengalami kadaluarsa secara hukum tapi kemudian Polda DIY bilang, ‘tidak, ini tidak kadaluarsa’,” ungkapnya, kemarin sore di bawah jembatan Kewek.

Pada peringatan yang di akhiri dengan memukul kentungan sebanyak 19 kali itu,  Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta, Pers Mahasiswa (Persma) Se-DIY, komunitas Street Art Yogyakarta dan Koalisi Masyarakat untuk Udin (K@MU) mendesak agar kepolisian menyelesaikan kasus Udin. Kasus Udin dapat menjadi pintu masuk akan kasus-kasus pelanggaran HAM yang lain. “ini kasus pertama yang  harapannya kalau bisa terungkap, bisa menjadi preseden yang baik untuk kasus-kasus yang lain, aparat bisa menuntaskan kasus ini,” tegas Hendrawan.

Menurut Taufik Nurhidayat selaku Sekjen PPMI (Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia) sekaligus yang terlibat dalam aksi diam tersebut menyampaikan, bahwa PPMI mengikuti kegiatan tersebut karena kedekatan PPMI sendiri dengan media pers. “Kita juga turut aktif melawan kasus ini, Itu alasan logis kenapa PPMI terlibat,” ujarnya. Dia juga mengajak Pers Mahasiswa yang lain juga ikut andil dalam kegiatan tersebut. “Jadi kalau Pers Mahasiswa adalah pers yang independen dan menjunjung independensi, harusnya Pers Mahasiswa turut bergerak atas kasus Udin,” Tambahnya.

Selain aksi diam di depan Gedung Agung, peringatan 19 tahun kematian udin juga dilanjutkan dengan pembuatan mural di jembatan Kewek. Dalam mural tersebut, komunitas Street Art Yogyakarta membuat ilustrasi yang mengatakan “Tuntaskan Kasus Udin”. Dalam mural tersebut, seniman juga menampilkan potongan berita yang di tulis oleh udin yang menjadi pengingat bahwa udin meninggal dianiaya oleh orang tak dikenal akibat kritiknya terhadap pemerintahan orde baru dan militer saat itu.

(Alfin Fadhilah)

Bagikan Artikel ini: