Bagikan Artikel ini:
HMI MPO UII saat Kuliah Perdana Jumat, 14 Agustus 2015 (Foto: Iqbal Ramadhan)

HMI MPO UII saat Kuliah Perdana Jumat, 14 Agustus 2015 (Foto: Iqbal Ramadhan)

SOLIDpress.co, Kampus Terpadu UII – Saat proses Kuliah Perdana tadi pagi berlangsung terlihat beberapa organisasi eksternal mahasiswa mengibarkan bendera dan atribut-atribut mereka didepan Auditorium Kahar Muzakir UII. Sejauh pantauan Solid, organisasi eksternal mahasiswa itu tertdiri dari Himpunan Mahasiswa Islam Indonesia (HMI)- HMI MPO maupun HMI DIPO-, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI).

Wahyudin Afrizal, selaku Ketua Koordinator Komisariat HMI MPO UII, mengatakan bahwa tujuan dari HMI ada ketika berlangsungnya Kuliah Perdana itu untuk menyambut mahasiswa dan memberikan informasi kepada mahasiwa bahwa organisasi pergerakan mahasiswa berwatak islamis itu ada dikampus UII, “Alasan sederhananya itu,” ujar mahasiswa yang biasa dipanggil Wahyu ini. Ia sendiri mengatakan bahwa mereka sudah datang dari awal sebelum kuliah perdana dimulai dan telah membagikan brosur-brosur kepada mahasiswa baru.

Serupa dengan Wahyu, Samsul Ariski sebagai Ketua PMII Komisariat Wahid Hasyim UII mengatakan bahwa PMII hadir untuk mengenalkan kepada mahasiswa baru soal PMII. Pun, lanjut Samsul, agar mahasiswa baru bisa mengetahui dan menyadari bahwa di level mahasiswa mereka sudah harus berorganisasi, “Apalagi organisasi pergerakan,” ucap Samsul. Menurut Samsul itu semua karena melihat realitas organisasi pergerakan mahasiswa hari ini sudah mulai luntur dan harus digerakan kembali.

Begitu juga dengan KAMMI.  Husna selaku Ketua KAMMI UII menjelaskan bahwa hadirnya KAMMI dalam kuliah perdana ini adalah untuk menyambut kedatangan mahasiswa baru serta sebagai ajang kaderisasi KAMMI. “ Kami ingin berkontribusi menyambut mahasiswa dan mahasiswi baru,” kata Husnah.

Menanggapi munculnya organisasi eksternal mahasiswa tersebut, Arifin Nursyamsi selaku Ketua Komisi Internal Dewan Permusyawaratan Mahasiwa UII (DPM UII) berpendapat bahwa hal itu kurang bijak. “Kurang bijak jika mahasiswa baru ditanamkan langsung hal-hal seperti itu, karena yang dilihat pada saat itu hanya bendera-bendera tersebut,” ujar Arifin. Kuliah perdana dan Ospek sendiri, lanjut dia, seharusnya lebih ditekankan pada internal UII dulu karena untuk kepentingan regenerasi kedepan dari lembaga kemahasiswaan UII.

Aldhi Setyawan, selaku Ketua DPM UII, berpendapat bahwasanya hadirnya organisasi eksternal dalam kuliah perdana itu kurang etis. Soalnya, menurut ia,  organisasi internal saja belum mengenalkan dirinya.”Bahkan tadi yang baru memperkenalkan diri cuma DPM dan LEM, itu pun sudah didahului oleh organisasi eksternal,” kata Aldhi.

Tetapi, Aldhi memang mengakui  bahwasanya sampai saat ini belum ada peraturan terkait keterlibatan eksternal dalam kuliah perdana maupun Ospek nantinya. Terkait hal ini, sebenarnya DPM UII sudah akan membuat peraturan terkait keterlibatan eksternal dalam agenda internal kampus tersebut.”Ada miss komunikasi dengan komisi 2 DPM UII. Tadi malam rapat koordinasi, tetapi untuk mengeluarkan peraturan juga susah, karena DPM UII tidak kuorum,” ujar Aldhi.

Namun, ia melanjutkan, sebenarnya ketika mencoba memposisikan diri menjadi kader organisasi eksternal itu, Aldhi berasumsi bahwa, “Mereka (organisasi eksternal) mungkin kebingungan soal kaderisasi, karena kita ketahui bersama bahwa masing-masing lembaga internal dan eksternal melihat Ospek adalah pintu regenerasi bagi sebuah organisasi.”

Terkait adanya tanggapan bahwa organisasi eksternal terkesan kurang bijak saat memasuki acara kuliah perdana, Wahyu berpendapat bahwa itu wajar-wajar saja, “Tidak perlu kawan-kawan HMI pusingkan.” Karena, lanjut Wahyu, saat ini mahasiswa butuh bukti bukan janji. “Seberapa jauh HMI memberikan peran dan kontribusi yang positif, In Shaa Allah mahasiswa bisa menerima, tetapi ketika HMI hanya mengumbar janji, hanya mengumbar kebesaran sejarah HMI tanpa ada kontribusi positif, saya rasa mahasiswa berhak menolak,” tanggap Wahyu.

Senada dengan Wahyu, Samsul Ariski sendiri berpendapat bahwa setiap orang bebas untuk menanggapi akan suatu gejala dan fenomena, “Kembali lagi ke niatan awal, bahwa kita (PMII) hadir disini dalam rangka mengajak seluruh mahasiswa baru untuk sama-sama bergerak sebagai tanggung jawab moral mahasiswa,” ujar mahasiswa jurusan Psikologi ini.

(Mufli Muthaher)

Reportase bersama Bowin Yuliati

Bagikan Artikel ini: