Bagikan Artikel ini:

Nama Mochtar Lubis mungkin sudah tidak asing di telinga. Ya, dialah penulis novel Harimau! Harimau!, novel yang disebut-sebut sebagai salah satu novel sastra terbaik Indonesia. Dibandingkan dengan novel Harimau! Harimau!, Senja di Jakarta jauh lebih dewasa, matang, dan penuh ‘gelitik’, di samping memang mengusung genre yang berbeda.

Novel yang mulai langka di pasaran ini menceritakan tentang korupsi besar-besaran yang terjadi di tahun 50-an. Namun begitu, tidak serta merta Mochtar Lubis menjadikan novel ini plek novel politik. Ia dengan sangat cerdas memasukkan politik sebagai unsur minor yang sesungguhnya justru menjadi kekuatannya.

Diawali dengan cerita Saimun dan Itam, dua petugas sampah yang merupakan masyarakat dunia ketiga yang mengambil peran cukup banyak di novel ini. Menariknya, Mochtar Lubis menamakan tiap babnya dengan nama bulan, yang artinya setiap bab merupakan kumpulan kejadian dari tokoh-tokohnya membentuk sebuah kesinambungan cerita. Cerita kemudian berpindah kepada tokoh-tokoh lain seperti Suryono, Raden Kaslan, Fatma, Neneng, Sugeng, Hasnah, Dahlia, Idris, Pranoto, Akhmad, Muhalim, dan lain-lain. Keseluruhan tokoh nantinya akan dipertemukan dalam sebuah kejadian yang menjadi pengikat dalam cerita ini.

Hal penting dari novel ini adalah pembaca bisa memahami kesalahan-kesalahan di masa lalu dengan sudut pandang yang berbeda. Di sini, Mochtar Lubis menggunakan kemampuannya sebagai wartawan untuk mengungkap korupsi yang terjadi besar-besaran di tahun 50-an. Kental sekali bahasa ‘kewartawanan’nya di sini. Bahkan, di beberapa bagian Mochtar Lubis membuat tak ubahnya sepertisebuah laporan investigasi.

Yang mengesankan, Mochtar Lubis sangat lihai dalam mencampur ‘rasa’ politik ke dalam sebuah konflik penuh drama. Di novel ini, tidak lantas Mochtar Lubis keluar dari pakemnya yang juga menulis kisah paling klise namun menarik dalam sejarah umat manusia: cinta. Namun, bila dicermati, sesungguhnya novel-novel Mochtar Lubis banyak menceritakan tentang cinta terlarang dan eksplorasi tubuh perempuan. Tapi tentu saja, dalam cetakan terbarunya bagian eksplorasi itu lebih ‘sopan’. Senja di Jakarta bisa dinikmati tanpa terasa seperti menonton berita politik yang menggelisahkan. Novel ini tentu saja hasil karya yang luar biasa karena tentunya Mochtar Lubis telah melakukan riset sana-sini.

Sayangnya, satu kelemahan novel ini adalah minimnya pendalaman karakter. Ya, apalagi kalau bukan karena terlalu banyaknya tokoh di dalamnya. Meski beberapa tokoh cukup menonjol, namun ada beberapa lainnya yang sama sekali asing, bahkan hanya sekali ‘numpang lewat’. Namun salah satu adegan yang hanya ‘numpang lewat’ itu justru punya daya lekat kuat karena mirip dengan plot film terbaik versi IMDB, The Shawsank Redemption. Sebuah adegan singkat yang menggelitik perasaan, bahwa pada dasarnya manusia membutuhkan batasan dan aturan dalam hidupnya. Diberinya kebebasan justru membuat manusia ketakutan dan merasa terancam. Selain itu, beberapa nama tokoh di dalam novel ini cukup mirip, sehingga cukup menyulitkan untuk mengingatnya.

Judul: Senja di Jakarta

Penulis: Mochtar Lubis

Penerbit: Yayasan Obor Indonesia

No. ISBN: 978-979-461-115-9

Tahun: 2009


Bagikan Artikel ini: