Bagikan Artikel ini:

CETAK BULETIN MARET FIXXNovel ini adalah buku pertama dari sebuah trilogi yang ditulis oleh Ahmad Fuadi yang merupakan mantan wartawan Tempo dan VOA. Novel ini telah memasuki cetakan keduapuluh satu pada tahun 2013 dan menyandang predikat sebagai “Indonesia’s Most Inspiring Novel” karena ceritanya yang banyak menginsipirasi orang banyak.

Novel yang diangkat dari kisah nyata ini menceritakan kisah pengalaman penulis menikmati pendidikan yang mencerahkan di Pondok Modern Gontor. Novel ini tidak ditulis dengan nama aslinya. Namun, semua tokoh utama, latar waktu, dan tempat mirip seperti aslinya.

Alif (Ahmad Fuadi) begitulah nama tokoh utama dalam novel ini tidak pernah menginjakkan kakinya diluar tanah minangkabau. Namun, tiba-tiba selepas kelulusannya di Madrasah TSanawiyah dia harus menuju sebuah desa di pelosok Jawa Timur. Ibunya ingin dia menjadi “Buya Hamka” walaupun Alif sendiri ingin menjadi “Habibie”. Dengan keputusan setengah hati dia mengikuti perintah ibunya: belajar di pondok.

Alur yang dibuat mundur mungkin menjadi pilihan yang tepat dalam novel ini, karena mengisahkan kehidupan Alif yang yang sekarang dengan kehidupan masa lalunya. Ahmad Fuadi menuliskan kisah nyata yang dia alami semasa menjadi santri di Pondok Modern Gontor. Disajikan dengan majas-majas yang indah menjadikan cerita dalam novel ini lebih berwarna.

Ahmad Fuadi menceritakan setting tempat dengan sangat sempurna. Mulai dari dia menceritakan tanah kelahiran seorang Alif di Minangkabau, saat perjalanan melintasi tanah Sumatera menuju desa di pelosok Jawa Timur dan pada saat belajar di Pondok Madani (Pondok Modern Gontor) tempat Alif menuntut ilmu. Fuadi menceritakan dengan sangat detail sehingga membawa pembaca terbawa suasana dalam novel tersebut.

Yang menginspirasi dalam novel ini adalah kisah saat Alif belajar di Pondok Madani. Di hari pertamanya, Alif sangat terkesima dengan “mantera” sakti Man Jadda Wajada: Siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan sukses. Sepotong kata asing bak mantera ajaib yang ampuh bekerja. Alif dipertemukan dengan kawan-kawan hebat karena hukuman jewer berantai, Alif berteman dengan Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung, dan Baso dari Gowa. Yang disebut dengan Sahibul Menara: para penghuni menara. Banyak pengalaman yang Alif dapatkan di PM. Salah satunya adalah berkumpul bersama kawan-kawan luar biasanya di bawah menara sambil membayangkan benua impian masing-masing.

Novel ini sangat recommended untuk dibaca, apalagi bagi kaum pemuda-pemudi yang sedang merantau saat ini. Mantera sakti sederhana yang dapat mengubah nasib seseorang. Alif mengurungkan niatnya untuk menuntut ilmu di ITB seperti kawan kecilnya Randai. Ia mengetahui bahwa ada yang lebih penting selain menuruti kemauan dirinya sendiri.

Secara keseluruhan novel ini cukup layak untuk menjadi bacaan santai untuk mengisi waktu luang. Walaupun terkadang bahasa-bahasa sastra dalam novel ini terkadang sulit dicerna namun novel ini sangat mengispirasi

 

Bagikan Artikel ini: